Tampilkan postingan dengan label Keolahragaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keolahragaan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Juni 2015

Patah Semangat

Sebuah cerita dari teman pelatih tentang permasalahan dalam kepelatihan olahraga prestasi ataupun profesional. Permasalah tersebut ialah patah semangat. Patah semangat yaitu padam semangat dalam latih dan melatih diakibatkan karena stress. Pelatih yang mengalami patah semangat biasanya merasa tak berdaya, mudah marah dan kurang kendali atas lingkungannya (menganggap metode latihannya sudah tidak memungkinkan dan diperparah oleh rasa frustasi). Patah semangat paling sering terjadi pada pelatih yang antusias, berdedikasi dan penuh perhatian. Patah semangat ini pun bukanlah suatu fenomena khusus yang dialami oleh pelatih olahraga besar, olahraga apapun dan pada tingkat mana pun dapat menderita gejala ini. Umumnya, pelatih yang mengalami patah semangat tersebut berpikiran tertutup dan jadi tidak luwes. Banyaknya waktu yang dihabiskan dalam tugas kepelatihan mungkin meningkat, namun lebih sedikit yang terseleseikan. Akhirnya terjadilah patah semangat yang menghinggapi pelatih-pelatih tersebut menjadi tidak sehat, terlalu lelah dan merasa tertekan.
   Olahraga prestasi tidak mungkin belajar otodidak, pastinya ada seorang pemandu yang ahli dalam bidang dan cabang yang dipilih. Pemandu pun tak dapat memandu dan melatih bila tidak ada sertifikat yang melegalkan program latihan yang diterapkannya. Hidup sebagai seorang pemandu olahraga prestasi itu sebenarnya sangat menyenangkan meski kadang sangat dipengaruhi kapabilitas anak didik yang dipandunya. 
    Ada sebuah cerita tentang pelatih yang patah semangat. Katakanlah namanya pelatih "X". Pelatih "X" biasanya antusias dan senang memenuhi impian seumur hidupnya untuk melatih. Pada 10 tahun pertama dalam melatih timnya benar-benar kelihatan berhasil. Olahragawan, orang tua dan guru kagum atas kemampuan kepemimpinannya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berpilir tentang kepelatihan, tentang melatih, mengamati pertandingan, mempelajari film-film pertandingan dan mempersiapkan pertandingan. Pelatih X ini selalu tinggal lama setelah latihan bersama olahragawan. Para orang tua sering menelepon ataupun sms (short message service) untuk menyatakan bahwa dialah yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka. Sanjungan dan terima kasih datang tak henti-hentinya. Seiring waktu berjalan, pelatih X akhirnya menyadari bahwa dirinya adalah satu-satinya orang yang benar-benar memperhatikan olahragawan sebagai orang, manusia dewasa dikemudian hari. Orang lain nampaknya memperlakukan kepelatihannya sebagaikerja sambilan. Mereka hanya mempunyai sedikit waktu bagi olahragawannya. Mereka bersembunyi di kantornya dan mengasingkan diri sedapat-dapatnya. Bahkan olahragawan dari pelatih lain minta tolong pada pelatih X ini. Pelatih mereka nampaknya kurang begitu peduli dan perhatian. Akhirnya, pelatih X mulai menyadari bahwa keuangannya tidak mencukupi. Guru dan pelatih lain keadaannya lebih baik. Mereka menambah pendapatannya dengan pekerjaan lain sementara pelatih X mengurusi olahragawannya. Para pengurus tahu apa yang terjadi,tetapi nampaknya mereka tidak peduli. Merekamenyatakan padanya untuk tidak terlalu serius menanggapi pekerjaannya sebagai pelatih. Pelatih X mula-mula memperhatikannya meskipun tidak melakukan tindakan apapun. Ia mulai mempertanyakn nilai-nilainya dan mulai khawatir bahwa ia tidak dapat memenuhi kebutuhan finansial keluarganya. Untuk kali pertama pelatih X mempertanyakan tanggungjawabnya dalam melatih. Tetap melatih dengan bayaran yang kurang cukup untuk kebutuhannya atau berhenti dan melupakan dunia kepelatihan. Bahkan keluarganya sempat membujuk untuk berhenti melatih. Ketika pelatih X pada keputusan berhenti melatih, banyak para orang tua olahragawan tidak memahami. Merekan pikir pelatih X sudah malas dan tidak peduli lagi. 
    Begitulah akhir dari riwayat seorang pelatih. Mereka dituntut mengembangkan suatu tanggungjawab yang kuat atas nilai-nilai tertentu namun tidak didukung dengan finansial yg cukup. Kemantapan dan dedikasi sebagai pelatih sangatlah penting bahkan jauh lebih bernilai daripada kemenangan, tetapi perhatian dan apresiasi kita atas kerja keras pelatih jangan dilupakan. Mereka juga ada keluarga yang harus dicukupi kebutuhan finansialnya. Dengan demikian agar para pelatih tetap bahagia dalam melatih dan tidak ada hutang untuk menghidupi keluarganya.

Bacaan yang dianjurkan
- Dasar-dasar ilmiah kepelatihan (Russell R. Pate)

Minggu, 19 Juni 2011

Silat Seni Sebagai Serangkaian Seni Pementasan



Silat merupakan seni beladiri dan olahraga prestasi. Meskipun Indonesia yang merupakan negara dari beladiri ini berasal, tetapi saat ini prestasinya mengalami kemunduran yang signifikan. Apa pasal? Olahraga ini kurang menjadi trend dan kalah pamor hingga tegeser oleh olahraga beladiri yang berasal dari negara-negara tetangga. Walau olahraga pencak silat ini telah dipertandingkan dievent-event daerah, nasional maupun internasional, tetapi kualitas dan profesionalitas belum dapat menyamai gaungnya seperti perhelatannya bela diri lainnya. Hal semacam ini tentunya membutuhkan pemikiran dan perhatian secara khusus.
Pada masa-masa seperti ini adalah puncak-puncaknya bela diri untuk menunjukan eksistensinya melalui berbagai film dan pertunjukan. Film yang dikemas dengan sedemikian rupa sehingga orang yang melihat akan tertarik mempelajari bela diri yang ada pada tokoh film tersebut. Disini ditonjolkan betapa tinggi filosofis yang terkandung dalam mempelajari bela diri tersebut. Berbeda dengan film yang dibangun di Indonesia dengan latar belakang pencak silat olahraga, dalam dunia persilatan yang ada di Indonesia (secara khusus) masih terkait dengan hal-hal yang mistis meski orang-orangnya telah tersentuh dengan keajaiban teknologi modern. Tidak bisa dipungkiri masyarakat Indonesia sangat kental akan pengaruh dunia mistis. Sebab jaman dahulu orang sakti pasti dikaitkan dengan ilmu olah kanuragan yang dititiskan para pendahulunya, kemudian dia dapat menyerap apapun bentuk pembelajran yang ada dalam waktu yang cukup singkat, tanpa harus dipelajari terlebih dahulu. Di sini ke-ilmiahannya masih kurang berperan, bahwa pendekar itu merupakan titisan dan bukannya diciptakan. Pandangan tentang seorang pendekar pun saat ini sudah begitu melenceng tidak sesuai dengan kaidah seorang pendekar. Dikarenakan pendekar saat ini hanya mengandalakan kekuasaan seperti lazimnya pemerintahan. Seharusnya pendekar memberi contoh bahwa silat dapat diilmiahkan dan dapat dijadikan obyek dalam penelitian ilmiah. Sehingga kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang merupakan tujuan dari pembelajran dari filosofi silat dapat terpenuhi.
Kembali pada silat sebagai komoditas untuk sebuah pementasan. Silat semestinya dapat menjadi tuan di rumahnya sendiri. Pada silat yang merupakan sebuah seni pementasan sebenarnya tidak begitu memerlukan seorang pendekar untuk menilai, orang awam pun dapat menilai keindahan dan estetika dari silat itu sendiri. Sebab orang awam lebih memiliki rasa yang orisinil dalam memberi komentar. Sehingga orang awam pun paham bahwa yang menggerakan gerakan silat tersebut menjiwai sosok yang diperankannya. Peran pendekar di sini adalah membuat paham para pesilat dalam menggerakan jurus-jurus yang akan digerakkan. Pemahaman bukan hanya difisik saja tetapi merasuk hingga jiwa dan hati, bersatu padu untuk menampilkan jurus dengan perfect/excellent. Dengan begitu apa yang akan digerakkan pesilat tidak serta merta hanya menyanggupi keinginan dari pendekar. Bila hal itu terjadi maka pesilat seharusnya dilatih bukan untuk diberi tekanan ataupun hukuman. Silat merupakan salah satu metode dalam menanamkan sebuah karakter yang bersifat kesatria. Silat tidak hanya kekerasan. Silat dapat dibuat sebegitu elegan sehingga dapat dinikmati gerak per geraknya. Acapkali pendekar lupa perihal filosofi yang seharusnya diajarkan sejak dini yaitu “tirulah ilmu padi” semakin berisi ia semakin merunduk, rendah hati. Tetapi hal yang diajarkan adalah nilai-nilai meraih kebenaran teknik dengan mengenyampingkan filosofi yang terkandung. Contohnya saja saat ada acara apapun yang dikeluarkan untuk pementasan, bukan silat seni yang ditampilkan melainkan silat wiralaga. Penampilan tersebut tentu saja membuat sebagian orang awam miris bila melihatnya. Berbeda bila yang ditampilkan silat ganda yaitu kedua orang bertarung tetapi telah diskenario terlebih dahulu. Sehingga orang awam paham akan gerakan yang dibuat oleh pesilat dan akan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
Marilah berusaha untuk menjadi seorang pendekar tanpa pengakuan dari orang-orang sekitar. Dengan menunjukan peran aktif kita dalam memperbaiki generasi muda dengan mengajarkan silat serta filosofinya dengan benar. Pementasan silat tak ubahnya melihat diri kita dengan bantuan cermin. Begitu banyak hal yang tekandung dalam pementasan silat bila kita mau dan mampu untuk mengurai hikmah yang terkandung di dalamnya. Adegan demi adegan yang ditampilkan tak ubahnya seperti film-film laga, tetapi ada perbedaan. Yaitu tidak ada adegan ulang. Apa yang kita perankan dalam adegan tersebut hanya satu kali ditampilkan tidak dapat diulang kembali. Maka pahamilah setiap adegan, resapi setiap adegan, maknai setiap adegan yang terjadi pada kita tak ubahnya seperti pementasan silat. Sehingga membuat diri lebih bernurani, berempati dan bersimpati.

Minggu, 01 Mei 2011

PERAN NYATA LEMBAGA AKADEMIK KEOLAHRAGAAN KEDEPAN



Sebuah negara perlu mengembangkan dan sekaligus memajukan olahraga. Sebab olahraga yang berdasarkan pada perkembangan dunia seiringnya kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, negara dapat memperoleh hasil yang luar biasa berkenaan dengan olahraga. Kinerja olahraga yang prestatif ini dapat mengangkat harkat, martabat dan kehormatan bangsa. Dalam olahraga akan menciptakan rasa disiplin dan kerjasama yang baik, menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi terhadap bangsanya sendiri. Olahraga yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari merupakan contoh nyata mengapa suatu negara perlu memajukan olahraga. Dengan berolahraga tidak hanya mampu memelihara dan meningkatkan kebugaran saja tetapi juga berperan penting dalam membentuk sebuah kepribadian.

Pemerintah sebagai pihak yang sangat membutuhkan bangsa yang sehat bugar, dan kuat secara fisik maupun psikis untuk keberlansungan roda pembangunan, dituntut untuk berperan aktif melalui seluruh departemennya yang terkait. Mengapa Pemerintah? Sebab pemerintah yang memiliki kebijakan dan kemampuan pendanaan dalam membuat sarana dan prasarana olahraga yang memadai. Selain itu pemerintah juga memerlukan sarana atau media untuk mempromosikan dan memperkenalkan eksistensinya dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan berbagai negara di seluruh kawasan dunia dengan cara mengikuti ivent yang diselenggarakan oleh forum regional, continental atau Olympic Games. Dalam mengembangkan dan juga memajukan olahraga yang ada di Indonesia ini, pemerintah mempunyai patrner yang bertugas melakukan pembinaan prestasi olahraga yaitu KONdan KOI. Sebab KON dan KOI merupakan organisasi olahraga independen tertinggi disuatu negara yang keberadaannya diakui oleh Organisasi Olahraga Dunia (IOC). Disini tugas untuk membina dan meningkatkan prestasi olahraga tidak semata hanya KON dan KOI saja, tetapi yang paling penting adalah para pelaku olahraga. Para pelaku olahraga disini meliputi:
1. Lembaga akademik yang memiliki pakar ilmu keolahragaan, sarana prasarana yang menunjang, lembaga riset dan kajian, pembina dan pengurus organisasi keolahragaan.
2. Para pelaku olahraga yang langsung terlibat di lapangan seperti guru olahraga yang merupakan insan pertama meperkenalkan gerakan olahraga sejak dini, pelatih sebagai subyek dan sekaligus obyek pencetak prestasi atlet, atlet sebagai pembinaan pretasi, pembina dan pengurus organisasi keolahragaan sebagai subyek dan obyek pembinaan dalam bidang organisasi keolahragaan.

Oleh sebab itu, para pelaku olahraga harus meningkatkan perannya dalam mencapai semua itu dengan jiwa sportif tentunya. Sebuah upaya untuk memajukan olahraga di Indonesia tidak terlepas dengan dana tentunya. Penggalangan dana didapatkan dari usaha ataupun industri. Walaupun dana dibebankan pada negara sepenuhnya seharusnya, tetapi dunia industri juga memiliki kepentingan. Dunia indutri akan terbantu dalam mempromosikan hasil usahanya. Dengan promosi produk yang dilakukan oleh insan olahraga tentunya produk industri yang dipasarkan semakin mudah diterima oleh masyarakat luas karena image yang melekat pada sebuah produk tersebut berkaitan dengan olahraga.

Sebuah kemenangan ataupun kekalahan pasti ada sebabnya, oleh karena itu bagaimana cara mengatasi bila kedua hal tersebut terjadi adalah sebuah tuntutan dan tuntunan agar tidak terjerumus pada hal yang merugikan. Prestasi olahraga Indonesia dalam dasawarsa terakhir ini terbilang terpuruk daripada bangsa lain. Sebab di Indonesia dalam mengkaderisasi, regenerasi dan seleksi atlet terlambat dan kurang maksimal itupun kurang memanfaatkan IPTEK. Sehingga proses yang diharapkan saat pemasalan, pembibitan, dan pembinaan prestasi kurang optimal. Sarana dan prasarana yang hanya terpusat dan tidak merata menyebabkan sulitnya mencari atlet yang kompeten. Dana yang minim untuk sistem pembinaan dan peningkatan prestasi mengakibatkan tidak fokusnya pada skala prioritas cabang olahraga unggulan. Dan saat ini lebih buruk lagi dengan mutu kepelatihan dan kompetensi pelatih yang masih minim, itupun masih ditambah dengan ketidak bijaksananya wasit dalam memimpin sebuah pertandingan.

Hal pertama kali yang harus dilakukan agar kejayaan olahraga di Indonesia tercinta ini dapat terwujud adalah mengembalikan fungsi masing-masing. Pemerintah dengan partnernya KON dan KOI bekerja sama dengan lembaga akademisi dan pelaku olahraga untuk:
1) mengambil peran dalam memperbaiki mutu dan kompetensi pelatih juga wasit,
2) menyusun sistem pembinaan olahraga (pemasalan, pembibitan, dan pembinaan pretasi) yang sitematis, integratif, dan berkesinambungan,
3) menyusun kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM (guru, pelatih, pembina, pengurus) keolahragaan yang berkualitas,
4) meningkatkan pemanfaatan IPTEK olahraga secara efektif dan efisien dengan cara melakukan kajian atau riset ilmiah,
5) mengadakan seminar-seminar keolahragaan baik nasional maupun internasional.

Kemudian dalam hal pendanaan, pemerintah bekerja sama dengan dunia usaha dan industri untuk membuat sarana prasarana yang memadai agar tercipta suasana kondusif dalam berlatih. Kesejahteraan para atlet dan pelatih ketika pensiunpun semestinya juga diperhatikan. Kesejahteraan memang momok yang utama dalam dunia keolahragaan. Hal ini sangat penting akan tetapi bukan utama. Yang utama adalah kesadaran masyarakat kita sejauh mana mereka perduli terhadap olahraga itu sendiri. Bila semua hal yang tersebut berjalan tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat, kedepannya pun kita akan mengalami kendala yang sama. Sehingga kesadaran dari berbagai pihak masyarakat sangatlah membantu peningkatan prestasi olahraga di Indonesia.

Selasa, 05 April 2011

Imagine Spiritual dan Kebudayaan Ilmu Silat (Yang Tersirat Dalam Ilmu Silat)

Kehidupan spiritual silat hanyalah sebuah tebakan-tebakan yang ada dalam angan-angan atau hanya ada pada khayalan saja. Ada banyak pemahaman yang mengindikasikan bahwa kehidupan spiritual pesilat hanya ada pada agama yang dianutnya saja tanpa melihat misi pejagaan budaya dan tradisi yang telah mengakar pada silat itu sendiri. Hal ini dipertegas dengan semakin tidak diminatinya untuk mempelajari falsafah yang ada dalam silat dan mulai ditinggalkannya proses-proses untuk mengasah ketajaman intuisi dan kepekaan terhadap yang kasat mata (olah batin). Sebagian dari penggemar ilmu silat lebih menginginkan ilmu kanuragan (olah fisik) saja yang diolah hingga tuntas, sehingga ilmu silat yang berhubungan dengan pengolahan ilmu batin seolah mulai ditinggalkan. Ilmu olah batin dinilai sudah kuno dan tidak “njamani” sebab ilmu tersebut tidak dapat dilalui atau dikuasai dalam waktu singkat dan instan. Ilmu olah kebatinan pada saat ini dibeberapa perguruan silat hanya diajarkan kepada mereka yang berminat dan minimal telah mengusai berbagai jurus-jurus silat. Pesilat diharuskan menguasai jurus yang bila diperagakan enak dipandang hingga jurus yang keras dan mematikan sebelum beroleh ilmu olah batin. Pada zaman dahulu lebih ekstrim untuk bisa mendalami ilmu olah batin, yaitu yang berhak mempelajari ilmu tersebut haruslah memiliki hubungan kerabat dan dekat dengan para “pendekar”. Tetapi melihat laju perkembangan zaman saat ini yang tiada terbatas arus informasi, setidaknya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu olah batin tersebut tentulah sangat berguna untuk membetengi diri dari marabahaya dan bukan sebagai komoditas ajang pamer. Sebab dengan tingkat kewaspadaan diatas normal tentu saja, diharapkan dapat melindungi seseorang atau masyarakat dari gangguan yang tak kasat mata ataupun yang kasat mata. Dan bila diapresiasi dengan baik, penguasaan ilmu olah kebatinan dapat dijadikan sebagai salah satu landasan untuk menseleksi seorang pendekar silat agar benar-benar menjadi “pendekar” yang mumpuni, sehingga tidak semua orang bisa menjadi “pendekar”.
Terkadang, sedemikian rupa kita mempertahankan tradisi dan kriteria dalam menentukan seseorang yang mumpuni untuk diangkat menjadi seorang pendekar, akan tetapi organisasi yang menaungi menentukan kriteria yang lain dalam pengangkatannya. Hingga konteks yang menentukan hal itu sendiri dilupakan. Dalam perkembangan saat ini, banyak yang diangkat menjadi seorang pendekar hanya sekedar untuk kepentingan yang terselubung, entah itu sebagai prestise atau sekedar untuk mencari dukungan agar organisasi yang dinaungi dapat bertahan hidup lebih lama (akibat dari masalah finansial, perekrutan massal atau sebab yang lain), dinilai bukan karena kapasitasnya yang telah berjasa bagi masyarakat atau bagi organisasinya. Terdapat beberapa penyebab kurang maksimalnya peran pendekar pada masa kini sebagai tonggak pertama pelestari budaya tradisional. Pertama, belum adanya kesepakatan untuk membentuk komunitas pendekar yang telah purna silatnya walaupun berbeda aliran ataupun perguruan. Sebab setiap aliran mempunyai karakter dan ciri khas tersendiri sehingga agak sulit untuk saling mendukung untuk eksis dalam keberagaman. Meskipun pemerintah telah memfasilitasi dengan dibentuknya organisasi IPSI yang di”kuasai” 10 perguruan historis, wadah-wadah kecil yang menampung aspirasi berbagai aliran silat yang belum termasuk juga diperlukan. Kedua, komposisi masyarakat yang majemuk dan berujung pada permintaan akan pembentukan identitas universal yang baru. Adanya keberagaman keinginan masyarakat, tentunya mewarnai dalam menentukan arah yang akan dituju sebuah orgasnisasi. Dalam hal ini kebijakan yang diambil dikalangan atas para pendekar belum tentu sesuai dan semakna pada komunitas pendekar ataupun para pesilat akar rumput. Ketiga, terdapat keterbatasan sumber daya tenaga ahli terutama dalam kaderisasi generasi muda, teknologi informasi sebagai wahana penyampaian aspirasi, dan finansial yang mencukupi. Masalah yang ketiga ini terbentur akibat dari para sesepuh yang telah menjadi pendekar tetap bersikukuh merasa bahwa mereka tidak perlu perubahan dan menyesuaikan dengan hal-hal baru dalam dunia persilatan. Apa yang mereka dapatkan pada masa lalu dipertahankan tanpa ada penyesuaian dengan masa kini. Seperti tertulis di atas pendekar diangkat bukan karena kapasitasnya sebagai seorang pendekar melainkan karena berpengaruh di masyarakat entah secara kekuasaan ataupun finansial. Sehingga pencarian sosok pendekar yang dekat dengan masyarakat, penjaga tradisi budaya dan paham akan intuisi agak sulit tercapai.
Namun demikian, dari sudut lain, ternyata ilmu silat membentuk sesuatu yang tak kalah pentingnya dari ilmu olah batin itu sendiri yaitu membentuk karakter, perilaku dan moral. Di dalam silat ada semacam sifat untuk menjaga diri, tapi bagaimana menjaga diri tanpa mempunyai rasa permusuhan. Seperti sebuah pohon yang tumbuh harus menjaga keamanan dirinya, tetapi ia tetap hadir sekaligus memberikan keindahan atau pengayoman. Sehingga belajar ilmu silat dapat membuka kesadaran, mengasah, dan memberikan daya kepekaan untuk selalu memahami sekaligus melindungi lingkungan sekitar. Hal ini dipahami sebagai local genius atau local wisdom (kearifan budaya lokal), yang seharusnya diawali dan dicontohkan oleh pendekar. Pendekar haruslah dapat mengayomi dan melindungi seseorang ataupun suatu kelompok masyarakat dari gangguan fisik ataupun non fisik yang datang dari luar, dapat menjaga keamanan dan stabilitas masyarakat, lingkungan sekitar, dan ahli dalam ilmu-ilmu pengobatan. Seorang pendekar pastilah mempunyai filosofi kehidupanya sendiri-sendiri, begitu juga ilmu yang dimiliki pasti berbeda satu dengan yang lain dalam kemanfaatan ilmunya dimasyarakat. Sebenarnya jejaring seni budaya yang digunakan ini bisa menjadi soft power yang kokoh dalam melindungi kekayaan budaya bangsa di tengah arus globalisasi. Tentu dengan falsafah yang ada pada tiap tradisi silat dan disinergikan dengan attitude modern sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman, tanpa melupakan falsafah yang sebenarnya dari bangsa Indonesia. Dipastikan untuk berkomitmen pada konservasi budaya yang ada juga tinggi. Saat nilai-nilai kearifan budaya lokal telah disosialisasikan salah satunya melalui silat maka untuk membangun budaya, menjaga warisan budaya akan lebih mudah sehingga kita tidak akan kehilangan identitas sebagai bangsa yang majemuk akan budaya. Lebih jauh lagi, sinergi dengan pembentukan perilaku, moral, dan karakter melalui silat bisa mengembalikan kepemilikan budaya pada generasi zamannya, sehingga anak-anak muda tidak menjadi gelandangan budaya, tetapi dapat menjadi salah satu tuan rumah atas tradisi nasional itu sendiri.
Kebudayaan yang telah bersinergi dengan kehidupan sehari-hari tentunya dapat membangun karakter dan mentalitas para pemuda-pemudi. Sebab kebudayaan sangat erat hubungannya dengan pertumbuhan masyarakat. Biasanya kebudayaan adalah sesuatu yang turun-temurun sehingga mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, ilmu pengetahuan, serta struktur yang ada pada masyarakat yaitu kearifan lokal itu sendiri. Dapat dipastikan bahwa kebudayaan tersebut akan menjadikan para pemuda-pemudinya lebih peduli terhadap lingkungan sekitar sehingga konservasi yang dilakukan tidak sia-sia. Oleh karena itu sudah selayaknya kita memikirkan bagaimana caranya untuk tetap mempertahankan kebudayaan lokal kita, eksistensi kebudayaan yang kita miliki merupakan proses sosial kompleks yang multi faset : melibatkan pendidikan, sains dan teknologi, ekonomi, politik. Setidaknya menjamin sinergitas antar fase tersebut cukuplah bagi kearifan lokal untuk dapat eksis.
Dengan kemampuan yang ada dan azas kebermanfaatan bagi masyarakat, silat tidak membentuk manusia menjadi sakti, tetapi untuk mencapai perbaikan kualitas kepribadian dan moral. Karena dalam pembelajaran ilmu silat itu ada disiplin dan aturan-aturan dimana kepribadian terbentuk bersamaan melalui proses-proses latihan, dan pendidikan moral terbentuk saat proses menjadi seorang pendekar sejati. Jika pedoman dasar kepribadian dan standar moral yang teguh, adaptif, progressif dan membudaya itu kita miliki barangkali pertikaian yang ada pada bangsa ini tidak perlu terjadi lagi.

tugas angwahyutr dalam mata kuliah sosiologi olahraga, 2009

Minggu, 12 Desember 2010

Pembinaan Kondisi Fisik Olahraga 2 (Sebuah Rangkuman)


Latihan adalah suatu proses perubahan kearah yang lebih baik, untuk meningkatkan kualitas fisik, kemampuan fungsional peralatan tubuh dan kualitas fisik anak latih.
Pelatih adalah seseorang yang memiliki kemampuan professional untuk membantu mengungkapkan potensi olahragawan menjadi kemampuan yang nyata secara optimal dalam waktu relatif singkat.
Tugas pelatih :
  • Membimbing
  • Membantu mengungkapkan potensi olahragawan
  • Merencanakan, menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi proses berlatih melatih
  • Mencari dan memilih bibit olahragawan berbakat
  • Memimpin dalam petandingan ( perlombaan )
  • Mengorganisasi dan mengelola proses latihan
  • Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
Olahragawan : seseorang yang menelusuri dan aktif melakukan latihan untuk meraih prestasi pada cabang olahraga yang dipilih.
Sasaran utama latihan fisik adalah untuk meningkatkan kualitas kebugaran energi (energi fitness dan kebugaran otot (muscular fitness).
Kebugaran energi :
  • Peningkatan kemempuan aerobic
  • Peningkatan kemampuan anaerobic
a.Anaerobic laktik
b.Anaerobic alaktik
Kebugaran otot : kekuatan, ketahanan, kecepatan, power, kelentukan, keseimbangan, koordinasi, dan kelincahan.

Kualitas Fisik Olahragawan : Latihan + beban
Terdapat 2 macam beban latihan :
§Beban luar: rangsang motorik yang dapat diatur dan oleh pelatih maupun olahragawan memvariasikan komponen latihan (intensitas, volum, recoveri, dan interval).
§Beban dalam: perubahan fiungsional yang terjadi pada peralatan tubuh sebagai pengaruh beben luar.
Saran dan tujuan latihan :
§Meningkatkan kualitas fisik dasar secara umum dan menyeluruh.
§Mengembangkan dan meningkatkan potensi fisik yang khusus
§Menambah dam menyempurnakan tekhnik.
§Mengembangkan dan menyempurnakan strategi, tekhnik, taktik, dan pola bermain.
§Meningkatkan kualitas dan kemampuan psikis olahragawan dalam bertanding.

PRINSIP-PRINSIP LATIHAN
Berikut ini akan dijabarkan beberapa prisip yang seluruhnya dapt dilaksanakan sebagai pedoman agar tujuan latihan tercapai dalam satu kali tatap muka antara lain :
  • Prinsip kesiapan
  • Prinsip individual
  • Prinsip adaptasi
  • Prisip beban lebih
  • Prinsip progresif
  • Prinsip spesifik
  • Prinsip fariasi
  • Prinsip pemanasan dan pendinginan
  • Prinsip latihan jangka panjang
  • Prinsip berkebalikan
  • Prinsip tidak berlebihan
  • Prinsip sistematik


KOMPONEN-KOMPONEN LATIHAN
Superkompensasi adalah perubahan kualitas fungsional peralatan tubuh kearah yang lebih baik, sebagai akibat dari pengaruh perlakuan beban luar yang tepat.
Komponen latihan yang menentukan proses terjadinya superkompensasi, antara lain :
  • Intensitas
Intensitas adalah ukuran yang menunjukan kualitas (mutu) suatu rangsang / pembebanan. Bisa ditentukan antara lain dengan cara :
a)1 RM ( repetition maximum )
b)Denyut jantung per menit
c)Kecepatan waktu tempuh
d)Jarak tampuh
e)Jumlah repetisi per waktu tertentu
f)Pemberian waktu recovery dan interval
  • Volume
Volume adalah ukuran yang menunjukan kuantitas (jumlah) suatu rangsang / pembebanan. Untuk menentukan besarnya volume dapat dilakukan dengan cara menghitung :
a)Jumlah bobot pemberatpersesi
b)Jumlah ulangan persesi
c)Jumlah set persesi
d)Jumlah pembebanan persesi
e)Jumlah seri persesi
f)Jumlah lama singkatnya pemberian waktu recovery dan interval
  • Recovery (t.r)
Recovery adalah waktu istiorahat yang diberikan pada saat antar setatau antar repetisi (ulangan). Ada 2 macam recovery dan interval :
a)Recovery dan interval lengkap : lebih dari 90 detik
b)Recovery dan interval tidak lengkap : kurang dari 90 detik
  • Interval (t.i)
Interval adalah waktu istirahat yang diberikan antar seri, antar sirkuit, atau antar repetisi (ulangan). Recovery dan interval pada prinsipnya sama tetapi recovery selalu lebih pendek (singkat) dari penberian waktu interval.
  • Repitisi
Repetisi adalah jumlah ulamgan yang dilakukan untuk setiap butir atau setiap item latihan.
  • Set
Set adalah jumlah ulangan untuk satu jenis butir latihann. Set dan repetisi mempunyai pengertian yang sama tetapi leyak perbedaannya, set dipakai unutk menyebutkan jumlah ulangan pada macam latihan yang tunggal, sedang repetisi dipakai untuk menyebutkan jumlah ulangan pada latihan dari beberapa betir (macam) aktivitas.
  • Seri atau sirkuit
Seri atau sirkuit adalah ukuran keberhasilan dalam menyelesaikan beberapa rangkaian butir latihan yang berbeda. Artinya dalam satu seri terdiri beberapa macam latihan yang semuanya harus diselesaikan dalam satu rangkaian.
  • Durasi
Durasi adalah ukuran yang menunjukan lamanyan waktu perangsangan (lam waktu latihan).
  • Densitas
Densitas adalah ukuran yang mrnunjukan padatnya perangsang (lama pembebanan). Padat atau tidaknyan waktu perangsang (densitas) ini sangat dipengaruhi oleh lamanya pemberian waktu recoverydan interval. Semakin pendek waktu recovery atau interval, maka densitas latihan semakin rendah.
  • Irama
Irama adalh ukuran yang menunjukan kecepatan pelaksanaan suatu perangsang atau pembebenan. Latihan dengan rangsangan meningkatkankekuatan yang bertujuan pada pembesaran otot.
  • Frekuensi
Frekuensi adalah jumalh latihan yang dilakukan dalam periode waktu tertentu. Bertujuan untuk menunjukan jumlah tatap muka (seri) latihan pada setiap minggunya.
  • Sesi atau unit
Sesi atau unit adalah jumlah materi program latihan yang disusun dan yang harus dilakukan dalam satu kali pertemuan (tatap muka).


SISTEM ENERGI
Pada dasarnya ada 2 macam system metabolisme energi yang diperlukan dalam aktivitas gerak manusia :
  • System energi anaerob
System anaerob selama proses pemenuhan energinya tidak menentukan bantuan oksigen (O2), namun menggunakan energi yang telah tersimpan di dalam otot, yaiti ATP dan PC. Pada sistem energi anaerob dibagi menjadi 2 yaitu :
a)Anaerobic alaktik : system ATP – PC menyediakan energi siap pakai yang diperlukan untuk permulaan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
b)Anaerobic laktik : sistem glikolisis (Asam laktat). Untuk aktivitas terus berlangsung, sedangkan persediaan energi dari system anaerobic alaktik sudah habis tidak mencukupi lagi, maka energi akan disediakan denagn cara mengurangi glikogen otot dan glukosa darah melalui jalur glikolisis anaerob (tanpa bantuan oksigen).
Ciri-ciri system energi anaerobic alaktik :
1)Intensitas kerja maksimal
2)Lama kerja kira-kira sampai 10 detik
3)Irama kerja eksplosif
4)Aktifitas menghasilkan ADP + energi
Cirri-ciri energi anaerobic laktik :
1)Intensitas kerja maksimal
2)Lama kerja antara10-20 detik
3)Irama kerja eksplosif
4)Aktifitas menghasilkan asam laktat + energi
  • System energi aerobic
Menyangkut serentetan reaksi kimia yang memerlukan adanya oksigen (O2). System ini digunakan untuk aktivitas dengan intensitas rendah yang dilakukan dalam waktu lebih dari 2 menit, maka laktat yang sudah tidak bias diresintesis lagi menjadi sumber energi. Untuk itu diperlukan O2 untuk membaru proses resintesis asam alaktat menjadi sumber energi kenbali.
Ciri-ciri system aerobic :
a)Intensitas kerja sedang
b)Lama kerja lebih dari 3 menit
c)Irama garek (kerja) lancar dan terus menerus (kontinu)
d)Selama aktivitas menghasilkan karbondioksida + air (CO2 + H2O)


PENYUSUNAN PROGRAN LATIHAN
Penyusunan program latihan adalah proses merencanakan dan menyusun materi, beban, sasaran, dan metode latihan pada setiap proses tahapan yang akan dilakukan oleh setiap olahragawan. Dalam penyusujnan program latihan perlu memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai faktor, meliputi : mengetahui biodata atlet, lanhkah-lanhkah penyusunan program, dan karakteristik cabang olahraga. Obyek latihan adalah manusia yang merupakan satu totalitas sistem psiko-fisik ytang kompleks, dan kondisinya bersifat labil dan sementara. Artinya, kondisi manusia selalau berubah sehingga dalam proses ke arah yang lebih baik, diantaranya untuk meningkatkan kualitas fisik, fungsional peralatan tubuh, dan kualitas psikis. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan program latihan.
  1. Biodata Olahragawan
Adapun biodata atlet yang diperluikan sebagai bahan pertimbangan utama dalam menentukan beban latihan yang antara lain meliputi :
1.klasifikasi atlet (pemula, menengah, tinmggi atau terlatih atau tidak)
2.usia latihan (lama latihan)
3.usia kronologis (tanggal lahir)
4.tinggi dan berat badan
5.denyut jantung istirahat
6.frekuemsi latihan yang akan dilaksanakan
7.waktu pelaksanaan pertandingan
8.kondisi kesehatan (pernah sakit atau belum, jenis penyaskit dan lama sakit).
  1. Langkah-langkah Penyusunan Program Latihan
Agar sasaran latihan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan, maka langkah-langkah tersebut diantaranya :
1.Waktu Pelaksanaan Pertandingan
Setelah mengetahui waktu dan jumlah pertyandingan, langkah selanjutnya adalah menghitungjumlah bulan, minggu, hari, danm jam yang tersedia untuk latihan. Pada setiap bulannya dirinci jumlah minggu yang ada. Setiap minggunya dihitung berapa hari yang dapat digunakan untuk latihan, sehingga dapat menentukan frekunsi yang akan dilakukian dalam setiap minggunya. Selanjutnya setiap sesi latihan berapa lama waktu yang tersedia untuk latihan, sehingga dapat menghitung jumlahjam latihan.
2.Diagnosis Kemampuan Awal
Materi diagnosis kemampuan awal meliputi keterampilan teknik, komponen biomotor yang diperluikan cabang olahraganya, antrophometri, dan kondisi psikologis atlet.
3.Penyusunan Program Latihan
Tujuan dari penyusunan materi program latihan adalah untuk meningkatkan kualitas keterampilan, kebugaran oto, dan kebugaran energi atlet. Program latihan yang baik seharusnya berisikan materi teori, materi prakter, metode, sasaran latihan yang dirinci pada setiap tahap periodisasi.
4.Penentuan Sasaran Latihan
Secara praktek sasaran latihan adalah meningkatkan kualitas keterampilan, kebugaran fisik, dan kebugaran energi atlet. Dalam mengatur pembebanan ada 4 komponen yang ikut menentukan keberhasilan proses pembebanan, yaitu : intensitas, volum, recovery, dan interval.
5.Tujuan Mengacu Pada Periodisasi Latihan
Tujuan latihan fisik adalah meningkatkan kebugaran energi dan kebugaran otot
PeriodisasiSasaran Latihan
Periode Transisi: memelihara kebugaran jasmani: meningkatkan ketahanan aerobik
Periode Persiapan: meningkatkan kekuatan umu dan khusus: meningkatkan kecepatan
: meningkatkan powert
PeriodisasaiSasaran latihan
Periode Kompetisi: meningkatkan kemampuan anaerobik: miningkatkan ketahanan anaerobik
: bentuk latihan dengan kecepatan dan power
6.Pelaksanaan dan Pemantauan Program
Selama proses latihan diperlukan pemantauan, dengan maksimal agar proses latihan sesuai de3ngan sasaran pada waktu periode tertentu, Selain itu juga untuk mengetahui apakah metode yang dilakukan sudah cocok dengan tujuan.
7.Umpan Balik
Bila terjadi kesalahan pada materi latihan, misalnya teknik, maka umpan balik dapat diberikan secara langsung. Hal itu dimaksudkan agar atlet segera mengetahui letak kesalahan dan membenahi untuk dapat melakukan ke arah yang benar.
8.Penyusunan Kembali Program Latihan
Apabila dalam proses pemantauan benar-benar terjadi penyimpangan yang diperkirakan dapat mengakibatkan tujuan latihan tidak tercapai, maka dengan segera diadakan peninjauan kembali terhadap program dan proses latihan yang telah berjalan.


  1. Peninjauan Karakteristik Cabang Olahraga
1)Predominan Sistem energi
Secara umum setiap cabang olahraga memerlukanenergi aerobik. Sebab kemampuan energi aerobik sebagai landasan untuk pengembangan sistem energi yang lain, yaitu anaerobik alaktik dan anaerobik alaktik. Dengan mengetahui predomonan sistem energi yang digunakan pada satu cabang olahraga, dapat sebagai dasar peretimbangan dalam memilih dan menentukan metode peningkatannya.
2)Predominan Komponen Biomotor
Biomotor adalah terjadinya gerak pada manusia yang dipengaruhi oleh sistem lain yang ada dalam dirinya. Sistem lain tersebut diantarannya adalah energi, otot, tulang, dan sistem kardiorespirasi.
3)Jenis Otot
Secara garis besar otot yang dimiliki manusia dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu : 1. otot merah karena mengandung hemoglobin, sehingga jenis otot merah sesuai cabang olahraga yang memerlukan daya tahan aerobik. 2. otot putih ebih tepat untuk jenis olahraga yang memerlukan kecepatan.
4)Otot dan Ekstrimitas yang Bekerja
5)Lama Pertandingan
Lama waktu berlangsungnya pertandingan dan densitas untuk setiap cabang olahraga berbeda-beda dimana sangat erat kaitannyan dengna waktu recovery dan interval yang digunakan selama bertanding.
6)Jenis Olahraga
Jenis pertandingan olahraga dibedakan menjadi body contact dan non body contact serta individu dan beregu. Pada olahraga bersifat body contact jenis kekuatan maksimal diperlukan sedangkanyang non body contact lebih memerlukan jenis kekuatan yang lain. Padea permainan individu memerlukan mobilitas yang tinggi. Artinya intensitasnya menjadi relatif labih berat. Sedeang pada permainan beregu relatiflabih ringan.
7)Macam dan Irama Gerak
Gerak dibedakan menbjadi garaj siklus dan non siklus. Gerak siklus adalah gerak yang dilakukan secara terus menerus, sedangkan gerak non siklus adalah gerak yang dilakukan secara terputus-putus.
Jenis Lapangan
9)Teknik dan Taktik
Tekhnik adalah suatu gerak yang dilakukan secara tepat berdasarkan kemampuan lokomotor, kondisi mekanik dan peraturan permainan. Taktik adalah kemampuan atlet mengatasi segala situasi dan pernasalahan yang terjadi di lapangan untuk mendapat keuntungan.


KOMPONEN BIOMOTOR
Biomotor adalah kemampuan gerak manusia yang dipengaruhi oleh kondisi system organ dalam. Komponen biomotor dipengaruhi oleh kondisi 2 hal :
  • Kebugaran energi (energy fitness)
  • Kebugaran otot (muscular fitness)
Kebugaran energi terdiri atas kapasitas aerobic dan kapasitas anaerobic. Kebugaran otot adalah keseluruha dari komponen-komponen biomotor yang meliputi kekuatan, ketahanan, kecepatan, power, fleksibelitas, keseinbangan dan kelincahan. Kebugaran jasmani adalah suatu peralatan tubuh yang mampu memelihara tersedianya energi sebelum, selama, dan sesudah kerja.
  1. KETAHANAN
Ketahanan adalah kemampuan peralatan organ tubuh olahragawan untuk melawan kelelahan selama berlangsungnya aktivitas. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan olahragawan agar dapat mengatasi kelelahan selama aktivitas kerja berlangsung.
Hubungan antara ketahanan dan kinerja(penampilan) fisik olahragawan antara lain :
1)Kemampuan untuk melakukan aktivitas kerja secara terus menerus dengan intensitas tinggi edan dalam waktu yang lama
2)Kemampuan memperpendek waktu recovery
3)Kemempuan menerima beban latihan lebih berat, lebih lama, dan bervariasi
Menurut jenisnya ketahanan ada 2 yaitu :
1)Ketahanan umum (dasar) : kemempuan olahragawan dalam melakukan kerja dengan melibatkan beberapa kelompok otot atau seluruh kelompok otot, system pusat syaraf, system neuromuskuler, dan kardiorespirasi dal;am jangka waktu yang alma.
2)Ketahanan khususu adalah krtahanan yang hanya amelibatkan sekelompok otot local artinaya ketahanan yang diperlukan sesuai denagn kebutuhan cabornya.
Menurut lama kerjanya dibedakan menjadi 5 yaitu :
1)Ketahanan jangka panjang ; ketahanan yang diperlukan selama aktivitas kerja dalam waktu lebih dari 8 menit.
2)Ketahanan jangka menengah : aktivitas olahraga yang memerlukan waktu antara 2-6 menit.
3)Ketahanan pendek : aktivitas olahraga yang memerlukan waktu antara 45 detik sampai 2 menit.
4)Ketahanan otot : kemampuan sekelompok otot atau seluruh otot untuk mengatasi beban latihan dalam jangka waktu tertentu.
5)Ketehanan kecepatan / stamina : kemampuan seseorang untuk melakukan rangkaian gerak denagn intensitas maksimal dalam jangka waktu yang lebih lama.
Berdasarkan penggunaan energi dibedakan menjadi :
1)Ketahanan aerobic : kemempuan seseorang untuk mengatasi beban latiahn dalam jangka waktu lebih dari 3 menit secara terus menerus.
2)Ketahanan aerobic laktik : kemampuan seseorang untuk mengatasi beban latihan dengan intensitas maksimal dalam jangka waktu antara 10-120 detik.
3)Ketahanan anaerobic alaktik : kemampuan seseorang untuk mengatasi beban dengan intensitas maksimal dalam jangka waktu kurang dari 10 detik.
Faktor yang mempengaruhi ketahanan :
1)System pusat syaraf
2)Kemauan (motivasi) olahragawan
3)Kapasitas aerobic
4)Kapasitas anaeribik
5)Kecepatan cadangan
6)Intensitas, frekuensi, dan durasi
7)Factor keturunan
Umur dan jenis kelamin
Metode latihan ketahanan :
§Latihan Aerobik
Latihan aerobik bertujuan untuk mempersiapkan sistem sirkulasi dan respirasi, penguatan pada tendo dan ligamenta, mengurangi terjadinya cideras, serta penyediaan sumber energi untuk aktivitas dengan intensitas yang tinggi dan berlangsung lama. Selain itu akan mengembangkan stamina (daya tahan) dan sistem energi untuk serabut otot merah (slow-twitch/lambat).
§Latihan Ambang Rangsang Anaerobik
Ambang rangsang anaerobik adalah satu keadaan dimana energi secara aerobik sudah tidak mampu lagi mensuplai kebutuhan energi, tetapi pemenuhannya secara anaerobik. Artinya, titik perpindahan penggunaan energi dari aerobik ke anaerobik, yang ditandai dengan menghasiklakan asam laktat dalam jumlah yang banyak pada aktivitasnya.
Dari beberapa macam metode latihan untik meninhkatkan ketahanan baik yang aerobik maupun yang anaerobik, dal;am memilih metodo yang cocok disesuaikan dengan sasaran latihan, aktivitas cabang olahraga, macam gerak, dam lamanya waktu pertandingan.
Berdasarkan beberapa metode latihan ketahanan dan prediksi peningkatan sistem energinya, maka menurut Rushall dean Pyke (1992) dapat dikelompokkan menjadi :
1)Metode Latihan Kontinyu (continous running).
a.Latihan kontinyu dengan intensitas rendah (jogging)
b.Latihan kontinyu dengan intensitas tinggi
2)Fartlek (metode memainkan kecepatan)
a.Fartlek intensitas tinggi
b.Fartlek intensitas rendah
3)Interval
a.Interval panjang
b.Interval menengah
c.Interval pendek
Selain itu Bompa (1994) menambahkan metode latihan untuk meninhkatkan sistem energi yang dikelompokkan menjadi :
1.Latihan untuk toleransi asam laktat
2.latihan untuk konsumsi oksigen
3.latihan untuk ambang rangsang anaerobik
4.latihan untuk sistem phospat
5.latihan untuk ambang rangsang aerobik


A.Metode Latihan Kontinyu
Metode latihan kontinyu denganmenggunakan bentuk berlari, berenang, ataubersepeda dan menempuh jarak yang panjang (jauh). Misalnya berlari caranya adalah lari terus-menerus yang pelaksanaannya sewbagai berikut :
1)Olaragawan berlari selama, misalnya 30 menit secara terus-menerus.
2)Setiap 5 menit berlari berhenti 10 detik untuk mengecek denyut jantung.
3)Pelatih memberi aba-aba mulai dan stop untuk penghitungan denyut jantung.
4)Olahragawan menghitung denagn cara meraba pembuluh darah yang di leher.
5)Lama penghitungan 6 detik dikalikan 10. Bila hasilnya kurang dari 140x/menit kecepatan ditambah, dan sebaliknya bila lebih dari 160x/menit diperlambat.
6)Pelatih dan olahragawan selalu membawa alat tulis untuk mencatat hasil latihan.
7)Pengecekan dilakukan untuk mengetahui apakah latihan sudah masuk dalam zona latihan yang ditentukan atau belum.
Sebelum melakukan latihan harus dikrtahui lebih dulu denyut jantung latihannya.
Tabel : Perkiraan Menghitung Denyut Jantung Maksimal
RumusDenyut JantungKeterangan
220-usia> 60 x/menitTidak terlatih
210-usia51-59 x/menitTerlatih
200-usiaSangat terlatih
Selanjutnya cara menentukan intensitas latihan menggunakan ukuran denyut jantung atau dengan mengfhitung denyut jantung latihan menggunakan rumus sebagai berikut :
DJ. Latihan = DJ. Istirahat +…%(DJ. Maksimal-DJ> Istirahat
Keterangan :
DJ. Istirahat= denyut jantung istirahat (diukur saat bangun tidur).
…%= ukuran besarnya intansitas latihan yang dikehendaki.
DJ. Maksimal = denyut jantung maksimal (disesuaikan dengan DJ istirahat individu).
Pentingnyan kondisi fisik :

§Sebagai fondasi untuk belajar teknik, taktik, strategi, dan mental
§Menegah cidera/mengurangi resiko cidera
§Manpu berlatih relatif berat
§Mempertahankan postur
§Meningkatkan percaya diri.



Pengertian kondisi fisik dalam olahraga :
§Adalah kemampuan untuk memenuhi tuntutan prestasi optimal suatu olahraga
§Tinggi rendahnya tuntutabn tersebut tergantung pada spesifikasi cabang olahraga
§Semakin intensif dan gerakan kompleks lebih menuntut komponen fisik lebih kompleks
§Kondisi fisik bersifat labil/tidak permanen
§Latihan fisik lebih optimal jika di desain khusus melalui pentahapan yang sistematis.


daftar pustaka:
Awan H. (2006). Metode Melatih Fisik Pencak Silat.  Yogyakarta: FIK UNY
Suharno H.P. (1985). Ilmu Kepelatihan Olahraga. Yogyakarta: FPOK IKIP Yogyakarta
Sukadiyanto. (2005). Pengantar Teori dan Metodologi Melatih Fisik. Yogyakarta: FIK UNY.

Kamis, 11 November 2010

Pembinaan Kondisi Fisik Olahraga 1 (Sebuah Rangkuman)


Pada prinsipnya kondisi fisik merupakan suatu hal yang penting untuk olahraga prestasi karena kondisi fisik sangat menentukan kualitas dan kemampuan anak latih untuk mencapai tuntutan prestasi yang optimal suatu olahraga. Pentingnya kondisi fisik sebagai fondasi terwujudnya prestasi yang maksimal, maka dalam pencapainnya dibutuhkan kerjasama antara pelatih yang berpengalaman dan berpengetahuan dengan ilmuwan olahraga yang benar-benar menekuni di bidang olahraga. Sebab dalam proses berlatih melatih kondisi fisik diperlukan berbagai pengetahuan pendukung agar latihan kondisi fisik dapat berhasil sesuai yang diharapkan.

Pengertian kondisi fisik dalam olahraga yaitu suatu kualitas fisik, kualitas psikis, dan kemampuan fungsional peralatan tubuh individu dalam memenuhi tuntutan prestasi yang optimal pada spesifikasi cabang olahraga tertentu. Latihan kondisi fisik didisain khusus melalui pentahapan yang sistematis dan metodis untuk pengembangan kondisi fisik lebih optimal. Kondisi fisik menjadi hal yang penting bagi anak latih sebab kondisi fisik sebagai fondasi untuk belajar teknik, taktik, strategi, dan mental. Drilling teknik dan taktik yang intensif dengan gerakan yang komplek adalah satu cara meningkatkan komponen fisik yang komplek pula. Manfaat latihan fisik yang baik akan meraih prestasi yang lebih baik, tidak mudah cidera dan cepat pulih bila cidera, mencegah kelelahan mental dan memperbaiki konsentrasi, mudah pulih setelah latihan berat dan kompetisi berat, tidak lelah sekalipun dalam pertandingan lama, jarang nyeri otot dan meningkatkan rasa percaya diri.

Pengertian latihan ini dapat mengandung beberapa makna dalam bahasa inggris yaitu practise, exrcise, dan training. Dalam istlah bahasa Indonesia kata-kata tersebut mempunyai arti yang sama yaitu latihan dan setelah diaplikasikan di lapangan memang nampak sama kegiatannya yaitu aktivitas fisik. Pengertian latihan yang berasal dari kata:
Practise : aktivitas untuk meningkatkan keterampilan (kemahiran) berolahraga dengan menggunakan berbagai peralatan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan cabang olahraganya.
Exercises : perangkat utama dalam proses latihan harian untuk meningkatkan kualitas fungsi sistem organ tubuh manusia, sehingga mempermudah olahragawan dalam penyempurnaan geraknya.
Training : suatu proses penyempurnaan kemampuan berolahraga yang berisikan materi teori dan praktek, metode, dan aturan pelaksanaan sesuai dengan pendekatan ilmiah, memakai prinsip pendidikan yang terencana dan teratur sehingga tujuan dan sasaran latihan dapat tercapai tepat pada waktunya.
Latihanproses berlatih yang dilakukan secara teratur, terencana berulang-ulang dan semakin lama semakin bertambah bebannya, serta dimulai dari yang sederahana ke yang lebih kompleks (sistematis dan metodis).

Salah satu ciri dari latihan, baik yang berasal dari kata dalam bahasa Inggris maupun dari bahasa Indonesia, adalah adanya beban latihan. Oleh karena diperlukannya beban latihan selama proses berlatih melatih agar hasil latihan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas fisik, psikis, sikap, dan sosial olahragawan, sehingga puncak prestasi dapat dicapai dalam waktu yang singkat dan dapat bertahan relatif lebih lama. Sasaran utama dari latihan fisik adalah utuk meningkatkan kualitas kebugaran energi (energy fitness) dan kebugaran otot ( muscular fitness). Kebugaran energi meliputi peningkatan kemampuam aerobik dan anaerobik baik yang alaktik maupun laktik. Untuk kebugaran otot meliputi peningkatan kemampuan biomotor yang antara lain mencakup: kekuatan, ketahanan, kecepatan, power, kelentukan, keseimbangan, koordinasi, dan kelincahan. Beban latihan merupakan rangsang motorik (gerak) yang dapat diatur dan dikontrol oleh pelatih maupun olahragawan untuk memperbaiki kualitas fungsional berbagai peralatan tubuh.

Tugas utama dalam latihan adalah menggali, menyusun dan mengembangkan konsep berlatih dengan memadukan antara pengalaman praktis dan pendekatan keilmuan, sehingga proses berlatih melatih dapat berlangsung tepat, cepat, efektif, dan efisien. Sehingga proses latihan tersebut selalu bercirikan antara lain:
a.Proses latihan harus teratur dan bersifat progresif.
b.Materi latihan harus berisikan materi teoti dan praktek.
c.Pada setiap kali tatap muka harus memiliki tujuan dan sasaran.
d.Menggunakan metode tertentu.
e.Mencapai tingkat kemampuan yang lebih baik dalam berolahraga, yang memerlukan waktu tertentu (pentahapan), serta memerlukan perencanaan yang tepat dan cermat.

Adapun sasaran dan tujuan latihan secara garis besar, antara lain untuk:
(a) meninngkatkan kualitas fisik dasar secara umum dan menyeluruh,
(b) mengembangkan dan meningkatkan potensi fisik yang khusus,
(c) menambah dan menyempurnakan teknik, dan
(e) meningkatkan kualitas dan kemampuan psikis olahragawan dalam bertanding.

Prinsip latihan merupakan hal-hal yang harus ditaati, dilakukan atau dihindari agar tujuan latihan dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip latihan memiliki peranan penting terhadap aspek fisiologis dan psikologis olahragawan. Dengan memahami prinsip-prinsip latihan, akan mendukung upaya dalam meningkatan kualitas latihan. Selain itu, akan dapat menghindarkan olahragawan dari rasa sakit dan timbulnya cidera selam dalm proses latihan. Dalam mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip latihan ini harus hati-hati, serta memerlukan ketelitian, ketepatan dalam penyusunan dan pelaksanaan program. Pada dasarnya latihan olahraga adalah merusak, tetapi proses perusakan yang dilakukan agar berubah menjadi lebih baik, tetapi dengan syarat pelaksanaan latihan harus mengacu dan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan. Beberapa prinsip-prinsip latihan yang seluruhnya dapat dilaksanakan sebagai pedoman agar tujuan latihan tercapai dalam satu kalitatap muka, antara lain: prinsip kesiapan, individual, adaptasi, beban lebih, progresif, spesifik, variasi, pemanasan dan pendinginan, latihan jangka panjang, prinsip berkebalikan, tidak berlebihan, dan sistematik.

Pada tujuan latihan, prinsip kesiapan harus sesuai dengan materi, dosis latihan dan usia olahragawan. Pada prinsip individual, setiap olahragawan akan berbeda dalam merespon beban latihan sehingga beban latihan setiap orang tidak dapat disamakan. Faktor yang menyebabkan perbedaan kemampuan anak dalam merespon beban latihan antara lain faktor keturunan, kematangan, gizi, waktu istirahat dan tidur, kebugaran, lingkungan, sakit cidera, dan motivasi. Pada prinsip adaptasi, organ tubuh manusia cinderung selalu mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya. Sehingga kemampuan manusia dapat dipengaruhi dan ditingkatkan melalui latihan. Latihan menyebabkan terjadinya proses adaptasi pada organ tubuh. Tingkat kecepatan tubuh olahragawan mengadaptasi setiap beban latihan tergantung dari usia, usia latihan, kualitas kebugaran otot, kebugaran energi, dan kualitas latihannya. Ciri-ciri terjadinya proses adaptasi pada tubuh akibat dari latihan, yaitu:
(1) kemampuan fisiologis ditandai dengan membaiknya sistem pernafasan, fungsi jantung, paru, sirkulasi darah, dan volume darah,
(2) meningkatnya kemampuan fisik yaitu ketahan otot, kekuatan dan power,
(3) tulang ligamenta, tendo, dan hubungan jaringan otot menjadi lebih kuat. Pada prinsip beban lebih (overload) dilakukan secara progresif dan diubah sesuai dengan tingkat perubahan yang terjadi pada olahragawan. Pada prinsip beban lebih, latihan harus mencapai atau melampui sedikit di atas ambang rangsang, sehingga beban latihan harus memenuhi prinsip moderat dan meningkat secara progresif. Dengan memperhatikan tiga faktor yaitu frekuensi, intensitas, dan durasi. Pada prinsip progresif, hampir sama dengan prinsip beban lebih, dilaksanakan secara bertahap maju dan berkalanjutan. Dalam menerapkannya dilakukan bertahap, cermat, konyinyu, tepat. Pada prinsip selanjutnya setiap bentuk latihan harus sesuai dengan kebutuhan cabang olahraganya, program latihan harus disusun dengan variatif untuk menghindari kejenuhan, kengganan dan keresahan yang merupakan kelelahan secara psikologis.

Komponen latihan merupakan hak penting yang harus dipertimbangkan dalam menentukan dosis dan beban latihan, sebab sebagai patokan dan tolak ukur yang sangat menentukan untuk tercapainya suatu tujuan dan sasaran latihan yang telah disusun dan dilaksanakan. Superkompensasi adalah perubahan kualitas fungsional peralatan tubuh kearah yang lebih baik, sebagai akibat dari pengaruh perlakuan beban luar yang tepat. Komponen latihan yang menentukan proses terjadinya superkompensasi, antara lain : (a) intensitas, (b) volume, (c) recovery, (d) interval, (e) repetisi, (f) set, (g) seri atau sirkuit, (h) durasi, (i) densitas, (j) irama, (k) frekuensi, dan (l) sesi atau unit.

Pada dasarnya ada 2 macam system metabolisme energi yang diperlukan dalam aktivitas gerak manusia: System energi anaerob: System anaerob selama proses pemenuhan energinya tidak memerlukan bantuan oksigen (O2), namun menggunakan energi yang telah tersimpan di dalam otot, yaiti ATP dan PC. Pada sistem energi anaerob dibagi menjadi 2 yaitu :
a)Anaerobic alaktik : system ATP – PC menyediakan energi siap pakai yang diperlukan untuk permulaan aktivitas fisik dengan intensitas tinggi.
b)Anaerobic laktik : sistem glikolisis (Asam laktat). Untuk aktivitas terus berlangsung, sedangkan persediaan energi dari system anaerobic alaktik sudah habis tidak mencukupi lagi, maka energi akan disediakan dengan cara mengurangi glikogen otot dan glukosa darah melalui jalur glikolisis anaerob (tanpa bantuan oksigen).Ciri-ciri system energi anaerobic alaktik ; (a) Intensitas kerja maksimal, (b) Lama kerja kira-kira sampai 10 detik, (c) Irama kerja eksplosif, (d) Aktifitas menghasilkan ADP + energi. Ciri-ciri energi anaerobic laktik: (a) Intensitas kerja maksimal, (b) Lama kerja antara10-20 detik, (c) Irama kerja eksplosif, (d) Aktifitas menghasilkan asam laktat + energi. System energi aerobic : Menyangkut serentetan reaksi kimia yang memerlukan adanya oksigen (O2). System ini digunakan untuk aktivitas dengan intesitas rendah yang dilakukan dalam waktu lebih dari 2 menit, maka laktat yang sudah tidak biasa diresintesis lagi menjadi sumber energi. Untuk itu diperlukan O2 untuk membarui proses resintesis asam laktat menjadi sumber energi kembali. Ciri-ciri system aerobic : (a) Intensitas kerja sedang, (b) Lama kerja lebih dari 3 menit, (c) Irama garek (kerja) lancar dan terus menerus (kontinu), (d) Selama aktivitas menghasilkan karbondioksida + air (CO2 + H2O).

Penyusunan program latihan adalah proses merencanakan dan menyusun materi, beban, sasaran, dan metode latihan pada setiap proses tahapan yang akan dilakukan oleh setiap olahragawan. Dalam penyusunan program latihan perlu memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai faktor, meliputi : mengetahui biodata atlet, langkah-langkah penyusunan program, dan karakteristik cabang olahraga. Obyek latihan adalah manusia yang merupakan satu totalitas sistem psiko-fisik yang kompleks, dan kondisinya bersifat labil dan sementara. Artinya, kondisi manusia selalau berubah sehingga dalam proses ke arah yang lebih baik, diantaranya untuk meningkatkan kualitas fisik, fungsional peralatan tubuh, dan kualitas psikis. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan program latihan ada tiga yaitu (a) biodata olahragawan meliputi: (1) klasifikasi atlet (pemula, menengah, tinmggi atau terlatih atau tidak), (2) usia latihan (lama latihan), (3) usia kronologis (tanggal lahir), (4) tinggi dan berat badan, (5) denyut jantung istirahat, (6) frekuemsi latihan yang akan dilaksanakan, (7) waktu pelaksanaan pertandingan, (8) kondisi kesehatan (pernah sakit atau belum, jenis penyaskit dan lama sakit). (b) langkah-langklah penyusunan program latihan meliputi : (1) Waktu Pelaksanaan Pertandingan (mengetahui waktu dan jumlah pertandingan, menghitung jumlah bulan, minggu, hari, danm jam yang tersedia untuk latihan), (2) Diagnosis Kemampuan Awal (keterampilan teknik, komponen biomotor yang diperluikan cabang olahraganya, antrophometri, dan kondisi psikologis atlet), (3) Penyusunan Program Latihan (meningkatkan kualitas keterampilan, kebugaran otot, dan kebugaran energi atlet. Program latihan yang baik seharusnya berisikan materi teori, materi prakte, metode, sasaran latihan yang dirinci pada setiap tahap periodisasi), (4) Penentuan Sasaran Latihan (meningkatkan kualitas keterampilan, kebugaran fisik, dan kebugaran energi atlet. Dalam mengatur pembebanan ada 4 komponen yang ikut menentukan keberhasilan proses pembebanan, yaitu : intensitas, volum, recovery, dan interval), (5) Tujuan Mengacu Pada Periodisasi Latihan (meningkatkan kebugaran energi dan kebugaran otot), (6) Pelaksanaan dan Pemantauan Program (agar proses latihan sesuai dengan sasaran pada waktu periode tertentu, dan juga untuk mengetahui apakah metode yang dilakukan sudah cocok dengan tujuan), (7) Umpan Balik (bila terjadi kesalahan pada materi latihan, maka umpan balik dapat diberikan secara langsung, dimaksudkan agar atlet segera mengetahui letak kesalahan dan membenahi untuk dapat melakukan ke arah yang benar), (8) Penyusunan Kembali Program Latihan (apabila dalam proses pemantauan benar-benar terjadi penyimpangan yang diperkirakan dapat mengakibatkan tujuan latihan tidak tercapai, maka dengan segera diadakan peninjauan kembali terhadap program dan proses latihan yang telah berjalan). (c) peninjauan karakteristik cabang olahraga meliputi : (1) Predominan Sistem Energi (dengan mengetahui predomonan sistem energi yang digunakan pada satu cabang olahraga, dapat sebagai dasar pertimbangan dalam memilih dan menentukan metode untuk peningkatannya), (2) Predominan Komponen Biomotor (terjadinya gerak pada manusia yang dipengaruhi oleh sistem lain yang ada dalam dirinya diantarannya adalah energi, otot, tulang, dan sistem kardiorespirasi), (3) Jenis Otot (otot yang dimiliki manusia dikelompokkan menjadi dua macam yaitu : (a) otot merah karena mengandung hemoglobin, sehingga jenis otot merah sesuai cabang olahraga yang memerlukan daya tahan aerobik, (b) otot putih lebih tepat untuk jenis olahraga yang memerlukan kecepatan), (4) Otot dan Ekstrimitas yang Bekerja, (5) Lama Pertandingan (lama waktu berlangsungnya pertandingan dan densitas untuk setiap cabang olahraga kaitannyan dengan waktu recovery dan interval yang digunakan selama bertanding), (6) Jenis Olahraga (jenis pertandingan olahraga dibedakan menjadi body contact dan non body contact serta individu dan beregu), (7) Macam dan Irama Gerak (gerak dibedakan menjadi gerak siklus dan non siklus. Gerak siklus adalah gerak yang dilakukan secara terus menerus, sedangkan gerak non siklus adalah gerak yang dilakukan secara terputus-putus), (8) Jenis Lapangan, (9) Teknik dan Taktik (teknik adalah suatu gerak yang dilakukan secara tepat berdasarkan kemampuan lokomotor, kondisi mekanik dan peraturan permainan. Taktik adalah kemampuan atlet mengatasi segala situasi dan pernasalahan yang terjadi di lapangan untuk mendapat keuntungan)

Biomotor adalah kemampuan gerak manusia yang dipengaruhi oleh kondisi system organ dalam. Sistem organ dalam yang dimaksud yaitu sistem neuromuskular, pernafasn, peredaran darah, sistem energi, tulang dan persendian. Komponen biomotor dipengaruhi oleh kondisi 2 hal :
a)Kebugaran energi (energy fitness)
b)Kebugaran otot (muscular fitness)
Kebugaran energi terdiri atas kapasitas aerobic dan kapasitas anaerobic. Kebugaran otot adalah keseluruha dari komponen-komponen biomotor yang meliputi kekuatan, ketahanan, kecepatan, power, fleksibelitas, keseinbangan dan kelincahan. Kebugaran jasmani adalah suatu peralatan tubuh yang mampu memelihara tersedianya energi sebelum, selama, dan sesudah kerja.

Disunting dari pengantar teori dan metodologi melatih fisik oleh Prof. Dr. Sukadiyanto, M.Pd