Kamis, 26 April 2012

Semangkuk Bakmie dan Kasih Sayang IBU

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?” Tanya si pemilik kedai.
“Tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”

Ana, terhenyak mendengar hal tersebut. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya".

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.

RENUNGAN :

BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA. SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR. PIKIRKANLAH HAL ITU?? APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?

(FORWARD DARI ARTIKEL DUNIA MAYA)

Jumat, 09 September 2011

Musim Lebaran Musim Perjodohan

                Jodoh? Pasangan? Calon Suami/Istri? Kah yang dicari saat hari raya kemarin? Beberapa hari yang lalu saat berlebaran dan pulang kampung, tak jauh-jauh pertanyaan yang diajukan oleh banyak pihak dari keluarga, kerabat maupun tetangga. “Sudah kerja? Dimana? Jadi apa? Sekarang sudah punya pacar? Siapa namanya? Rumahnya mana? Kerja apa?” Dan terakhir pertanyaan yang sering dilontarkan : “Kapan Menikah?” Begitulah budaya kita, yang seringkali senang mencampuri urusan orang lain meski pertanyaan tersebut mewakili mereka untuk mengatakan “sayang” kepada kita tetapi dengan kata-kata yang berbeda. Akankah pertanyaan itu usai setelah kita memiliki suami/istri? Belum, tentu saja belum selesai, setelah itu kita diberi pertanyaan lagi : “Sudah punya anak? Berapa? Sekolah dimana?” setelah itu anak kita ditanya lagi mulai dari : “ Sudah punya pacar? Kuliah dimana?” dan selanjutnya berputar kepada pertanyaan kita diawal tadi begitu seterusnya tanpa berkesudahan dan kembali lagi tiada henti. Kemungkinan bila kita-kita ini yang meninggal terlebih dulu (Insya Allah dalam keadaan Khusnul Khotimah. Aamiin), maka pertanyaannya akan dilanjutkan oleh anak cucu kita dan seterusnya. Hal ini merupakan siklus yang berantai tak ada kata putusnya. Kemungkinan masih banyak pertanyaan yang akan diajukan meski formatnya sama tetapi pada keluarga kita yang berbeda. Hal itu merupakan kehendak nafsu dari manusia untuk ingin mengetahui kabar dari manusia lain, hal itu wajar-wajar saja bila satu-dua pertanyaan dan tidak memberondong dengan pertanyaan yang menyangkut privasi diri kita. Memang manusia tiada puas untuk mencari sensasi berita dari orang lain, dipicu juga dengan infotainment yang ditayangkan oleh televisi semakin tidak jelas membedakan mana fakta mana ilusi. Manusia yang merasa harus tahu keadaan orang lain ini dapat menularkan kepada manusia-manusia lainnya sehingga terbentuklah efek domino yang entah berhenti dimana dan kapan kita tidak tahu.

Banyak teman-teman yang sering berkeluh dan berkata kadang tidak merasa nyaman dengan keadaan seperti itu, tetapi inilah budaya kita saat lebaran. Di waktu lebaran keluarga dan kerabat jauh pun pasti akan berusaha untuk berkumpul (satu trah) sehingga dalam kesempatan ini digunakan untuk lebih banyak mengetahui keadaan keluarga yang lain yang berbeda kota ataupun pulau. Konyol juga, padahal saat ini teknologi komunikasi sudah sebegitunya maju, dan kemungkinan untuk bisa menanyakan kabar lewat alat-alat komunikasi tersebut cukup terbuka. Itulah uniknya saat berkumpul dengan keluarga besar di musim lebaran ini. Banyak hal yang akan diperoleh sebenarnya pada saat lebaran ini. Tentu saja jodoh menjadi bagian yang sangat berpengaruh dan penting. Hal ini mengingat bahwa silaturahmi mendatangkan rezeki (termasuh jodoh lho?meski berbeda (^_^)hehe.) bagi yang mau mengunjungi saudara-saudaranya. Kok bisa? Tentu bisa, karena dengan bantuan dari “pihak-pihak yang tidak kita perhitungkan” maka dari sanalah jodoh menemukan kita atau kita menemukan jodoh. Jodoh memang sulit untuk dipastikan dengan balutan yang anggun dari lembaran kain misteri takdirnya. Seperti halnya kematian, rezeki begitu juga jodoh merupakan rahasia dari Allah SWT yang kita tidak akan pernah tahu kapan munculnya pada diri kita (kecuali beberapa orang yang diberi sedikit pengetahuan dari Allah SWT tentang hal itu). Kembali persoalan teman-teman tadi, persoalan yang dihadapi saat bertemu keluarga besar tadi sebenarnya sangat sederhana. Ada seorang teman yang menceritakan “sangking pegelnya” (sudah berada di puncak untuk marah) mengatakan : “ Kulo mboten ngertos kapan, nggih cobi tanglet ingkang dhamel kulo, menawi panjenengan dipun kabari” (Ya saya tidak tahu kapan nikahnya+ketemu jodoh saya, ya coba tanyakan pada Allah SWT yang membuat saya hidup, mungkin anda akan diberitahu). Sebagai teman cukup prihatin juga sebegitunya keingintahuan manusia terhadap rahasia yang memang disimpan oleh Allah SWT untuk hamba-hambanya. Sederhananya bila kita diberi pertanyaan perihal jodoh dan nikah sebaiknya kita tetap menjawab ala kadarnya atau malah kita menawarkan diri kita untuk diperkenalkan dengan sahabat-sahabat yang dimilikinya. Hal ini cukup penting agar terbuka pintu silaturahmi dari pihak-pihak yang tidak kita sangka-sangka. Sebab kita juga tidak tahu dari pintu silaturahmi yang mana kita bertemu dengan jodoh kita. Tentu hal ini akan membuat kita dan juga kerabat kita tadi berpikir dua kali. Tetapi biasakanlah, sebab bila kita sudah terbiasa maka kita tidak akan sakit hati karena pertanyaannya. Malah kita menjadi santai dan senang sebab ada dari keluarga dan kerabat kita yang tetap setia memperhatiakan kita.

Bagaimana dengan orang yang berstatus pacaran? Orang yang berstatus pacaran menganggap bahwa jodohnya telah ketemu sehingga berpacaran dulu untuk mengetahui seluk beluk serta lika-liku watak pasangannya. Perjodohan yang direncanakan oleh keluarganya akan disangkal bagi orang-orang yang sedang berpacaran ini. Orang yang berpacaran mengakui pasangannya sebagai “bojo” (suami/istri nya) meski belum ada ikatan yang jelas. Dan juga orang berpacaran bersikukuh bahwa untuk mengetahui pasangannya akan hal baik dan buruk sifat dan sikap dari pasangannya maka harus melalui proses dengan berpacaran terlebih dahulu. Sehingga pacaran dianggap sebagai penyelarasan ide dan prinsip bagi mereka. Akan tetapi bila pacar/pasangannya tersebut memang menjadi jodohnya (tentu hal itu memang sudah tertulis dari sananya (^_^)hehe) maka kelak kemudian hari mereka akan mengikrakan melalui pernikahannya. Tetapi bila tidak terjadi pernikahan yang diharapkan oleh keduanya, kemudian mereka putus ditengah-tengah masa berpacaran tersebut tentu dari salah satu pihak akan dirugikan entah apapun bentuknya. Maka ingat dan waspadai masa berpacaran anda-anda sekalian (bukan maksud untuk menakut-nakuti) bukanlah harga mati untuk terus bersama sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Sebab banyak kekerasan yang daialami oleh pasangan saat berpacaran dalam berbagai bentuk, dan yang menakutkan adalah lembaga pernikahan hanya sebagai legalisasi untuk melakukan kekerasan seterusnya terhadap pasangannya. Tetapi bila anda telah dan sudah mempunyai komitmen bersama diantara kalian maka peliharalah, sebab kematian komitmen yang telah anda bangun bersama tersebut akan menyebabkan kematian (bukan secara harfiah) bagi pasangan anda. Kembali soal perjodohan tadi, memang manusia berupaya untuk mencarikan jodohnya masing-masing, seperti keluarga dan kerabat kita yang agak sedikit memaksa kita untuk menerima pasangan yang mereka carikan, meski ditolak juga tidak akan bermasalah. Anehnya, bila perjodohan itu dibiarkan agar dapat berproses dengan sendirinya dan alamiah, malahan hal itu dapat mempererat hubungnan mereka berdua hingga mencapai pada pernikahan. Entah bagaimana jalannya proses tersebut yang mengakibatkan dapat terhubungnya garis atau tali jodoh diantara mereka. Sebab jodoh bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan, jodoh akan melalui jalan yang sesuai dengan kepribadian dan melalui proses yang kompleks dan rumit. Itulah, semua yang ada di dunia ini sebenarnya adalah proses yang tidak kita ketahui bagaimana cara dan alur berjalannya. Semuanya sudah dan telah ada untuk kita lalui entah itu kenikmatan atau musibah. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi besok, tetapi kita juga dapat berharap yang terbaik untuk esok.

Tentang selain jodoh, pahamkah bahwa hidup kita ini “diperjalankan” oleh Allah SWT? Kita tidak pernah menyadari kalau kita kerap kali merusak tatanan yang telah ada dan telah digariskan oleh Allah SWT kepada kita, meski hal tersebut terlihat sebagai bagian dari upaya dan usaha yang kita bangun. Banyak permohonan yang kita ajukan tetapi kurangnya beramal, amal kebaikan hanya untuk meminta dihindarkan dari neraka dan agar dapat masuk di surga, puasa di siang hari malamnya makan hingga kekenyangan, shalat dalam keadaan lalai, dan masih banyak lagi hal yang tidak kita perhatikan. Apa yang harus kita lakukan bila semua sudah tertulis pada suratan takdir? Kita seharusnya paham, sadar, tahu, ingat dan waspada terhadap ritme yang telah Allah SWT gariskan untuk kita. Hidup ini terlalu singkat hanya untuk mengurusi orang lain ataupun tentang siapa jodoh kita. Yang terpenting dalam hidup ini adalah bagaimana dapat menjadi lebih dekat dengan Allah SWT sedekat-dekatnya dan yang kemudian Allah SWT meridhoi kita. Apapun yang terjadi berusahalah gerakan mulutmu, jika tidak bisa getarkan mulutmu, bila tidak mampu getarkan saja hatimu : untuk dapat selalu mengingat Allah SWT dimanapun dan kapanpun kamu berada. Pastinya jikalau dirimu dekat dengan Allah SWT, permasalahan apapun yang ada di dunia ini (termasuk jodoh dll) maka akan ada dua jalan kemudahan yang mendekatimu secara perlahan tapi pasti. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S 94 : 5-6)

Kamis, 11 Agustus 2011

Cinta Laki-laki Biasa

 Cerita ini aku dapat di sebuah blog yaitu di : http://dunia-cerpen.blogspot.com/2007/09/cinta-laki-laki-biasa.html cerita pendek yang ditulis oleh Asma Nadia itu bercerita soal Cinta dan kesetiaan, soal Cinta dan kesetaraan, Soal Cinta yang memberi banyak energi bagi pelakunya untuk melahirkan banyak keajaiban Soal Cinta.Banyak hal yang bisa ditulis bila sudah menyangkut tentang cinta, cinta memberikan energi yang selalu terbarukan tiada habis-habisnya. Nah, selamat membaca dan menyelami artian cinta suci dalam cerita ini.

 
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

Kamis, 28 Juli 2011

Masa Depan Yang Tidak Mudah Ditemukan

Sejarah hidupku mencatat bahwa diri ini telah pernah melamar seorang anak gadis, tetapi yang kemudian “tidak diperbolehkan menikah” atau bahasa awamnya ditolah (ditolak mentah-mentah). Yah memang hancur seketika saat itu, sangat perih bin pedih bin nelongso bin kuciwo. Tetapi itulah bagian dari kehidupan. Hidup adalah memilih dan dipilih. Bagaimana selanjutnya kehidupan berjalan? Buruk pada awalnya, namun saat berpikir ulang, kenapa masalah tersebut harus menggelayuti terus menerus dalam awan pikiranku? Bukankah hidup saat ini terlalu indah untuk diabaikan? Sejak saat itu aku berusaha menepis segala kenangan itu, memang tidak akan pernah hilang semua kenangan tersebut bahkan akan terus menyertai di dalam kehidupan kita. Tetapi kita tidak akan kembali ke masa lalu, tidak bisa lari dari saat ini, dan tidak hanya menunggu di masa depan. Maka untuk menghibur diri tersebut aku iseng bermain kartu “Tarot” yang haram bagi sebagian kalangan (kalangan, prambanan itu apa ya??)hehehehe....
Yah dari awal tadi pembacaan tarot ini bermula dari beberapa wawasan tentang keadaan yang sangat mengecewakan tempo hari. Diakibatkan dari seseorang, kita telah berpacaran hampir satu tahun yang kemudian kita akan berencana menikah, namun calon pasangan yang “itu” mengatakan segalanya batal. Yah cukup mengguncang dunia saat itu. (penekanan pada kata ditolak, batal, gagal, akibat atas dasar kekecewaan yang mendalam).
Dan pembacaan tarot ini semoga dapat mencerahkan bukan untuk diyakini tetapi sebagai hiburan semata.
Kronologisnya :
(Hal ini terjadi pada 2 bulan lalu yang meski tidak terjadi sesuatu hal yang dapat memisahkan kami berdua, tetapi kami seakan akan memelihara api dalam sekam. Entah apa yang kami pikirkan saat itu. Mungkin hubungn jarak jauh juga cukup berpengaruh. M eski komunikasi lancar kelihatannya.)
(Puncaknya beberapa hari lalu saat kami bertemu, dengan bersusah payah berusaha memasang wajah ceria namun hal itu langsung pudar pada keputusan yang terjadi tak lebih tak kurang dari 10 menit itu. Tak ada pembelaan, tak ada ratapan, tak ada permohonan, tak ada permintaan yang dapat menyatukan kami. Hal itu dibiarkan saja mengalir tanpa ada rasa memiliki yang pernah mengalir pada diri kami masing-masing. Sedih tak nampak, susah tak terlihat yang ada hanya wajah beku tanpa aura.)
(Mencoba berpaling dari kenyataan yang ada. Namun semua itu telah tersurat, tersirat dengan jelas dan gamblang. Pada akhirnya hanya satu yang tersisa yang aku miliki, DO’A. Ya hanya pada doa aku berlari menuju kesana, agar semua baik-baik saja tanpa ada rasa penyesalan, dendam dan dengki. Kata ikhlas dan maaf terlalu sering diucapkan tanpa bermakna apa-apa. Lebih baik jangan mengumbar cinta pada seseorang yang baru memahami arti cinta itu seperti apa, tapi jagalah cintamu kepada siapapun meski mereka tidak mengetahui bahwa mereka dicintai olehmu tanpa batas.) 

Dan ini pembacaan yang dilakukan pada sore tadi.
Penting untuk diingat, bahwa pembacaan tarot tidak menyajikan jawaban pasti, hanya berupa perspektif dan pada situasi tertentu saja. Saat menebar kartu tersebut (memakai 3 tebaran, sebenarnya banyak cara untuk memakai sebaran, namun 3 tebaran adalah sebaran yang paling spesifik dalam menanyakan masalah yang dihadapi saat ini, sehingga untuk mempersingkat pembacaan biasanya memakai tebaran ini), dan ternyata yang muncul pertama adalah “Queen Of Cups”, kemudian yang kedua adalah “The Wheel Of Fortune”, dan yang ketiga adalah “Princess Of Cups” atau yang biasa dikenal dengan “Page Of Cups”. Tebaran tiga kartu ini dapat digunakan dengan berbagai cara. Kartu ini mempresentasikan waktu : yang pertama adalah waktu masa lalu; yang kedua adalah waktu saat ini; dan yang ketiga adalah masa yang akan datang.
Arti kartu pertama : Queen Of Cups : keadaan yang lalu, ratu mempresentasikan bahwa wanita yang ada dalam kehidupannya ini sangat penting sebab sifat-sifatnya relevan dengan diri penanya (aku ya??). Namun rasa sensitivitas terkadang menjadi kendala hubungan yang terjalin ini. Ratu menunjukan ketenangan, terkendali dan memiliki kapasitas untuk mengembangkan hubungan menjadi lebih sakral (menikah). Tetapi pada dasarnya hubungan ini memiliki kedalaman yang terpendam dan tidak terbuka semua seluruhnya keadaan masing-masing sehingga bermisteri dan memperdaya, yang dapat memunculkan perselisihan yang berkepanjangan di kemudian hari.
Arti kartu kedua : The Wheel Of Fortune : keadaan saat ini, roda keberuntungan menunjukan akhir satu siklus dan awal dari siklus yang lain. Roda ini bergerak abadi yang selalu bertindak sebagai pengingat bahwa segalanya berlaku sementara. Yang akhirnya hanya satu titik yang melekat pada setiap pengalaman. Kartu ini sebenarnya menandakan adanya perdebatan yang panjang dan sudah lama berlangsung tentang kemauan dan keinginan bersama. Namun kartu ini memberi peringatan bahwa kita memiliki pilihan tanpa memandang hasil kehidupan dan lebih dalam, akhirnya kita sendirilah yang akan mengarsiteki dari nasib kita sendiri. Hal ini menjadi pertanda bagi kita untuk memasuki babal baru terserah kepada kita untuk menentukan apakah kejadian di tempo hari menjadi pengalam positif atau pengalamn negatif. Mungkin sebagai momentun kehidupan yang positif, memungkinkan untuk mengucap selamat tinggal pada bagian yang lalu agar menapak maju ke masa depan.
Arti kartu ketiga : Princess Of Cups atau Page Of Cups : keadaan masa depan, kartu pembantu merupakan pembawa berita kelahiran pandangan baru. Setelah mendapat pengalaman emosi yang menyakitkan, lahir kesadaran baru. Sebagai simbol potensi dan representasi tanggung jawab akan emosi. Terdapat pesan pada kartu ini yang membawa pesan cinta diri sendiri terutama bila sedang tersakiti dan menunjukan agar perlu memulai percaya diri lagi walau agar perasaan berkembang memerlukan waktu. Barangkali persahabatan baru sebagai katalisatornya. Diperlukan perhatian yang lembut agar keadaan membuahkan hasil sebab segala sesuatu masih terlihat rapuh. Perlu adanya refleksi dan kotemplasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Cukup  dipahami bahwasanya pembacaan kartu tarot ini bersifat sebagai penghibur dan cara agar gembira saja, namun pada dasarnya pembacaan kartu tarot ini dapat diambil sebagai tanda bahwa kehidupan tak berhenti saat anda sekalian menerima cobaan. Kartu tarot ini dalam reratanya berpesan agar kita percaya akan nasib/takdir/fate/fatum, tetapi tidak tergantung pada tebaran yang dibuat kartu itu sendiri. Sebab semua kejadian bukan hanya sebuah kebetulan tapi sudah dan telah direncanakan. Jadi, jangan berputus asa, kita harus tetap berdoa sesuai agama masing-masing dan berusaha tetap percaya akan kebesaran Tuhan, bagaimanapun Dia membawa kita kepada takdir yang telah Dia rencanakan untuk kita.
Dan akhirnya tetaplah tersenyum, salam, dan sapa pada setiap orang tak terkecuali orang yang telah membuatmu terluka ataupun kecewa, semua pasti ada hikmah dibalik kejadian-kejadian yang kamu alami itu.


Minggu, 19 Juni 2011

Silat Seni Sebagai Serangkaian Seni Pementasan



Silat merupakan seni beladiri dan olahraga prestasi. Meskipun Indonesia yang merupakan negara dari beladiri ini berasal, tetapi saat ini prestasinya mengalami kemunduran yang signifikan. Apa pasal? Olahraga ini kurang menjadi trend dan kalah pamor hingga tegeser oleh olahraga beladiri yang berasal dari negara-negara tetangga. Walau olahraga pencak silat ini telah dipertandingkan dievent-event daerah, nasional maupun internasional, tetapi kualitas dan profesionalitas belum dapat menyamai gaungnya seperti perhelatannya bela diri lainnya. Hal semacam ini tentunya membutuhkan pemikiran dan perhatian secara khusus.
Pada masa-masa seperti ini adalah puncak-puncaknya bela diri untuk menunjukan eksistensinya melalui berbagai film dan pertunjukan. Film yang dikemas dengan sedemikian rupa sehingga orang yang melihat akan tertarik mempelajari bela diri yang ada pada tokoh film tersebut. Disini ditonjolkan betapa tinggi filosofis yang terkandung dalam mempelajari bela diri tersebut. Berbeda dengan film yang dibangun di Indonesia dengan latar belakang pencak silat olahraga, dalam dunia persilatan yang ada di Indonesia (secara khusus) masih terkait dengan hal-hal yang mistis meski orang-orangnya telah tersentuh dengan keajaiban teknologi modern. Tidak bisa dipungkiri masyarakat Indonesia sangat kental akan pengaruh dunia mistis. Sebab jaman dahulu orang sakti pasti dikaitkan dengan ilmu olah kanuragan yang dititiskan para pendahulunya, kemudian dia dapat menyerap apapun bentuk pembelajran yang ada dalam waktu yang cukup singkat, tanpa harus dipelajari terlebih dahulu. Di sini ke-ilmiahannya masih kurang berperan, bahwa pendekar itu merupakan titisan dan bukannya diciptakan. Pandangan tentang seorang pendekar pun saat ini sudah begitu melenceng tidak sesuai dengan kaidah seorang pendekar. Dikarenakan pendekar saat ini hanya mengandalakan kekuasaan seperti lazimnya pemerintahan. Seharusnya pendekar memberi contoh bahwa silat dapat diilmiahkan dan dapat dijadikan obyek dalam penelitian ilmiah. Sehingga kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang merupakan tujuan dari pembelajran dari filosofi silat dapat terpenuhi.
Kembali pada silat sebagai komoditas untuk sebuah pementasan. Silat semestinya dapat menjadi tuan di rumahnya sendiri. Pada silat yang merupakan sebuah seni pementasan sebenarnya tidak begitu memerlukan seorang pendekar untuk menilai, orang awam pun dapat menilai keindahan dan estetika dari silat itu sendiri. Sebab orang awam lebih memiliki rasa yang orisinil dalam memberi komentar. Sehingga orang awam pun paham bahwa yang menggerakan gerakan silat tersebut menjiwai sosok yang diperankannya. Peran pendekar di sini adalah membuat paham para pesilat dalam menggerakan jurus-jurus yang akan digerakkan. Pemahaman bukan hanya difisik saja tetapi merasuk hingga jiwa dan hati, bersatu padu untuk menampilkan jurus dengan perfect/excellent. Dengan begitu apa yang akan digerakkan pesilat tidak serta merta hanya menyanggupi keinginan dari pendekar. Bila hal itu terjadi maka pesilat seharusnya dilatih bukan untuk diberi tekanan ataupun hukuman. Silat merupakan salah satu metode dalam menanamkan sebuah karakter yang bersifat kesatria. Silat tidak hanya kekerasan. Silat dapat dibuat sebegitu elegan sehingga dapat dinikmati gerak per geraknya. Acapkali pendekar lupa perihal filosofi yang seharusnya diajarkan sejak dini yaitu “tirulah ilmu padi” semakin berisi ia semakin merunduk, rendah hati. Tetapi hal yang diajarkan adalah nilai-nilai meraih kebenaran teknik dengan mengenyampingkan filosofi yang terkandung. Contohnya saja saat ada acara apapun yang dikeluarkan untuk pementasan, bukan silat seni yang ditampilkan melainkan silat wiralaga. Penampilan tersebut tentu saja membuat sebagian orang awam miris bila melihatnya. Berbeda bila yang ditampilkan silat ganda yaitu kedua orang bertarung tetapi telah diskenario terlebih dahulu. Sehingga orang awam paham akan gerakan yang dibuat oleh pesilat dan akan tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.
Marilah berusaha untuk menjadi seorang pendekar tanpa pengakuan dari orang-orang sekitar. Dengan menunjukan peran aktif kita dalam memperbaiki generasi muda dengan mengajarkan silat serta filosofinya dengan benar. Pementasan silat tak ubahnya melihat diri kita dengan bantuan cermin. Begitu banyak hal yang tekandung dalam pementasan silat bila kita mau dan mampu untuk mengurai hikmah yang terkandung di dalamnya. Adegan demi adegan yang ditampilkan tak ubahnya seperti film-film laga, tetapi ada perbedaan. Yaitu tidak ada adegan ulang. Apa yang kita perankan dalam adegan tersebut hanya satu kali ditampilkan tidak dapat diulang kembali. Maka pahamilah setiap adegan, resapi setiap adegan, maknai setiap adegan yang terjadi pada kita tak ubahnya seperti pementasan silat. Sehingga membuat diri lebih bernurani, berempati dan bersimpati.

Notes kecil untuk dibaca ulang


Aku mempunyai notes untuk selalu ditulis yang kemudian dibaca ulang, tapi inilah yang aku tulis. Tapi salahkah aku menulis hal seperti ini? Tentu jawabannya tidak salah. Sebab aku mempunyai alasan mengapa aku menulis hal ini. Tahukah anda kenapa orang-orang yang ditinggal pergi (seperti kata orang Yunani yang tidak ingin menulisnya) tak mampu menulis obituari (berita kematian) tentang kerabatnya atau sahabatnya? Hanya satu pertanyaan yang diajukan jika ada yang meninggal : adakah ia mempunyai passion (gairah)dalam menjalani hidup? Gairah yang hidup dalam segala hal ihwal saat dia dalam kehidupan di dunia dan kemudian dia cukup menulis sebagai bahan renungan dikemudian hari. Maka dari itulah notes ini serasa begitu berguna bagiku bila ingin mengingat sesuatu, sehingga aku mempunyai kesempatan untuk membaca ulang kembali.
Ada sebuah kisah dari sahabatku yang aku tulis di notes ini. Saat dia meninggal akibat komplikasi atas kehilangan soulmatenya dan tunangannya dalam waktu hampir bersamaan. Saat dia akan menikah dan waktu menunjukan kurang dari seminggu dia akan menikah, tetapi dia memutuskan untuk mencari soulmateny. Tentu saja dia bertemu dengan soulmatenya, akan tetapi solmatenya tersebut telah memilih lelaki yang lain. Dan saat dia kembali ke acara pertunangannya, dia hanya terlambat 5 menit setelah pertunangannya dibubarkan. Sungguh di luar dugaan. Maka aku menulis hal ini dalam notesku.
Dia seorang manager di sebuah perusahaan. Kepribadianya cukup menawan. Dia berbicaa lembut dan obsesif. Dia tak pernah melihat bagian dari romantisme kehidupannya tanpa harapan. Tapi di minggu terakhirnya kemarin, dia menemukan sisi tak dikenal dari jiwanya. Kepribadian yang tersembunyi ini mencuat ke permukaan selama penyelidikan gaya Agatha Christie untuk mencari soulmatenya, gadis yang pernah bersamanya selama beberapa jam yang tak terlupakan (beberapa tahun yang lalu). Sayangnya, pencarian yang gigih tersebut berakhir pada Sabtu malam dengan hasil yang menyedihkan. Walaupun terkalahkan begitu saja, dia cukup pemberani dalam berpegang teguh pada keyakinan bahwa hidup adalah serangkaian kebetulan-kebetulan tanpa makna. Tapi juga rangkaian kejadian indah yang merupakan bagian dari rencana yang luhur. Ditanya tentang kehilangan, dia menggambarkan bahwa sebagai manusia janganlah berubah pada saat di hari-hari terakhir tetapi mulailah disaat kamu merasa jatuh sehingga “Segalanya menjadi jelas untuk hidup yang lebih baik”. Pada dasarnya dia menyimpulkan jika kita menjalani hidup secara harmoni dengan alam semesta, kita harus mempunyai keyakinan yang kuat yang nenek moyang dulu biasa menyebutnya “fatum”, yang sekarang disebut sebagai takdir. Takdir akan membawa kita sejauh mana kita mampu berkeyakinan untuk melangkah. Itulah “Takdir/Destiny/Fated/Predestinate”.

Minggu, 01 Mei 2011

PERAN NYATA LEMBAGA AKADEMIK KEOLAHRAGAAN KEDEPAN



Sebuah negara perlu mengembangkan dan sekaligus memajukan olahraga. Sebab olahraga yang berdasarkan pada perkembangan dunia seiringnya kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, negara dapat memperoleh hasil yang luar biasa berkenaan dengan olahraga. Kinerja olahraga yang prestatif ini dapat mengangkat harkat, martabat dan kehormatan bangsa. Dalam olahraga akan menciptakan rasa disiplin dan kerjasama yang baik, menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi terhadap bangsanya sendiri. Olahraga yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari merupakan contoh nyata mengapa suatu negara perlu memajukan olahraga. Dengan berolahraga tidak hanya mampu memelihara dan meningkatkan kebugaran saja tetapi juga berperan penting dalam membentuk sebuah kepribadian.

Pemerintah sebagai pihak yang sangat membutuhkan bangsa yang sehat bugar, dan kuat secara fisik maupun psikis untuk keberlansungan roda pembangunan, dituntut untuk berperan aktif melalui seluruh departemennya yang terkait. Mengapa Pemerintah? Sebab pemerintah yang memiliki kebijakan dan kemampuan pendanaan dalam membuat sarana dan prasarana olahraga yang memadai. Selain itu pemerintah juga memerlukan sarana atau media untuk mempromosikan dan memperkenalkan eksistensinya dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan berbagai negara di seluruh kawasan dunia dengan cara mengikuti ivent yang diselenggarakan oleh forum regional, continental atau Olympic Games. Dalam mengembangkan dan juga memajukan olahraga yang ada di Indonesia ini, pemerintah mempunyai patrner yang bertugas melakukan pembinaan prestasi olahraga yaitu KONdan KOI. Sebab KON dan KOI merupakan organisasi olahraga independen tertinggi disuatu negara yang keberadaannya diakui oleh Organisasi Olahraga Dunia (IOC). Disini tugas untuk membina dan meningkatkan prestasi olahraga tidak semata hanya KON dan KOI saja, tetapi yang paling penting adalah para pelaku olahraga. Para pelaku olahraga disini meliputi:
1. Lembaga akademik yang memiliki pakar ilmu keolahragaan, sarana prasarana yang menunjang, lembaga riset dan kajian, pembina dan pengurus organisasi keolahragaan.
2. Para pelaku olahraga yang langsung terlibat di lapangan seperti guru olahraga yang merupakan insan pertama meperkenalkan gerakan olahraga sejak dini, pelatih sebagai subyek dan sekaligus obyek pencetak prestasi atlet, atlet sebagai pembinaan pretasi, pembina dan pengurus organisasi keolahragaan sebagai subyek dan obyek pembinaan dalam bidang organisasi keolahragaan.

Oleh sebab itu, para pelaku olahraga harus meningkatkan perannya dalam mencapai semua itu dengan jiwa sportif tentunya. Sebuah upaya untuk memajukan olahraga di Indonesia tidak terlepas dengan dana tentunya. Penggalangan dana didapatkan dari usaha ataupun industri. Walaupun dana dibebankan pada negara sepenuhnya seharusnya, tetapi dunia industri juga memiliki kepentingan. Dunia indutri akan terbantu dalam mempromosikan hasil usahanya. Dengan promosi produk yang dilakukan oleh insan olahraga tentunya produk industri yang dipasarkan semakin mudah diterima oleh masyarakat luas karena image yang melekat pada sebuah produk tersebut berkaitan dengan olahraga.

Sebuah kemenangan ataupun kekalahan pasti ada sebabnya, oleh karena itu bagaimana cara mengatasi bila kedua hal tersebut terjadi adalah sebuah tuntutan dan tuntunan agar tidak terjerumus pada hal yang merugikan. Prestasi olahraga Indonesia dalam dasawarsa terakhir ini terbilang terpuruk daripada bangsa lain. Sebab di Indonesia dalam mengkaderisasi, regenerasi dan seleksi atlet terlambat dan kurang maksimal itupun kurang memanfaatkan IPTEK. Sehingga proses yang diharapkan saat pemasalan, pembibitan, dan pembinaan prestasi kurang optimal. Sarana dan prasarana yang hanya terpusat dan tidak merata menyebabkan sulitnya mencari atlet yang kompeten. Dana yang minim untuk sistem pembinaan dan peningkatan prestasi mengakibatkan tidak fokusnya pada skala prioritas cabang olahraga unggulan. Dan saat ini lebih buruk lagi dengan mutu kepelatihan dan kompetensi pelatih yang masih minim, itupun masih ditambah dengan ketidak bijaksananya wasit dalam memimpin sebuah pertandingan.

Hal pertama kali yang harus dilakukan agar kejayaan olahraga di Indonesia tercinta ini dapat terwujud adalah mengembalikan fungsi masing-masing. Pemerintah dengan partnernya KON dan KOI bekerja sama dengan lembaga akademisi dan pelaku olahraga untuk:
1) mengambil peran dalam memperbaiki mutu dan kompetensi pelatih juga wasit,
2) menyusun sistem pembinaan olahraga (pemasalan, pembibitan, dan pembinaan pretasi) yang sitematis, integratif, dan berkesinambungan,
3) menyusun kurikulum yang tepat untuk menghasilkan SDM (guru, pelatih, pembina, pengurus) keolahragaan yang berkualitas,
4) meningkatkan pemanfaatan IPTEK olahraga secara efektif dan efisien dengan cara melakukan kajian atau riset ilmiah,
5) mengadakan seminar-seminar keolahragaan baik nasional maupun internasional.

Kemudian dalam hal pendanaan, pemerintah bekerja sama dengan dunia usaha dan industri untuk membuat sarana prasarana yang memadai agar tercipta suasana kondusif dalam berlatih. Kesejahteraan para atlet dan pelatih ketika pensiunpun semestinya juga diperhatikan. Kesejahteraan memang momok yang utama dalam dunia keolahragaan. Hal ini sangat penting akan tetapi bukan utama. Yang utama adalah kesadaran masyarakat kita sejauh mana mereka perduli terhadap olahraga itu sendiri. Bila semua hal yang tersebut berjalan tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat, kedepannya pun kita akan mengalami kendala yang sama. Sehingga kesadaran dari berbagai pihak masyarakat sangatlah membantu peningkatan prestasi olahraga di Indonesia.