Rabu, 24 Agustus 2016

10 Tahun Aku Membecinya, Seumur Hidup Aku Mencintainya (Repost)

Ini hanyalah sebuah cerita. Sebuah cerita yang sangat berkesan. Namun saya tidak tahu siapa yang pertama kali mengunggah, sehingga di belakang judul saya tambahi repost. Tidak bermaksud mengunggah tanpa izin pengunggah cerita pertama, namun semua yang tertulis di sini adalah sebuah pesan yang dapat kita ambil hikmahnya. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

 Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

 Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

 Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Jumat, 11 Maret 2016

Gelembung Sabun

Kulirik jam yang bergantung di atas dinding kamarku. Jarum jam masih menunjukan pukul 16.00WIB. Akan tetapi langit terlihat gelap. Tertutup oleh awan. Benar saja, tak lama berselang rintik hujan ringan mulai membasuh tanaman di depan. Lekas-lekas kubuka daun jendela kamarku lebar-lebar, aku ingin menghirup bau pertama kali air hujan menyirami permukaan tanah ini. Ah, menyengat sekali baunya. Hujan deras pun mengguyur seantero pemandangan yang terhampar di hadapanku lewat jendela kamarku ini. Halaman dan seluruh batas pandang mataku hanya terlihat titik-titik air yang terlihat saling mendahului agar sampai pada bumi. Yah, ternyata aku masih harus menapaki jalan kehidupan yang masih terbentang panjang ini. Aku baru saja sampai di kota ini beberapa hari yang lalu. Kotak kardus sisa barang yang ada di kota sebelumnya baru datang sehari setelah kedatanganku di kota ini. Tak banyak barang yang berharga sebenarnya, toh, kebanyakan juga buku yang aku kumpulkan dan aku koleksi saat kuliah hingga bekerja. Aku tak mematok buku berjenis atau bergenre apa, banyak buku yg tidak relevan dengan studi yang aku ambil. Bahkan buku sastra dan novel terlalu mendominasi. Sambil menarik nafas panjang seraya memandang sesaat hujan di luar jendela, aku begegas segera merapikan tempat tidurku ini. Setelah selesei, aku duduk di samping tempat tidurku ini. Aku ingin menatapi jendela yg telah terbuka dengan riuhnya air hujan di luar sana. Apakah keputusan yang aku buat ini salah atau benar? Aku merenung cukup lama tentang hal ini. Berbagai peristiwa yang aku alamipun melintas berkelindan satu persatu dalam pikiranku. Hanya mendesah jawaban akhir yg keluar dari mulutku.

Tiba-tiba suara HP-ku membuyarkan apa yang aku renungkan. Lekas-lekas aku meraih HP-ku itu. Ternyata ada beberapa pesan teman dari kota lama. Kualihkan perhatianku pada sebuah pesan itu. Ada beberapa hal yang terjadii sejak meninggalkan kota lama itu. Memang aku tidak begitu paham dampak yang ditimbulkan setelah peninggalanku hari itu. Aku terkadang heran. Betapa seringnya teman-teman dekat baru menaruh perhatian istimewa kepada kita kalau keadaan sudah terlambat. Kenapa perhatian seperti itu tidak diberikan jauh-jauh hari sebelumnya? Dan kenapa pula seakan-akan hal-hal kecil menjadi penting bagi mereka? Aku tersenyum tipis, tidakkah mereka menyadari sebenarnya cerita mereka terkadang aku tidak ingin mendengarnya? Tetapi tak apalah. Kubiarkan saja pesan-pesan itu memenuhi inbox di HP-ku. Aku berusaha membalas dengan berbagai hipotesa bila itu masalah yg disodorkan. Aku berusaha membalas dengan santun bila itu pertanyaan tentang kabar yang diutarakan. Aku membalas semua pesan agar melegakan mereka. Aku tak mau membiarkan kegembiraan bermegah-megah di hati mereka menguap begitu saja bila aku balas dengan kosakata yg tidak pantas. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mampu memahami apa ati bersandiwara dalam kehidupan nyata. Namun juga untuk pertama kalinya baru kumengerti betul apa makna keberadaan seorang manusia di tengah masyarakat. Bahwa manusia adalah makhluk sosial, tak mungkin mampu melepaskan diri dari lingkungan hidupnya, dari seluruh tatanan di sekitarnya. Lebih-lebih jika hidup dalam komunitas yang telah menjadikan kata ''keluarga'' sebagi slogannya.

Aku baru meraih kesadaran ketika hawa dingin menerpa wajahku. Hujan memang belum reda betul hingga aku tersadar sesaat tadi. Jam dinding telah menunjukkan pukul 17.08WIB. Lama betul aku terdiam tadi. Masjid telah sayup-sayup mendengarkan bacaan murattalnya. Waktunya beranjak untuk beraktifitas segera agar tidak tertinggal jamaah menjelang maghrib nanti. Tiba-tiba mata ini tertarik dengan sebuah web kamus dalam bahasa Inggris. Dan yang tertulis di dalamnya membuatku tertegun, lagi dan lagi menatap tulisan yang ada dihadapanku ini. www.merriam-webster.com/dictionary/antihero yang tertulis seperti ini, antihero: a man character in a book, play, movie, etc. who does have the usual good qualities that are expected in a hero, or a protagonist or notable figure who is conspicuously lacking in heroic qualities. ''Anti-hero, sesosok tokoh yang secara mencolok memiliki kekurangan dalam hal kualitas-kualitas heroik atau tokoh protagonis " ~ Kamus Merriam-Webster. Sepertinya menyentil sekali kosakata ini. Jangan-jangan hal ini yang terjadi padaku selama ini. Aku menjadi orang yang seakan mencolok dengan memberi perhatian padahal aku menjadi seseorang yang protagonis. Aku hanya seorang yang mereka anggap bisa mengatasi berbagai masalah yang terjadi diantara mereka tetapi disaat yang sama pula aku menjadi seorangang pengkhianat atas kepercayaan mereka kepadaku. Aku tak tahu harus memikirkan apalagi. Aku memandang hujan itu sekali lagi. Betapa riuhnya air yang jatuh dari langit itu mengenai sisa-sisa sabun di depan jedelaku itu mebentuk gelembung-gelembung sabun namun setelah itu hilang tersaput air hujan untuk mengalir. Apakah hidupku akan berakhir seperti gelembung sabun yang terbentuk itu, yang indah memancarkan warna-warni sesaat setelah itu berpendar tiada tersisa?

Rabu, 09 Maret 2016

Serendipity

Serendipity yang artinya kesanggupan untuk menemukan sesuatu keterangan dengan tidak disengaja, mencari sesuatu yang lain dalam waktu bersamaan (kebetulan yang menguntungkan). Merupakan sebuah kebetulan yang tidak direncanakan tetapi didukung sepenuhnya oleh semesta untuk dapat terwujud. Atau istilah lainnya ialah takdir : hal yang terjadi pada seseorang atau apa-apa yang akan terjadi pada mereka dimasa yang akan datang khususnya sesuatu yang terjadi di luar kontrol mereka. Takdir menentukan segala kehidupan kita, dengan penggalan-penggalan kisah yang segalanya terkait erat dan telah diatur menjadi sebuah scene bagi kita. Dengan begitu apakah kita tak punya pilihan? Tentu tidak, meskipun telah ditentukan, kita tetap mempunyai pilihan sebab ada bentuk tanda-tanda yang akan mengisyaratkan sesuatu. Dengan tanda-tanda kita dapat membaca dan menterjemahkan pertanda tersebut dan akan menentukan kebahagiaan yang kita peroleh. Memang aneh semua: kebetulan yang menguntungkan, penemuan-penemuan tak disengaja, kesempatan yang hanya sekali, penyesalan yang tiada akhir, kekecewaan sebagai penyebab balas dendam, semua hal ini terkait bagaimana kita memilih untuk bersikap atas kejadian yang kita hadapi. Waktu dan saat yang tepat atas pilihan kita pun tetap sesuai dengan takdir yang sudah tertulis. Dalam Islam ada dua takdir yang diberikan kepada manusia, yaitu takdir mukalaq dan takdir mubrom. Takdir mukalaq ini ialah takdir yang tidak dapat dirubah yang telah ditentukan oleh-Nya. Dan takdir mubrom ini ialah takdir yang dapat dirubah oleh manusia dengan segenap usaha, iktiar dan doanya.

Kebetulan memang tidak dapat diciptakan, hal tersebut melaju dengan sendirinya sesuai dengan waktu yang terus berjalan. Dengan begitu ada hal yang lain yang turut mempengaruhi kebetulan yaitu sesuatu hal yang sedang kita kerjakan. Dalam bidang pekerjaan yang kita tekuni pastinya memerlukan komunikasi yang intens agar terjadi interkoneksi integratif terhadap semua orang agar tidak terjadi kegagalan dalam berkomunikasi. Komunikasi sebagai jembatan untuk membentuk takdir yang terjadi agar menjadi sebuah peristiwa nyata dan bukan sebuah kebetulan, hal ini memang terkesan dibuat-buat sebagai alasan. Adanya saat-saat atau sebuah momen yang kita nantikan akan memperbaiki kesempatan kita yang berarti dapat merubah kebetualan-kebetulan yang akan terjadi. Tanpa mengenyampingkan pertanda-pertanda yang ada disekitar kita. Pertanda sebagai bentuk kebetulan bahkan membutuhkan kecocokan sebagai isyarat agar dikenal menjadi ujian kemantapan hati. Dan apapun tidak dapat terlaksana bila seluruh semesta alam tidak mendukungmu.Pertaruhan yang tidak seimbang pastinya, tetapi cukup menjadi bahan renungan. Janganlah hidup dalam mimpi tapi hidupkan mimpimu tersebut dalam dunia nyata ini. Seluruh pengalaman yang kita dapatkan merupakan pengalaman yang sama sekali berbeda meskipun seolah-olah seperti de javu sekalipun.

Memang dalam kecocokan itu sulit dicari bila sudah tidak merasa nyaman. Tetapi takdir terkadang memberikan suatu pertanda yang berbeda dengan persepsi kita. Hal itu yang mudah membuat kita menjadi mudah putus asa maka dari situlah dibutuhkan rasa/intuisi yang yang kuat agar kebetulan yang menguntungkan tetap pada jalur yang kita lalui. Disinilah letak peranan komunikasi, meski takdir akan tetap mengirimkan dan selalu mengirimkan pertanda-pertanda agar kita mau mengikuti pertanda yang dibuat tersebut. Komunikasi yang dilakukan secara aktif juga membentuk simpu-simpul yang nantinya akan menjadi terikat kuat dan membentuk sebuah jaringan, dan jaringan-jaringan tersebut akan membentuk sebuah jembatan kesempatan. Dan itulah jembatan takdir yang kita jalani hingga akhir hayat kita. Setiap waktu kita mencari tahu dan masuk ke segala pintu kesempatan yang ada untuk menemukan takdir yang tertulis untuk kita. Irama yang tepat untuk menggapai hal tersebut berawal dari pemicu dan daya respon kembali. Sebab agar menemukan belahan-belahan kecil dari berseraknya simpul-simpul kecil dari takdir adalah menyelaraskan irama dengan semesta alam untuk menemukan secara utuh dari artian takdir yang sedang berjalan tersebut. Dan kebetulan hanyalah sebuah perantara, yang nyata adalah ketika garis kemampuan bertemu/bersinggungan/berpotongan pada titik temu yang sama dengan garis kesempatan. Sebab ketika Tuhan menutup pintu-Nya, Dia akan membuka jendela-Nya.

Selasa, 01 Maret 2016

Kota Angin, Angin Perubahan?

Pada akhirnya berakhir sudah petualanganku dalam mencari ilmu, pengalaman, teman, dan prestasi di kota ini. Kota yang sarat dengan berbagai permasalahan namun tak nampak dari luar sehingga membuat terlena sesaat. Kota yang menawarkan segala kerendahan hatinya untuk dihuni oleh para pejuang pencari ilmu dari berbagai belahan dunia manapun. Kota yang semakin menata diri untuk lebih baik namun tidak diimbangi oleh karakter pendatangnya yang terkadang terlalu arogan. Kota yang seluk beluknya menitipkan sejuta kenangan dan sejuta imajinasi yang sangat menyenangkan. Kota yang juga sering membuat menitikan air mata atas segala keangkuhan hati menerima semua segala penyesalan yang pernah dilalui. Kota yang bernama Yogyakarta, kota tujuan pertama bila aku selesei menempuh sekolah menengah atas. Namun setelah sekian lama menjadi bagian dari kota ini, ada tugas mulia yang mengharuskan untuk kembali ke kota lama. Kota yang sangat berkebalikan dengan kota Yogya dengan segala kemegahan dan kenyamanannya. Meski kota kecil yang tak menjanjikan apapun dibandingkan kota Yogya, ada sesuatu hal yang menjadikannya kota yang jauh dari hingar bingar ini menyimpan keistimewaan layaknya kota Yogya yang dengan jargonya Yogya Istimewa. 

Berakhirnya petualangan di kota ini memang keinginanku semata, secara tak terduga memang. Yang seharusnya sudah beberapa tahun yang lalu untuk segera keluar dari kota yang nyaman ini. Kembali ke kota kelahiran sangat berat memang, dimana ada anggapan bila seseorang telah merantau dan bila kembali berarti dianggap telah sukses secara finansial. Tidak demikian dengan diriku ini. Secara finansial telah hancur, secara lahir hanya bisa tersenyum getir, bahkan batin pun juga luluh lantak. Tidak ada yang dapat dibanggakan atas kembalinya diriku ini ke kota kelahiran yang sudah lama aku tinggalkan. Mungkin pelarian pantas disematkan kepada diriku. Lari dari semua keputus asaan, kegelisahan, kegundahan, keterpurukan dan penyesalan yang tiada berujung. Rasa negatif yang melekat padaku ini memang tidak semestinya aku bawa serta ke kota kelahiranku ini. Aku memahami semua solusinya yang aku hadapi ini. Tetap saja aku tidak bisa melepaskan kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan ini. Apakah aku harus menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku ini? Apakah aku harus? Tentu jawaban yang logis adalah ini adalah kesalahanku semata. Atas apa yang aku usahakan dan atas apa yang aku selalu panjatkan menjadi doa keseharian. Menilik dari masa saat aku menginjakan ke kota Yogya ini, aku telah mengarahkan hatiku untuk membersitkan suatu hal yang tidak seharusnya aku bersitkan. Meski semua telah diamini dan terlaksana. Ada rasa penyesalan yang mendalam setelah ada kejadin-kejadian tersebut. Kenapa harus berakhir dengan tidak nyaman. Sudahlah, itu adalah masa lalu yang menjadikan seorang laki-laki dan perempuan menjadi dewasa menurut versi masing-masing. Dewasa yang salah satunya memendam rasa benci sekaligus rasa kasih dan harap, dan yang salah satunya menjadikan masa lalu bukanlah apa-apa dan hanya sinaran yang melintas sesaat. 

Ada harapan meski kecil, yang seakan kegelapan diterangi oleh lilin kecil. Ada angin yang tiada berhenti berhembus meski dilain musim. Ada perubahan meski memang tak segamblang di kota sebelumnya. Angin perubahan selalu berhembus menemani siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi manusia baik, yang menerima manusia lainnya dalam keadaan apapun. Manusia yang tidak memaksakan keinginan namun manusia yang mengajarkan kehendak untuk membantu manusia lainnya. Manusia yang berada di kota angin yang membawa perubahan disetiap persinggahannya. Kota yang berbeda dengan kota lainnya. Mungkin disinilah jalan yang harus ditempuh meski ada secuil asa untuk mengejar mimpi ke negeri kincir angin, atau negeri yang terkenal akan bunga sakuranya. Ada sejuta harapan untuk berharap ilmu yang didapat ini tidak sia-sia di kota angin ini, kota yang akan membawa angin perubahan. Semoga!


Rabu, 13 Januari 2016

Manajemen Yang Apa Adanya


Ketika kita pertama kali masuk dalam dunia organisasi, seringkali kita berusaha melakukan semuanya dengan usaha kita yang terbaik. Namun seiring berjalannya waktu kita memahami dunia organisasi adalah dunia untuk membaca segalanya, dunia untuk mencoba segalanya, dunia untuk menemukan dan mengelola semua sumber daya yang ada, dan dunia yang penuh permasalahan sangat kompleks antar individunya. Dengan begitu mudah dipahami untuk menjadi bagian dari manajerial di tahun kedua ataupun berikutnya sangat enggan dengan berbagai alasan. Dengan alasan tenaga telah dioptimalkan di tahun pertama, mengejar hal-hal lain yang diimpikanya, ingin mencoba tantangan baru di organisasi yang lain, dan sebagainya. Begitulah kehidupan organisasi yang memang sebagai wadah pembelajaran manajer pemula. Organisasi yang akan kita bahas ini adalah sebuah organisasi di tingkatan mahasiswa yaitu organisasi unit kegiatan mahasiswa. Kita menyadari dalam organisasi mahasiswa ini yang keuntungan finansial bukanlah sebagai tujuan utama. Dan organisasi kemahasiswaan ini merupakan organisasi gotong royong untuk menghidupinya, namun dalam organisasi gotong royong ini yang berazaskan kekeluargaan akan menjadi sebuah jawaban bagaimana berkarya dengan baik dalam keadaan sumber daya yang kurang memadai. Kita memang memiliki pilihan dan lebih ahli dalam beberapa hal atau bahkan satu hal dibanding dengan orang lain (sebagai akibat karena hal-hal itu menjadi pilihan kita). Dengan adanya organisasi mahasiswa ini diharapakan adanya pengembangan diri (pengembangan dalam hal keahlian menangani orang lain, pengembangan keahlian yang sudah ada menjadi lebih terperinci lagi, pengembangan dan mengajarkan keahlian pada orang lain) dan konsep dasarnya adalah saling bertukar ilmu. Namun dengan adanya transfer of knowledge tadi, jangan juga menghambat perkembangan antar individu. Pengalaman yang sudah kita dapatkan jangan menjadi sebuah patokan akan keberhasilan untuk orang lain namun jadikan pengalaman kita tersebut menjadi sebuah keyakinan dan karakteristik pribadi untuk menjadi modal yang diperlukan untuk menjadikan sebuah organisasi lebih berkembang secara efektif dan efisien.

Kita memiliki sebuah pengalaman yang sangat besar. Sembilan puluh lima persen dari apa yang kita pelajari berasal dari pengalaman dengan hanya lima persen berasal dari buku, pelatihan dan sebagainya (patut diteliti, bukan?). Jika ilmu-ilmu yang didapatkan dari buku, pelatihan dan lainnya tersebut dapat dihubungkan dan diselaraskan dengan pengalaman yang kita miliki, maka ilmu-ilmu tersebut akan menjadi mitra kita yang setara dan pada akhirnya akan menjadi wawasan yang dapat memperbaiki kinerja kita. Merupakan awal yang baik bila setiap gagasan yang terbentuk dari ide-ide “aneh” setiap individu dapat ditampumg oleh organisasi untuk dijadikan wawasan yang berkembang menjadi sebuah program kerja. Memang, hampir semua gagasan yang ditawarkan tidak dapat diakomodir semuanya dan sepenuhnya, setidaknya kumpulan dari semua gagasan tersebut yang masuk akal dapat dijadikan sebuah program kerja. Gagasan besar tidak didapat dari rasa skeptis, melainkan dari uji coba yang dikelola dan mudah diterapkan untuk keberhasilan bersama. Dari gagasan tersebut kita belajar untuk beruji coba, belajar dari pengalaman mencoba melakukan sesuatu, memerhatikan apa yang tidak berhasil, dan mengubah pendekatan kita sampai kita menemukan yang cocok untuk diterapkan pada organisasi kita. Kesalahan terbesar yang dibuat orang ketika mencoba mengasumsikan bahwa cara memberdayakan orang lain dengan cara dan gaya yang sama. Kita tidak pernah tahu bahwa itu adalah kesalahan terbesar bagi kita sebagai pemimpin organisasi ataupun kepala divisi di sebuah organisasi. Jangan berasumsi. Cara yang tepat adalah amati sejenak, cermati perilakunya, ketahui sikapnya lalu terapkan pendekatan yang bagaimana yang akan dipilih. Memiliki keahlian berkomunikasi yang luar biasa/istimewa sangat menjamin kesuksesan kita dalam penerapan pendekatan ini, tapi jika saja kita tidak yakin bahwa berbicara tidak pernah menyeleseikan apapun maka keahlian itu tidak akan ada manfaatnya. Sangat penting menemukan dan menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pendekatan. Sebab yang seharusnya adalah mengembangkan suatu  cara mengelola individu-individu yang berbeda menjadi individu yang istimewa, bukan cara bagaimana pengrusakan individu bagi setiap yang terlibat dalam organisasi.

Apabila kita seperti kebanyakan organisasi yang hanya pandai dalam berkonsep namun tidak dapat meyakinkan dalam menjelaskan konsep tersebut, maka kita hanya handal dalam menuliskan sebuah cerita tapi tidak tahu alur cerita itu akan dibawa kemana. Dalam manajerial sebuah organisasi memang membutuhkan seorang manajer handal yang bisa melihat masa depan. Bukan mendahului takdir, namun menyiapkan konsep yang masuk akal, menjelaskan konsepnya secara meyakinkan, mencoba melakukan sesuatu berdasarkan intuisi (mengetahui sesuatu tanpa tahu bagaimanacara kita mengetahuinya) agar konsep itu berjalan dengan baik, dan  kita membutuhkan pemicu-pemicu dari alam bawah sadar kita untuk mensinkronkan itu semuanya. Kita semua tahu bagaimana hal itu bekerja. Memang lebih mudah mengatakannya daripada melaksankannya. Suatu keyakinan yang diubah atau dimanipulasi sedikit saja maka akan menjadi motivasi yang dapat memicu perilaku tanpa menuntut kekuatan kemauan yang besar. Perubahan keyakinan tersebut hanya memerlukan sepersekian detik untuk mencapainya dan akan bertahan untuk selama-lamanya. Hal itulah yang ingin dicari dan dicapai, keefektifan. Keefektifan adalah konsep ketika orang-orang berbahagia untuk melakukan sesuatu karena alasan-alasan yang sehat. Inilah manajemen apa adanya yang orang-orang bekerja didalamnya menjadi bahagia dengan alasan yang sehat (mereka benar-benar melihat segala hal sebagaimana adanya dan tidak sebagaimana yang mereka inginkan). Sebab ada juga orang orang yang bahagia tapi bersifat khayalan atau tidak bahagia sebab menjadi korban atau karena alsan-alasan yang tidak sehat (mereka mengubah apa yang mereka lihat untuk disesuaikan dengan kenyataan internal mereka). Jika kita tidak berbahagia dengan respon dari organisasi yang kita ikuti, tidak memperoleh pengalaman-pengalaman yang kita inginkan maka kita boleh saja mempunyai opsi. Opsi pertama, lanjutkan terus apa adanya, seperti seorang memerankan korban melodrama sendiri, menyalahkan situasi atau orang lain, dan menyeret mereka bersama dengan kita. Opsi kedua, melihat kembali hasil-hasil yang telah lampau, kemudian kita mengubah mereka sesuai dengan pengalaman kita tersebut agar kita senang. Atau opsi ketiga, kita beranggapan bahwa apa yang kita dapat adalah program kerja yang kita inginkan dan telusuri kembali keyakinan awal yang mendorong perilaku organisasi, jika kita setuju dengan keyakinan-keyakinan itu maka kembalilah ke opsi kedua dan bila tidak setuju maka periksa kembali hal itu kemudian kembangkan alternatif-alternatif lain untuk mengubah program kerja dan perilaku organisasi serta capailah hasil-hasil yang berbeda dengan lebih baik. 

Dan pada akhirnya mari kita membuatnya tetap menjadi kenyataan bahwa konsep dan hasil apapun pada dasarnya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi, apa yang saya tulis ini semoga dapat memberikan yang terbaik untuk organisasi kita. Apa yang saya tulis ini akan bekerja hanya bila kita menggunakan nalar dan wawasan ini sebagai pemicu untuk mengangkat pengalaman dan wawasan intuitif kita, sebab pada akhirnya hanya wawasan dan konsep yang dapat dijelaskan secara meyakinkan yang dapat memperbaiki kinerja kita untuk organisasi. Dan jangan lupa untuk sering-sering bertanya pada diri kita masing-masing, apakah kita bahagia dengan hasil-hasil yang telah dicapai? Bagaimana selanjutnya?

Referensi :

Real Coaching and Feedback, JK Smart 2003 (Karen Smart).

Selasa, 22 Desember 2015

Ketika...

Entah kenapa aku selalu ingin menitikkan air mata saat membaca buku yang berjudul KMGP (Ketika Mas Gagah Pergi) ini. Selalu saja berkaca-kaca setelah membacanya. Teringat saat pertama kali membacanya di tahun 2002 silam. Padahal cerita ini dimuat di majalah Annida 1993 yang ketika saat itu masih dalam usia sekolah dasar. Dan Saat KMGP terbit sebagai buku untuk pertama kalinya tahun 1997-pun masih berseragam biru putih. Lama sekali jedanya untuk dapat membaca karya sastra ini. Ketika membacanya pun seakan menemukan oase di padang gersang, yup, menemukan sesosok tokoh panutan yang akan menjadi obsesi seumur hidup. Di dalam cerita dikisahkan tentang seseorang bernama Gagah yng memiliki nama adik Gita. Meski hanya seorang tokoh imajiner, namun cara menggambarkan sesosok tokoh ini membuat karismanya seoalah mampu hadir dalam kehidupan sehari-hari yang saat itu sangat sulit mencari seorang pemuda yang islami, idealis, dan cerdas. Dari hari kehari berharap menjadi sebuah kenyataan bila dapat menemui sesosok tersebut. Dan hal itulah mengantarkanku kepada kota pelajar ini, berharap menemukan sesosok tersebut. Memang banyak pemuda yang hampir menyerupai sesosok Mas Gagah dalam artian keislamannya namun masih dirasa ada yang kurang. Entahlah apa itu.

Sudahlah, kita membahas dari segi cerita saja jangan mengusik keimanan yang akan divisualisasikan ini. Cerita yang memang sangat menyentuh perasaan ini. Dalam ceritanya yang sarat dengan pembelajarn untuk pemeluk agama Islam. Memang sangat jarang sebuah cerita yang bertahan cukup lama ini  (dari 1993 hingga 2015) yang gaungnya tetap sama sehingga dapat mengispirasi. Tak terasa 23 tahun dari hanya sebuah cerita untuk tugas kuliah menjadikannya sebuah karya luar biasa yang sangat diimpikan dalam bentuk film ini. Ceritanya dapat kalian baca di sini sastrahelvy. Meskipun wacana memfilmkan KMGP sudah dimulai pada tahun 2004. Itu 11 tahun lalu! Namun baru bisa terealisasi 2015 karena susahnya mencari house production yang memiliki spirit sama dalam mewujudkan KMGP ke layar kaca. Memang sangatlah sulit menanamkan film islam tetapi benar-benar mencerminkan Islam itu sendiri sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. kalian bisa lihat skuelnya di sini kmgp the movie.
Akhir kalimat yang tidak ingin aku tulis adalah.... sungguh luar biasa dan sangat istimewa... selalu terharu dengan mata berkaca-kaca bila membaca KMGP ini. Semoga film yang akan datang dapat memenuhi ekpektasi pada sesosok mas gagah yang selalu gagah, wangi dan tampan ini. Cerita bisa dibaca di sini ketika-mas-gagah-pergi.

Sabtu, 27 Juni 2015

Patah Semangat

Sebuah cerita dari teman pelatih tentang permasalahan dalam kepelatihan olahraga prestasi ataupun profesional. Permasalah tersebut ialah patah semangat. Patah semangat yaitu padam semangat dalam latih dan melatih diakibatkan karena stress. Pelatih yang mengalami patah semangat biasanya merasa tak berdaya, mudah marah dan kurang kendali atas lingkungannya (menganggap metode latihannya sudah tidak memungkinkan dan diperparah oleh rasa frustasi). Patah semangat paling sering terjadi pada pelatih yang antusias, berdedikasi dan penuh perhatian. Patah semangat ini pun bukanlah suatu fenomena khusus yang dialami oleh pelatih olahraga besar, olahraga apapun dan pada tingkat mana pun dapat menderita gejala ini. Umumnya, pelatih yang mengalami patah semangat tersebut berpikiran tertutup dan jadi tidak luwes. Banyaknya waktu yang dihabiskan dalam tugas kepelatihan mungkin meningkat, namun lebih sedikit yang terseleseikan. Akhirnya terjadilah patah semangat yang menghinggapi pelatih-pelatih tersebut menjadi tidak sehat, terlalu lelah dan merasa tertekan.
   Olahraga prestasi tidak mungkin belajar otodidak, pastinya ada seorang pemandu yang ahli dalam bidang dan cabang yang dipilih. Pemandu pun tak dapat memandu dan melatih bila tidak ada sertifikat yang melegalkan program latihan yang diterapkannya. Hidup sebagai seorang pemandu olahraga prestasi itu sebenarnya sangat menyenangkan meski kadang sangat dipengaruhi kapabilitas anak didik yang dipandunya. 
    Ada sebuah cerita tentang pelatih yang patah semangat. Katakanlah namanya pelatih "X". Pelatih "X" biasanya antusias dan senang memenuhi impian seumur hidupnya untuk melatih. Pada 10 tahun pertama dalam melatih timnya benar-benar kelihatan berhasil. Olahragawan, orang tua dan guru kagum atas kemampuan kepemimpinannya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berpilir tentang kepelatihan, tentang melatih, mengamati pertandingan, mempelajari film-film pertandingan dan mempersiapkan pertandingan. Pelatih X ini selalu tinggal lama setelah latihan bersama olahragawan. Para orang tua sering menelepon ataupun sms (short message service) untuk menyatakan bahwa dialah yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka. Sanjungan dan terima kasih datang tak henti-hentinya. Seiring waktu berjalan, pelatih X akhirnya menyadari bahwa dirinya adalah satu-satinya orang yang benar-benar memperhatikan olahragawan sebagai orang, manusia dewasa dikemudian hari. Orang lain nampaknya memperlakukan kepelatihannya sebagaikerja sambilan. Mereka hanya mempunyai sedikit waktu bagi olahragawannya. Mereka bersembunyi di kantornya dan mengasingkan diri sedapat-dapatnya. Bahkan olahragawan dari pelatih lain minta tolong pada pelatih X ini. Pelatih mereka nampaknya kurang begitu peduli dan perhatian. Akhirnya, pelatih X mulai menyadari bahwa keuangannya tidak mencukupi. Guru dan pelatih lain keadaannya lebih baik. Mereka menambah pendapatannya dengan pekerjaan lain sementara pelatih X mengurusi olahragawannya. Para pengurus tahu apa yang terjadi,tetapi nampaknya mereka tidak peduli. Merekamenyatakan padanya untuk tidak terlalu serius menanggapi pekerjaannya sebagai pelatih. Pelatih X mula-mula memperhatikannya meskipun tidak melakukan tindakan apapun. Ia mulai mempertanyakn nilai-nilainya dan mulai khawatir bahwa ia tidak dapat memenuhi kebutuhan finansial keluarganya. Untuk kali pertama pelatih X mempertanyakan tanggungjawabnya dalam melatih. Tetap melatih dengan bayaran yang kurang cukup untuk kebutuhannya atau berhenti dan melupakan dunia kepelatihan. Bahkan keluarganya sempat membujuk untuk berhenti melatih. Ketika pelatih X pada keputusan berhenti melatih, banyak para orang tua olahragawan tidak memahami. Merekan pikir pelatih X sudah malas dan tidak peduli lagi. 
    Begitulah akhir dari riwayat seorang pelatih. Mereka dituntut mengembangkan suatu tanggungjawab yang kuat atas nilai-nilai tertentu namun tidak didukung dengan finansial yg cukup. Kemantapan dan dedikasi sebagai pelatih sangatlah penting bahkan jauh lebih bernilai daripada kemenangan, tetapi perhatian dan apresiasi kita atas kerja keras pelatih jangan dilupakan. Mereka juga ada keluarga yang harus dicukupi kebutuhan finansialnya. Dengan demikian agar para pelatih tetap bahagia dalam melatih dan tidak ada hutang untuk menghidupi keluarganya.

Bacaan yang dianjurkan
- Dasar-dasar ilmiah kepelatihan (Russell R. Pate)

Selasa, 17 Maret 2015

Tanda Pencapaian Neng Ning Nung Nang

     Neng : sembah raga Jumeneng,menjalankan “syariat”. Namun makna syariat di sini mempunyai dimensi luas. Yakni dimensi “vertikal” individual kepada Tuhan, maupun dimensi sosial “horisontal” kepada sesama makhluk. Neng, pada hakekatnya sebatas melatih dan membiasakan diri melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, dan lebih utama untuk sesama tanpa pilih kasih. Misalnya seseorang melaksanakan sembahyang dan manembah kepada Tuhan dengan cara sebanyak nafasnya, guna membangun sikap eling dan waspadha. Neng adalah tingkat dasar, barulah setara “sembah raga” misalnya menyucikan diri dengan air, mencuci badan dengan cara mandi, wudlu, gosok gigi, upacara jamasan, tradisi siraman dsb. Termasuk mencuci pakaian dan tempat tinggal. Orang dalam tingkat “neng”, menyebut dan “menyaksikan” Tuhan barulah melalui pernyataan dan ucapan mulut saja. Kebaikan masih dalam rangka melatih diri mengendalikan hawa nafsu negatif, dengan bermacam cara misalnya puasa, semadi, bertapa, mengulang-ulang menyebut nama Tuhan dll. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu agar bersifat positif dengan cara misalnya sedekah, amal jariah, zakat, gotong royong, peduli kasih, kepedulian sosial dll. Melatih diri untuk menghargai dan mengormati leluhur, dengan cara ziarah kubur, pergi haji, mengunjungi situs-situs sejarah, belajar dan memahami sejarah, dst. Melatih diri menghargai dan menjaga alam semesta sebagai anugrah Tuhan, dengan cara upacara-upacara ritual, ruwatan bumi, larung sesaji, dst. Tahapan ini dilakukan oleh raga kita, namun belum tentu melibatkan HATI dan BATIN kita secara benar dan tepat.Kehidupan sehari-harinya dalam rangka latihan menggapai tataran lebih tinggi, artinya harus berbuat apa saja yg bukan perbuatan melawan rumus Tuhan. Tidak hanya berteori, kata kitab, kata buku, menurut pasal, menurut ayat dst. Namun berusaha dimanifestasikan dalam perilaku dan perbuatan kehidupan sehari-hari. Perbuatannya mencerminkan perilaku sipat zat (makhluk) yang selaras dengan sifat hakekat (Tuhan). Tanda pencapaiannya tampak pada solah. Solah artinya perilaku atau perbuatan jasadiah yang tampak oleh mata misalnya; tidak mencelakai orang lain, perilaku dan tutur kata menentramkan, sopan dan santun, wajah ramah, ngadi busana atau cara berpakaian yang pantas dan luwes menghargai badan. Akan tetapi perilaku tersebut belum tentu dilakukan secara sinkron dengan BAWA-nya. BAWA yakni “perilaku” batiniah yang tidak tampak oleh mata secara visual.Titik Lemah Pada tataran awal ini meskipun seseorang seolah-olah terkesan baik namun belum menjamin pencapaian tataran spiritual yang memadai, dan belum tentu diberkahi Tuhan. Sebab seseorang melakukan kebaikan terkadang masih diselimuti rahsaning karep atau nafsu negatif; rasa ingin diakui, mendapat nama baik atau pujian. Bahkan seseorang melakukan suatu kebaikan agar kepentingan pribadinya dapat terwujud. Maka akibat yang sering timbul biasanya muncul rasa kecewa, tersinggung, marah, bila tidak diakui dan tidak mendapat pujian. Kebaikan seperti ini boleh jadi bermanfaat dan mungkin baik di mata orang lain. Akan tetapi dapat diumpamakan belum mendapat tempat di “hati” Tuhan. Kredit point nya masih nihil. Banyak orang merasa sudah berbuat baik, beramal, sodaqah, suka menolong, membantu sesama, rajin doa, sembahyang. Tetapi sering dirundung kesialan, kesulitan, tertimpa kesedihan, segala urusannya mengalami kebuntuan dan kegagalan. Lantas dengan segera menyimpulkan bahwa musibah atau bencana ini sebagai cobaan (bagi orang-orang beriman).Pada tataran ini, seseorang masih rentan dikuasai nafsu ke-aku-an (api/nar/iblis). Diri sendiri dianggap tahu segala, merasa suci dan harus dihormati. Siapa yang berbeda pendapat dianggap sesat dan kafir. Konsekuensinya; bila memperdebatkan (kulit luarnya) ia menganggap diri paling benar dan suci, lantas muncul sikap golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Ini sebagai ciri seseorang yang belum sampai pada intisari ajaran yang dicarinya. 
     Ning: sembah kalbu Wening atau hening, ibarat mati sajroning urip; kematian di dalam hidup. Tataran ini sepadan dengan tarekat. Menggambarkan keadaan hati yang selalu bersih dan batinnya selalu eling lan waspadha. Eling adalah sadar dan memahami akan sangkan paraning dumadi (asal usul dan tujuan manusia) yang digambarkan sebagai “kakangne mbarep adine wuragil”  Waspadha terhadap apa saja yang dapat menjadi penghalang dalam upaya “menemukan” Tuhan (wushul). Yakni penghalang proses penyelarasan kehidupan sehari-hari (sifat zat) dengan sifat hakekat (Tuhan). Ning dicapai setelah hati dapat dilibatkan dalam menjalankan ibadah tingkat awal atau Neng; yakni hati yang ikhlas dan tulus, hati yang sudah tunduk dan patuh kepada sukma sejati yang suci dari semua nafsu negatif. Hati semacam ini tersambung dengan kesadaran batin maupun akal budi bahwa amal perbuatan bukan semata-mata mengaharap-harap upah (pahala) dan takut ancaman (neraka). Melainkan kesadaran memenuhi kodrat Tuhan, serta menjaga keharmonisan serta sinergi aura magis antara jagad kecil (diri pribadi) dan jagad besar (alam semesta). Tataran ini dicapai melalui empat macam bertapa; tapa ngeli, tapa geniara, tapa banyuara, tapa mendhem atau ngluwat.
  1. Tapa ngeli, harmonisasi vertikal dan horisontal. Yakni berserah diri dan menselaraskan dengan kehendak Tuhan. Lalu mensinergikan jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).
  2. Tapa geniara, tidak terbakar oleh api (nar) atau nafsu negatif yakni ke-aku-an. Karena ke-aku-an itu tidak lain hakekat iblis dalam hati.
  3. Tapa banyuara, mampu menyaring tutur kata orang lain, mampu mendiagnosis suatu masalah, dan tidak mudah terprovokasi orang lain. Tidak bersikap reaksioner (ora kagetan), tidak berwatak mudah terheran-heran (ora gumunan).
  4. Tapa mendhem, tidak membangga-banggakan kebaikan, jasa dan amalnya sendiri. Terhadap sesama selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur. Sadar bahwa manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan tidak tergantung suku, ras, golongan, ajaran, bangsa maupun negaranya. Tapa mendhem juga berarti selalu mengubur semua amal kebaikannya dari ingatannya sendiri. Dengan demikian seseorang tidak suka membangkit-bangkit jasa baiknya. Kalimat pepatah Jawa sebagai berikut: tulislah kebaikan orang lain kepada Anda di atas batu, dan tulislah kebaikan Anda pada orang lain di atas tanah agar mudah terhapus dari ingatan.Titik Lemah Jangan lekas puas dulu bila merasa sudah sukses menjalankan tataran ini. Sebab pencapaian tataran kedua ini semakin banyak ranjau dan lobang kelemahan yang kapan saja siap memakan korban apabila kita lengah. Penekanan di sini adalah pentingnya sikap eling dan waspadha. Sebab kelemahan manusia adalah lengah, lalai, terlena, terbuai, merasa lekas puas diri. Tataran kedua ini melibatkan hati dalam melaksanakan segala kebaikan dalam perbuatan baik sehari-hari. Yakni hati harus tulus dan ikhlas. Namun, ketulusan dan keikhlasan ini seringkali masih menjadi jargon, karena mudah diucapkan oleh siapapun, sementara pelaksanaannya justru keteteran. Dalam falsafah hidup Kejawen, setiap saat orang harus selalu belajar ikhlas dan tulus setiap saat sepanjang usia. Belajar ketulusan merupakan mata pelajaran yang tak pernah usai sepanjang masa. Karena keberhasilan Anda untuk tulus ikhlas dalam tiap-tiap kasus belum tentu berhasil sama kadarnya. Keikhlasan dipengaruhi oleh pihak yang terlibat, situasi dan kondisi obyektifnya, atau situasi dan kondisi subyek mental kita saat itu.

     Nung: sembah cipta Kesinungan, yakni dipercaya Tuhan untuk mendapatkan anugrah tertentu. Orang yang telah mencapai tataran Kesinungan dialah yang mendapatkan “hadiah”atas amal kebaikan yang ia lakukan. Ini mensyaratkan amal kebaikan yang memenuhi syarat, yakni kekompakan serta sinkronisasi lahir dan batin dalam mewujudkan segala niat baik menjadi tindakan konkrit. Yakni tindakan konkrit dalam segala hal yang baik misalnya membantu & menolong sesama. Syarat utamanya; harus dilakukan terus-menerus hingga menyatu dalam prinsip hidup, dan tanpa terasa lagi menjadi kebiasaan sehari-hari. Pencapaian tataran ini sama halnya laku hakekat. Laku hakekat adalah meliputi keadaan hati dan batin; sabar, tawakal, tulus, ikhlas, pembicaraannya menjadi kesejatian (kebenaran), yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada.Tataran ini ditandai oleh pencapaian kemuliaan yang sejati, seseorang mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan kelak setelah ajal. Pada tahap ini manusia sudah mengenalakan jati dirinya dan mengenal lebih jauh sejatinya Tuhan. Manusia yang telah lebih jauh memahami Tuhan tidak akan berfikir sempit, kerdil, sombong, picik dan fanatik. Tidak munafik dan menyekutukan Tuhan. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat menghormati keyakinan orang lain. Sikap ini tumbuh karena kesadaran spiritual bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersumber pada Yang Maha Tunggal, hakekatnya adalah sama. Cara atau jalan mana yang ditempuh adalah persoalan teknis. Banyaknya jalan atau cara menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan itu Mahaluas tiada batasnya. Ibarat sungai yang ada di dunia ini jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya; ada yang dangkal, ada yang dalam, berkelok, pendek dan singkat, bahkan ada yang lebar dan berputar-putar. Toh semuanya akan bermuara kepada Yang Tunggal yakni “samudra luas”. Nah, orang seperti ini akan “menuai” amal kebaikannya. Berkat rumus Tuhan di mana kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kebaikan yg anda berikan, “buahnya” akan anda terima pula. Namun demikian kebaikan yang anda terima belum tentu datang dari orang yang sama, malah biasanya dari pihak lainnya. Kebaikan yang anda peroleh itu merupakan “buah” dari “pohon kebaikan” yang pernah anda tanam sebelumnya. Selebihnya, kebaikan yang anda lakukan akan menjadi pagar gaib yang selalu menyelimuti diri anda. Singkat kata, pencapaian Nung, ditandai dengan diperolehnya kemudahan dan hikmah yang baik dalam segala urusan. Pagar gaib itu akan membuat kita tidak dapat dicelakai orang lain. Sebaliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Dalam terminologi Jawa inilah yang disebut sebagai “ngelmu beja”.Untuk meraih tataran ini, terlebih dahulu kita harus mengenal jati diri secara benar. Dalam diri manusia setidaknya terdapat 7 lapis bumi yang harus diketahui manusia. Jika tidak diketahui maka menjadi manusia cacad dan akan gagal mencapai tataran ini. Bumi 7 lapis tersebut adalah ; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat. 1.Bumi Retna, jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia. 2.Bumi Kalbu, artinya istana iman sejati. 3.Bumi Jantung, merupakan istana semua ilmu. 4.Bumi budi, artinya istana puji dan zikir. 5.Bumi Jinem, istananya kasih sayang sejati. 6.Bumi suksma, yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan; sukma sejati. 7.Bumi Rahmat, istana rasa mulia, rahsa sejati. Titik Lemah Nung, setara dengan Hakekat, di sini ibarat puncak kemuliaan. Semakin tinggi tataran spiritual, maka sedikit saja godaan sudah dapat menggugurkan pencapaiannya. Maka, semakin tinggi puncak dan kemuliaan seseorang ; maka semakin besar resiko tertiup angin dan jatuh. Seseorang yang merasa sudah PUAS dan BANGGA dengan pencapaian hakekat ini bersiko terlena. Lantas menganggap orang lain remeh dan rendah. Yang paling berbahaya adalah menganggap tataran ini merupakan tataran tertinggi sehingga orang tidak perlu lagi berusaha menggapai tataran yang lebih tinggi. 
     Nang: sembah rahsa, Nang, merupakan kemenangan. Kemenangan adalah anugrah yang anda terima. Yakni kemenangan anda dari medan perang. Perang antara nafsu negatif dengan positif. Kemenangan NUR (cahya sejati nan suci) mengalahkan NAR (api, ke-aku-an/”iblis”). Manusia NAR adalah seteru Tuhan (iblis laknat). Sebaliknya, manusia NUR adalah memenuhi janji atas kesaksian yang pernah ia ucapkan dimulut dan hati. Manusia NUR memenuhi kodratnya ke dalam kodrat Ilahi, sipat zat yg mengikuti sifat hakekat, menselaraskan gelombang batin manusia dengan gelombang energi Tuhan. Sifat zat (manusia) menyatu dengan sifat hakekat (Tuhan) menjadi “loroning atunggil“. Yang menjadi jumbuh (campur tak bisa dipilah) antara kawula dengan Gusti. Inilah pertanda akan kemenangan manusia dalam “berjihad” yang sesungguhnya. Yakni kemenangan terindah dalam kemanunggalan; “manunggaling kawula-Gusti“. Bila Anda muslim, di situlah tatar makrifat dapat ditemukan.
http://mustikakembar.blogspot.in/Tanda Pencapaian Neng, Ning, Nung, Nang

Senin, 09 Maret 2015

Notes kecil untuk dibaca ulang Jilid 2

Seperti biasa notes ini berisikan sebuah cerita sebagai perenungan kita akan kehidupan. Cerita ini merupakan tinjauan ulang artikel yang dipostkan sebelumnya, bila mencari nafkah didasari niat yang benar. Sungguh sulit untuk mendapatkan seorang perempuan yang qanaah dan ikhlas.  Sebuah cerita yang saya ambil dari http://www.smstauhiid.com/pengaruh-tabiat-istri-terhadap-cara-suami-mencari-nafkah/  ini akan menghantarkan kita akan kisah seorang pedagang kain yang dikunjungi oleh ulama pada jaman itu. Ceritanya baca sendiri saja ya! Hmmm... artikel ini akan membuat kita berpikir ulang dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kita. Akan tetapi masih relevankah pada masa kni? Meski tidak banyak pasti ada yang menerapakan cara mencari nafkah seperti ini. Semoga bermanfaat bagi kita.

Pengaruh Tabiat Istri Terhadap Cara Suami Mencari Nafkah
Hasan al-Bashri berkata:
“Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain."

2 tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji- muji dagangannya dan bersumpah, Lalu aku tanya kepadanya:”Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?” Ia menjawab : “Iya benar.” Aku bertanya lagi:”Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!” 
Ia pun bercerita:”Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata:’Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain)’.
”Masya Allah…Milikilah sifat Qana’ah -suka menerima- / jiwa selalu merasa cukup. Biasanya Wanita (Istri) sering TERJEBAK pada KEINGINANnya tuk terlihat Cantik dgn Pakaian yg Serba Mahal. Janganlah menjadi jurang dosa bagi Suamimu. Wanita shalihah akan mendorong Suaminya kepada kebaikan, keta’atan sedangkan wanita kufur akan menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa, kemakshiatan.CUKUPKAN DIRI DGN YG HALAL & BAIK. Ukuran Rizki itu terletak pada keberkahannya, bukan pada jumlahnya.

[Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan ].

Selasa, 16 Desember 2014

Kenapa Tahan

Suatu ketika saat aku termenung melihat kebelakang tentang kehidupanku, aku teringat peristiwa saat kenal dan dekat dengan seorang perempuan. Singkat cerita aku mengingat sebuah kejadian ketika dia menanyakan perihal kehidupan yang aku jalani. Aku pun bercerita tentang diriku apa adanya. Dia mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian. Aku menjelaskan tentang segalanya, hobiku sebagai pemandu olahraga, pekerjaan sebagai guru sebuah madrasah (yang pada kesimpulan akhirnya dia menganggap bukan sebuah pekerjaan), dan beberapa permasalahan yang sedang aku hadapi. Awalnya dia antusias dan memberi semangat selalu kepadaku. Pada akhirnya responnya tak seperti apa yang aku imajikan. Namun dia hanya tersenyum. Entah setuju entah tidak. Aku tak yakin apa arti senyumnya itu. Dan akhirnya senyum itu ternyata senyum kecewa, tidak seperti yang selalu aku lihat saat-saat bertemu. Memang manusia selalu mampu berubah, rasa pun mengikuti alur naluri untuk menuntut hidup yang layak bukan hidup yang wajar dan sederhana. Aku menyadari bahwa sekolah swasta tidak menjanjikan kelayakan hidup, namun mendidik dan mengajari, ada nikmat tersendiri. Tapi tetap saja dia menyerahkan semua kepadaku. Ya tentu saja aku membutuhkan dia meski dia tidak membutuhkan aku dan dia lebih membutuhkan restu bapak dan ibunya. Apa hal ini peribahasa bahwa dia ingin mengakhiri jalinan teman dekat ini. Adakah yang salah saat menjadi pemandu olahraga agar anak didiknya meraih prestasi? Apakah memang tidak ada orang yang menghargai sedikitpun jerih payah seorang tenaga mengajar kesana kemari? Memang penghasilan yang tidak seberapa bahkan tidak bisa menutupi untuk hidup keseharian. Tapi menghargai dan menghormati profesi yang sedang diemban tidaklah memerlukan uang. Memang jalan hidup setiap orang berbeda. Tapi bila memang dia mengharap kebaikan dariku dan ingin aku berubah lebih baik, haruskah dia mendukung? Ya bila saling mendukung apa selalu harus ada hasilnya? Bagaimana prosesnya? Tidakkah dia ingin tahu atau memang tidak peduli? Apa yg penting? Jika aku gagal dalam penghasilan untuk hidup yang layak namun aku mampu membantu orang lain mendapat prestasi dalam pelajaran favoritku dan lulus di kehidupan di masa depanya atau hal lainnya, layakkah aku disebut gagal?
Memang aku membutuhkan rasa cinta dan sayang darimu tapi aku lebih membutuhkan sedikit rasa hormat terhadap pekerjaan yang aku kerjakan.
Petikan dari sebuah film Bollywood :Ketika kau tidak menyukai dirimu sendiri kau cenderung tidak menyukai segala hal yg berhubungan denganmu. Hal-hal baru terlihat lebih menarik. Ketika kau belajar untuk mencintai diri sendiri maka kehidupan lama mulai terlihat baru, mulai terlihat menyenangkan.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Resah Gelisah Yang Kesekian

Berawal baik-baik saja aku mengira namun ternyata membuat euphoria sesaat. Aku menghancurkan karierku sendiri dengan sangat baik. Bermula dengan adanya event aku memohon izin tidak menghadiri kelas yang aku pimpin namun berlanjut hingga beberapa hari berikutnya. Sangat menguras pikiran sebenarnya keputusan yang akan aku ambil ini. Ya, aku memutuskan mengundurkan diri saja, aku merasa merepotkan berbagai pihak akan inkonsistensiku dan rasa bertanggung jawabku yang minus ini. Semua aku lakukan hanya untuk dapatkan perhatian dari dirimu tapi sangat mungkin dikau akan membodohkan diriku. Aku mendapat nasehat jangan sampai mengecewakan orang lain, sebab setelah kecewa sulit bagi orang lain menerima apa adanya kita. Baiklah, maka dengan menghancurkan sendiri karier yang aku bangun agar mendapat waktu lebih untuk memberi perhatian kepadamu hal itu malah membuat diriku semakin terpuruk. Semakin hari yang kesekian seakan dikau menjauh dariku. Aku percaya saja dengan ketulusan dirimu, tapi semua kata yang dikau buat di sosmed? Sangat menjelaskan bagaimana alur pikir yang dikau bangun sendiri. Semua apapun yang aku bangun mental semua berhadapan dengan tembok besar. Aku memang bersalah membuat koneksi kepada orang-orang terdekatku, tanpa sepengetahuan darimu. Semua aku lakukan agar aku lebih mengenal karakter dirimu ya tapi arah yang aku tempuh ternyata sangat salah. Semua kata di sosmed pun terlontar seakan... (mmm bukan seakan tapi memang benar) aku yang bertanggng jawab untuk semua permasalahan yang sedang kita hadapi ini. Aku mampu berharap apa darimu? Entahlah, sudah sering aku mengalami hal ini namun kenapa harus hal yang sama yang permasalahan yang aku hadapi. Adakah hal sebenarnya yang memicu permasalahan ini? Mapan, kerja layak, upah di atas UMR? Bukankah kebahagian berawal dari rasa menerima, legowo, dan syukur? Kata temanku, munafik sekali kalau tidak ada pendapatan dapat mempunyai rasa-rasa seperti itu. Manusiawi, sangat manusiawi tapi bukankan harus berjenjang? #ingat umur katanya? Ya memang terlambat untuk memulai tapi tidakkah terlalu cepat untuk mengakhiri? Memang semua melalui proses dan prosedur yang sudah ada tapi prosesnya pun dapat dipercepat, bisakan? Hmmm... mungkin saya manusia yang proses dan prosedurnya tidak bisa instan. Lama dalam berproses diri dalam semua hal.

Minggu, 04 Mei 2014

Orang Cerdas VS Orang Bodo

1. Perbedaan utama orang cerdas dan orang yang bodoh terletak pada kesadaran dan pengakuan. Orang cerdas menyadari dan mengakui kecerdasannya sehingga ia merasa bodoh dihadapan tuhannya, sedangkan orang bodoh tidak menyadari dan tidak mengakui kebodohannya sehingga ia merasa cerdas dihadapan Tuhannya
2. Orang cerdas bercermin kepada kematian sedangkan orang bodoh becermin pada kehidupan.
3. Orang cerdas lebih banyak menghitung-hitung kekurangannya, sedangkan orang bodoh lebih sring menghitung-hitung kelebihannya.
4. Orang cerdas selalu menuntut dirinya untuk mengasihi,menyayangi, dan mencintai, sedangkan orang bodoh selalu menuntut untuk dikasihi, disayangi dan dicintai.
5. Orang cerdas berharap dapat mengenal dirinya sendiri, sedangkan orang bodoh berharap orang lain untuk mengenal dirinya.
6. Orang cerdas memikirkan bagaimana ,membalas kebaikan orang lain, sedangkan orang bodoh berpikir bagaimana agar orang lain membalas kebaikannya.
7. Orang cerdas berpikir secara sistematis, metodologis, dan rasional, sedangkan orang bodoh berpikir dengan cara spekulatif dan emosional.
8. Orang cerdas selalu berusaha untuk mewujudkan pemikirinnya, sedangkan orang bodoh larut dalam pemikirannya tanpa sempat untuk mewujudkannya.
9. Orang cerdas bertindak sebelum menasehati, sedangkan orang bodoh menasehati sebelum bertindak.
10. Orang bodoh selalu berKaca tanpa cermin, sedangkan orang bodoh selalu berkaca dengan cermin.
11. Orang cerdas selalu berpikir berbagai cara untuk memuji, sedangkan orang bodoh selalu berpikir berbagai cara untuk dipuji.
12. Orang cerdas selalu berusaha mencari dan mengumpulkan ilmu, Orang bodoh selalu berusaha mencari dan mengumpulkan harta.
13. Orang cerdas memikul buku- buku didalam benaknya, sedangkan orang bodoh memikul buku-buku di kendaraannya.
14. Orang cerdas lebih sering berbuat daripada berbicara, sedangkan orang bodoh lebih sering berbicara daripada berbuat.
15. Orang cerdas merasa butuh memohon kepada Tuhannya, sedangkan orang orang bodoh merasa diminta dan diperlukan Tuhannya.
16. Orang cerdas mengetahui adanya kemudahan di setiap kesulitan, orang bodoh merasa kesulitan menghadapi kemudahan.
17. Orang cerdas mengumpulkan harta untuk di belanjakan di jalan-Nya, sedangkan orang bodoh mengumpulkan harta untuk dibelanjakan dijalannya.
18. Orang cerdas selalu merasa malu untuk menolak pertolongan orang lain, sedangkan orang bodoh tanpa rasa malu selalu mengharapkan pertolongan orang lain.
19. Orang cerdas bisa belajar dari kegagalan, sedangkan orang bodoh sering terbuai oleh keberhasilan.
20. Orang cerdas memandang pasangan hidupnya sebagai mitra, sedangkan orang bodoh memandang pasangan hidupnya sebagai bawahan.
21. Orang cerdas acapkali membicarakan tentang kebesaran Tuhannya, sedangkan orang bodoh seringkali
membicarakan kehebatan dirinya.
22. Orang cerdas selalu menghindar dari ketidaktahuan, sedangkan orang bodoh sering menjerumuskan diri dalam ketidaktahuan.
23. Orang cerdas memimpin dengan suri tauladan, sedangkan orang bodoh tak mampu untuk memimpin dirinya sendiri.
24. Orang cerdas lebih sering memandang kebawah untuk urusan dunia, sedangkan orang bodoh selalu memandang kebawah untuk urusan akhirat.
25. Orang cerdas berbicara dengan akal, sedangkan orang bodoh berbicara dengan lidah
26. Orang cerdas selalu mudah untuk dipahami, sedangkan orang bodoh selalu sulit untuk dipahami.
27. Orang cerdas hanya mencuri ilmu, sedangkan orang bodoh mencuri apapun yang dibutuhkannya.
28. Orang cerdas mencintai apa yang di sukai Tuhannya, sedangkan orang bodoh membenci apa yang disukai Tuhannya.
29. Orang cerdas selalu bersyukur disaat senang maupun susah, sedangkan orang bodoh tak mampu bersyukur walaupun di saat senang.
30. Orang cerdas bersandar pada doanya, sedangkan orang bodoh bersandar pada kemampuannya.
31. Orang cerdas mampu menertawakan musibah, sedangkan orang bodoh selalu dtertawakan musibah.
32. Orang cerdas selalu mencari kebenaran, sedangkan orang bodoh selalu menutupi kebenaran.
33. Orang cerdas selalu berupaya melupakan kebaikannya,sedangkan orang bodoh sibuk mengingatkan orang lain tentang kebaikannya.
34. Orang cerdas mempersiapkan diri menuju kematian, sedangkan orang bodoh hanya menunggu waktu kematian.
35. Orang cerdas memandang keturunannya sebagai amanah yang akan menyelamatkannya, sedangkan orang bodoh memandang keturunannya sebagai beban yang akan menyesatkannya.
36. Orang cerdas selalu memohon ampun kepada Tuhannya, sedangkan orang bodoh merasa tak perlu memohon maaf kepada siapapun.
37. Orang cerdas mampu meminta maaf dan memaafkan orang lain, sedangkan orang bodoh bahkan tak mampu memaafkan dirinya sendiri.
38. Orang cerdas merasa membutuhkan dan dibutuhkan masyarakat, sedangkan orang bodoh merasa tidak membutuhkan masyarakat, apalagi dibutuhkan masyarakat.
39. Orang cerdas cukup dinasehati dengan musibah, sedangkan orang bodoh selalu minta dinasehati saat tertimpa musibah.
40. Orang cerdas berpikir bagaimana caranya untuk memberi, sedangkan orang bodoh berpikir bagaimana caranya untuk meminta.
41. Orang cerdas tak mampu menolak pemberian karena merasa malu, sedangkan orang bodoh tak mampu memberi karena tak memiliki rasa malu.
42. Orang cerdas berusaha untuk membantu orang lain untuk membayar utangnya, sedangkan orang bodoh selalu menanggguhkan pembayaran utangnya.
43. Orang cerdas selalu berorientasi ke masa depannya, sedangkan orang bodoh dipenjara oleh masa lalunya.
44. Orang cerdas tidak pernah memulai tanpa mengakhiri, sedangkan orang bodoh tidak mampu mengakhiri sesuatu yang dimulainya.
45. Orang cerdas selalu merasa bebas dan bertanggung jawab, sedangkan orang bodoh mengginginkan kebebasan tanpa berani bertanggung jawab.
46. Orang cerdas suka memandang isi dibanding kulit, sedangkan orang bodoh lebih suka memandang kulIt dibanding isi.
47. Orang cerdas memndidik keluarganya dengan kepemimpinan spiritualistik, sedangkan orang bodoh mendidik keluarganya dengan kepemimpinan yang otoriter dan materilistik.
48. Orang cerdas memandang kegagalan sebagai anak tangga menuju kesuksesan, sedangkan orang bodoh memandang kegagalan sebagai penghalang menuju kesuksesan.
49. orang cerdas selalu ditunggu dan diharapkan orang banyak, sedangkan orang bodoh selalu tak di inginkan kehadirannya oleh orang banyak.
50. Orang cerdas meletakkan lidah di belakang akal, sedangkan orang bodoh berbicara tanpa akal.

Disarikan dari berbagai sumber yg dapat dipercaya.

Kamis, 31 Mei 2012

Renungan Keturunan

Coba Urutan Keturunan Iki Direnungake ya? (Coba urutan keturunan ini direngkan ya?)


* Pira Bapak – Ibumu ? 2
* Pira Embahmu? 4
* Pira Embah Buyutmu ? 8
* Pira Embah Canggahmu ? 16
* Pira Embah Warengmu ? 32
* Pira Embah Udheg-udhegmu ? 64
* Pira Embah Gantung Siwurmu ? 128
* Pira Embah Grepak Senthemu ? 256

Saiki tak wiwiti sing paling cedak, embah. Embahmu papat, saka Bapak 2 saka ibu 2. Kowe ijih kenal karo putra-putrine simbah selain bapak lan ibumu, yaiku Pakde-Mbokde utawa Paklik-Mboklik. Ijih lengkap ora?

Lha yen wis canggah, waduh ambyar tenan! Ra kenal. Apa maneh yen saka mbah Grepek Senthe sing jumlahe 256 kuwi sedulurmu sansaya rakaru-karuan.

Liding dongeng, merenungkan urutan keturunan, sapa ngerti jan-jane aku karo kowe ijih sedulur tunggal mbah Grepak Senthe lho utawa kowe karo bojomu ijih tunggal mbah Canggah.
Wallahu'alam.

Kendi Manunggal - Family Tree
Urut-urutan keturunan uga kasebut Kendi Manunggal, hal ini sesuai dengan bentuk dan maknanya bahwa kerukunan dalam suatu keluarga besar itu dapat ditampung dalam satu wadah. Disamping itu Kendi air juga merupakan tempat untuk melepas dahaga, baik dalam arti kias melepas kangen maupun sebagai penambah daya vitalitas hidup. Kendi sebagai simbul tersebut dapat dilihat sbb:

Bapak + Ibu

1. Putra
2. Wayah
3. Buyut
4. Wareng
5. Udheg-udheg
6. Gantung Siwur
7. Grobag Senthe
8. Debog Bosok
9. Galih Asem
-----------------------------------------------
Menawi wonten klenta-klentunipun mangga dipun koreksi.

(http://njawil.blogspot.com)

Sabtu, 19 Mei 2012

Kisah Sabar Yang Paling Mengagumkan

Oleh: Mamduh Farhan al-BuhairiDari Kaset Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan)

Prof.Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah padasebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.

Sang dokter berkata: Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anakberusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat. Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut -tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta'ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta'ala. Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: "Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati."
Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut? Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: "Engkaulah penyebabnya!" Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata: "Alhamdulillah." Kemudian dia meninggalkanku dan pergi. Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta'ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.

Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya: "Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi". Maka dia berkata: "Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi." Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta'ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi.

Berlalulah sekarang 3,5 bulan,dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak. Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata: "Alhamdilillah." Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta'ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.

Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu: "Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh." Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan: "Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia." Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menangis histeris seraya berkata: "Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati." Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran: "Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah." Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut: "Wanita itu tidak waras dan tidak sadar."

Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Sholallohu 'alaihi wa sallam yang indah lagi agung:(طُوْبَىلِلْغُرَبَاِء) "Beruntunglah orang-orang yang asing." Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja. Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu: "Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat." Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah:"Alhamdulillah." Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi. Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebuttelah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda. Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu: "Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat." Diapun berkata: "Alhamdulillah."Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.

Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.

Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu? Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra dihadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo'a, dan merendahkan diri kepadaAllah Subhanaahu wa Ta'ala ? Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?

Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta'ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sediakala, dalam keadaan sembuh dan sehat. Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian: Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan dibagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya: "Siapakah mereka?" Dia menjawab, "tidak mengenal mereka."

Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan. Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata: "Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datangkepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahuisendiri."

Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya: "Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta'ala ."

Tahukah anda apa yang dia katakan?Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia. Sang suami berkata: "Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar'i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo'akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang." Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata: "Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu." Maka kukatakan kepadanya: "Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu." Kisah selesai.
Kukatakan: Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta'ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta'ala .
Allah Subhanaahu wa Ta'ala berfirman:وَلَنَبْلُوَنَّكُمْبِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِوَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَاأَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِرَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْوَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)
"Dan sungguh akanKami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."(QS. Al-Baqarah: 155-157)

Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda:مَايُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍوَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَاللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ
"Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta'ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya." (HR.al-Bukhari (5/2137))

Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta'ala , minta dan berdo'alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta'ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian. Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dansusah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta'ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong. Mudah-mudahan Allah Subhanaahu waTa'ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do'a-do'a kalian.رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦) "YaTuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (QS. Al-A'raf: 126) (AR)*

Sumber: Majalah Qiblati edisi 1 th. III (http://www.qiblati.com/)
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1431 H. Semoga Puasa kita diterima oleh Alloh subhanahu wa ta'ala dan mengantarkan kita kepada pribadi yang bertaqwa kepadaNya. (Mengulang untuk meyambut Ibadah Puasa Ramadhan 1433 H yang akan dilaksanakan besok 20 Juli - 18 Agustus 2012, Insya Alloh)
Mohon maaf bila selama ini penulis pernah membuat suatu kesalahan.Kesalahan murni dari diri penulis dan dari syaiton dan kebenaran hanyalah dari Alloh subhanahu wa ta'ala...

Selasa, 08 Mei 2012

Wanita (dialog TUHAN dengan Malaikat)

Aku copy paste ulang cerita tentang "Ketika Tuhan Menciptakan Wanita", sebab begitu mengispirasi hingga mengingatkan kita jangan pernah putus asa. Semua yang ada telah diciptakan secara detail tergantung bagaimana kita bersikap dan berupaya. Jangan pernah sekali-sekali menyangkal perbuatan Tuhan terhadap kita, dan jangan pernah sekalipun tidak bersyukur terhadap rezeki yang telah kita dapat, dan jangan kekurangan kesabaran saat kita menerima musibah. Wanita-lah yang memiliki kesabaran dan rasa syukur yang tidak dapat dibandingkan dengan laki-laki (tentu kecuali Nabiyullah Muhammad SAW). Maka diciptakan wanita dengan sebegitu rupa dan dengan detailnya agar dapat membahagiakan keluarganya. Nah jangan pernah sekalipun meremehkan orang lain sekalipun dia wanita, sebab dengan begitu kita akan mendapatkan hikmah yang luar biasa tanpa kita duga-duga sebelumnya.


Ketika Tuhan menciptakan wanita, DIA lembur pada hari ke-enam. Malaikat datang dan bertanya,
 
Malaikat       :  “Mengapa Engkau meluangkan waktu begitu lama untuk menciptakan yang satu ini, Tuhan?”
Tuhan           :  “Taukah engkau apa kelebihan yang Kuinginkan dalam menciptakannya? Dua tangan ini harus dapat bersih dan dibereskan, tetapi bukan bahan dari plastik. Setidaknya terdiri lebih dari 200 bagian darinya yang dapat digerakkan dan berfungsi baik tanpa perlu diganti. Ia harus mampu menyantap segala macam makanan. Pada saat yang sama ia harus mampu menggendong tiga bayi sekaligus. Dengan sekali ciuman, mulai dari lutut yang luka hingga hati yang sedih dapat disembuhkannya. Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan…., dan semua ini harus dilakukannya cukup hanya dengan dua tangan.”

Malaikat pun takjub.

Malaikat      :  “Hanya dengan dua tangan?…. tidak mungkin itu!! Dan, Apakah Engkau yakin ini sebuah model yang benar dan memenuhi standar? "Hari ini Engkau telah melakukan banyak kerja, lakukan sisanya keesokan hari, untuk menyempurnakannya.”
Tuhan          :  “"Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku akan menyelesaikan ciptaan ini, karena ini adalah ciptaan favorit Saya. Lagi pula tinggal hari terakhir. Sedikit lagi makhluk yang Kucintai ini akan sempurna. Ketika sakit ia sendiri akan mampu dan berusaha mengobati dirinya sendiri, dan ia mampu bekerja 18 jam dalam sehari.”

Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan TUHAN itu.

Malaikat           :  “Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN ?”
Tuhan             :  "Iya benar. Ia memang sangat lembut, tapi Aku menciptanya sangat kuat. Kau tidak akan mampu membayangkan apa saja yang dapat ditanggungnya dan bagaimana ia keluar sebagai pemenang menghadapi segala masalah
Malaikat           :  “Apakah ia dapat berpikir?”
Tuhan         :  “Ia bukan hanya bisa berpikir, tapi juga berargumentasi, bernegosiasi, membahas dan berdialog.”

Malaikat itu menyentuh dagu kemudian memegang tulang pipinya.

Malaikat           :  “TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah & rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya. Dan, aku berpikir Engkau telah meletakkan tanggung jawab yang sangat banyak kepadanya! Sepertinya ada lubang dan air menetes dari sana!"
Tuhan               :  “Itu bukan lelah atau rapuh dan itu bukan tetesan air biasa, tapi itu tetesan air mata….”
Malaikat           :  “Apa manfaat air mata baginya?”

TUHAN melanjutkan….

Tuhan          :  “Air mata adalah salah satu cara ia mengekspressikan dan mengungkapkan kesedihan, kegembiraan, keraguan, kegalauan, cinta, kesepian, kesendirian, kesulitan, penderitaan, dan kebanggaannya.”

Malaikat semakin berdebar membayangkan makhluk yang satu ini.

Malaikat           :  “Luar biasa. Wahai Tuhan! Engkau memang Maha Mampu dan telah mempertimbangkan segala aspek luar biasa dalam menciptakan makhluk bernama wanita, memikirkan segala sesuatunya, wanita ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!”

Tuhan           :  “Ya pastii…! Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki. Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki. Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri. Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit. Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan. Dia berkorban demi orang yang dicintainya. Mampu berdiri melawan ketidakadilan. Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik. Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat. CINTANYA TANPA SYARAT. Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang. Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa. Dia begitu bahagia mendengar kelahiran. Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian. Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.

                   Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita, DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIRINYA…


Sampaikan ini kepada wanita di sekeliling kita. Ingatkan mereka, karena terkadang mereka perlu diingatkan..!!