Rabu, 13 Januari 2016

Manajemen Yang Apa Adanya


Ketika kita pertama kali masuk dalam dunia organisasi, seringkali kita berusaha melakukan semuanya dengan usaha kita yang terbaik. Namun seiring berjalannya waktu kita memahami dunia organisasi adalah dunia untuk membaca segalanya, dunia untuk mencoba segalanya, dunia untuk menemukan dan mengelola semua sumber daya yang ada, dan dunia yang penuh permasalahan sangat kompleks antar individunya. Dengan begitu mudah dipahami untuk menjadi bagian dari manajerial di tahun kedua ataupun berikutnya sangat enggan dengan berbagai alasan. Dengan alasan tenaga telah dioptimalkan di tahun pertama, mengejar hal-hal lain yang diimpikanya, ingin mencoba tantangan baru di organisasi yang lain, dan sebagainya. Begitulah kehidupan organisasi yang memang sebagai wadah pembelajaran manajer pemula. Organisasi yang akan kita bahas ini adalah sebuah organisasi di tingkatan mahasiswa yaitu organisasi unit kegiatan mahasiswa. Kita menyadari dalam organisasi mahasiswa ini yang keuntungan finansial bukanlah sebagai tujuan utama. Dan organisasi kemahasiswaan ini merupakan organisasi gotong royong untuk menghidupinya, namun dalam organisasi gotong royong ini yang berazaskan kekeluargaan akan menjadi sebuah jawaban bagaimana berkarya dengan baik dalam keadaan sumber daya yang kurang memadai. Kita memang memiliki pilihan dan lebih ahli dalam beberapa hal atau bahkan satu hal dibanding dengan orang lain (sebagai akibat karena hal-hal itu menjadi pilihan kita). Dengan adanya organisasi mahasiswa ini diharapakan adanya pengembangan diri (pengembangan dalam hal keahlian menangani orang lain, pengembangan keahlian yang sudah ada menjadi lebih terperinci lagi, pengembangan dan mengajarkan keahlian pada orang lain) dan konsep dasarnya adalah saling bertukar ilmu. Namun dengan adanya transfer of knowledge tadi, jangan juga menghambat perkembangan antar individu. Pengalaman yang sudah kita dapatkan jangan menjadi sebuah patokan akan keberhasilan untuk orang lain namun jadikan pengalaman kita tersebut menjadi sebuah keyakinan dan karakteristik pribadi untuk menjadi modal yang diperlukan untuk menjadikan sebuah organisasi lebih berkembang secara efektif dan efisien.

Kita memiliki sebuah pengalaman yang sangat besar. Sembilan puluh lima persen dari apa yang kita pelajari berasal dari pengalaman dengan hanya lima persen berasal dari buku, pelatihan dan sebagainya (patut diteliti, bukan?). Jika ilmu-ilmu yang didapatkan dari buku, pelatihan dan lainnya tersebut dapat dihubungkan dan diselaraskan dengan pengalaman yang kita miliki, maka ilmu-ilmu tersebut akan menjadi mitra kita yang setara dan pada akhirnya akan menjadi wawasan yang dapat memperbaiki kinerja kita. Merupakan awal yang baik bila setiap gagasan yang terbentuk dari ide-ide “aneh” setiap individu dapat ditampumg oleh organisasi untuk dijadikan wawasan yang berkembang menjadi sebuah program kerja. Memang, hampir semua gagasan yang ditawarkan tidak dapat diakomodir semuanya dan sepenuhnya, setidaknya kumpulan dari semua gagasan tersebut yang masuk akal dapat dijadikan sebuah program kerja. Gagasan besar tidak didapat dari rasa skeptis, melainkan dari uji coba yang dikelola dan mudah diterapkan untuk keberhasilan bersama. Dari gagasan tersebut kita belajar untuk beruji coba, belajar dari pengalaman mencoba melakukan sesuatu, memerhatikan apa yang tidak berhasil, dan mengubah pendekatan kita sampai kita menemukan yang cocok untuk diterapkan pada organisasi kita. Kesalahan terbesar yang dibuat orang ketika mencoba mengasumsikan bahwa cara memberdayakan orang lain dengan cara dan gaya yang sama. Kita tidak pernah tahu bahwa itu adalah kesalahan terbesar bagi kita sebagai pemimpin organisasi ataupun kepala divisi di sebuah organisasi. Jangan berasumsi. Cara yang tepat adalah amati sejenak, cermati perilakunya, ketahui sikapnya lalu terapkan pendekatan yang bagaimana yang akan dipilih. Memiliki keahlian berkomunikasi yang luar biasa/istimewa sangat menjamin kesuksesan kita dalam penerapan pendekatan ini, tapi jika saja kita tidak yakin bahwa berbicara tidak pernah menyeleseikan apapun maka keahlian itu tidak akan ada manfaatnya. Sangat penting menemukan dan menentukan waktu yang tepat untuk melakukan pendekatan. Sebab yang seharusnya adalah mengembangkan suatu  cara mengelola individu-individu yang berbeda menjadi individu yang istimewa, bukan cara bagaimana pengrusakan individu bagi setiap yang terlibat dalam organisasi.

Apabila kita seperti kebanyakan organisasi yang hanya pandai dalam berkonsep namun tidak dapat meyakinkan dalam menjelaskan konsep tersebut, maka kita hanya handal dalam menuliskan sebuah cerita tapi tidak tahu alur cerita itu akan dibawa kemana. Dalam manajerial sebuah organisasi memang membutuhkan seorang manajer handal yang bisa melihat masa depan. Bukan mendahului takdir, namun menyiapkan konsep yang masuk akal, menjelaskan konsepnya secara meyakinkan, mencoba melakukan sesuatu berdasarkan intuisi (mengetahui sesuatu tanpa tahu bagaimanacara kita mengetahuinya) agar konsep itu berjalan dengan baik, dan  kita membutuhkan pemicu-pemicu dari alam bawah sadar kita untuk mensinkronkan itu semuanya. Kita semua tahu bagaimana hal itu bekerja. Memang lebih mudah mengatakannya daripada melaksankannya. Suatu keyakinan yang diubah atau dimanipulasi sedikit saja maka akan menjadi motivasi yang dapat memicu perilaku tanpa menuntut kekuatan kemauan yang besar. Perubahan keyakinan tersebut hanya memerlukan sepersekian detik untuk mencapainya dan akan bertahan untuk selama-lamanya. Hal itulah yang ingin dicari dan dicapai, keefektifan. Keefektifan adalah konsep ketika orang-orang berbahagia untuk melakukan sesuatu karena alasan-alasan yang sehat. Inilah manajemen apa adanya yang orang-orang bekerja didalamnya menjadi bahagia dengan alasan yang sehat (mereka benar-benar melihat segala hal sebagaimana adanya dan tidak sebagaimana yang mereka inginkan). Sebab ada juga orang orang yang bahagia tapi bersifat khayalan atau tidak bahagia sebab menjadi korban atau karena alsan-alasan yang tidak sehat (mereka mengubah apa yang mereka lihat untuk disesuaikan dengan kenyataan internal mereka). Jika kita tidak berbahagia dengan respon dari organisasi yang kita ikuti, tidak memperoleh pengalaman-pengalaman yang kita inginkan maka kita boleh saja mempunyai opsi. Opsi pertama, lanjutkan terus apa adanya, seperti seorang memerankan korban melodrama sendiri, menyalahkan situasi atau orang lain, dan menyeret mereka bersama dengan kita. Opsi kedua, melihat kembali hasil-hasil yang telah lampau, kemudian kita mengubah mereka sesuai dengan pengalaman kita tersebut agar kita senang. Atau opsi ketiga, kita beranggapan bahwa apa yang kita dapat adalah program kerja yang kita inginkan dan telusuri kembali keyakinan awal yang mendorong perilaku organisasi, jika kita setuju dengan keyakinan-keyakinan itu maka kembalilah ke opsi kedua dan bila tidak setuju maka periksa kembali hal itu kemudian kembangkan alternatif-alternatif lain untuk mengubah program kerja dan perilaku organisasi serta capailah hasil-hasil yang berbeda dengan lebih baik. 

Dan pada akhirnya mari kita membuatnya tetap menjadi kenyataan bahwa konsep dan hasil apapun pada dasarnya mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi, apa yang saya tulis ini semoga dapat memberikan yang terbaik untuk organisasi kita. Apa yang saya tulis ini akan bekerja hanya bila kita menggunakan nalar dan wawasan ini sebagai pemicu untuk mengangkat pengalaman dan wawasan intuitif kita, sebab pada akhirnya hanya wawasan dan konsep yang dapat dijelaskan secara meyakinkan yang dapat memperbaiki kinerja kita untuk organisasi. Dan jangan lupa untuk sering-sering bertanya pada diri kita masing-masing, apakah kita bahagia dengan hasil-hasil yang telah dicapai? Bagaimana selanjutnya?

Referensi :

Real Coaching and Feedback, JK Smart 2003 (Karen Smart).

Selasa, 22 Desember 2015

Kota Angin, Angin Perubahan?

Pada akhirnya berakhir sudah petualanganku dalam mencari ilmu, pengalaman, teman, dan prestasi di kota ini. Kota yang sarat dengan berbagai permasalahan namun tak nampak dari luar sehingga membuat terlena sesaat. Kota yang menawarkan segala kerendahan hatinya untuk dihuni oleh para pejuang pencari ilmu dari berbagai belahan dunia manapun. Kota yang semakin menata diri untuk lebih baik namun tidak diimbangi oleh karakter pendatangnya yang terkadang terlalu arogan. Kota yang seluk beluknya menitipkan sejuta kenangan dan sejuta imajinasi yang sangat menyenangkan. Kota yang juga sering membuat menitikan air mata atas segala keangkuhan hati menerima semua segala penyesalan yang pernah dilalui. Kota yang bernama Yogyakarta, kota tujuan pertama bila aku selesei menempuh sekolah menengah atas. Namun setelah sekian lama menjadi bagian dari kota ini, ada tugas mulia yang mengharuskan untuk kembali ke kota lama. Kota yang sangat berkebalikan dengan kota Yogya dengan segala kemegahan dan kenyamanannya. Meski kota kecil yang tak menjanjikan apapun dibandingkan kota Yogya, ada sesuatu hal yang menjadikannya kota yang jauh dari hingar bingar ini menyimpan keistimewaan layaknya kota Yogya yang dengan jargonya Yogya Istimewa. 

Berakhirnya petualangan di kota ini memang keinginanku semata, secara tak terduga memang. Yang seharusnya sudah beberapa tahun yang lalu untuk segera keluar dari kota yang nyaman ini. Kembali ke kota kelahiran sangat berat memang, dimana ada anggapan bila seseorang telah merantau dan bila kembali berarti dianggap telah sukses secara finansial. Tidak demikian dengan diriku ini. Secara finansial telah hancur, secara lahir hanya bisa tersenyum getir, bahkan batin pun juga luluh lantak. Tidak ada yang dapat dibanggakan atas kembalinya diriku ini ke kota kelahiran yang sudah lama aku tinggalkan. Mungkin pelarian pantas disematkan kepada diriku. Lari dari semua keputus asaan, kegelisahan, kegundahan, keterpurukan dan penyesalan yang tiada berujung. Rasa negatif yang melekat padaku ini memang tidak semestinya aku bawa serta ke kota kelahiranku ini. Aku memahami semua solusinya yang aku hadapi ini. Tetap saja aku tidak bisa melepaskan kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan ini. Apakah aku harus menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padaku ini? Apakah aku harus? Tentu jawaban yang logis adalah ini adalah kesalahanku semata. Atas apa yang aku usahakan dan atas apa yang aku selalu panjatkan menjadi doa keseharian. Menilik dari masa saat aku menginjakan ke kota Yogya ini, aku telah mengarahkan hatiku untuk membersitkan suatu hal yang tidak seharusnya aku bersitkan. Meski semua telah diamini dan terlaksana. Ada rasa penyesalan yang mendalam setelah ada kejadin-kejadian tersebut. Kenapa harus berakhir dengan tidak nyaman. Sudahlah, itu adalah masa lalu yang menjadikan seorang laki-laki dan perempuan menjadi dewasa menurut versi masing-masing. Dewasa yang salah satunya memendam rasa benci sekaligus rasa kasih dan harap, dan yang salah satunya menjadikan masa lalu bukanlah apa-apa dan hanya sinaran yang melintas sesaat. 

Ada harapan meski kecil, yang seakan kegelapan diterangi oleh lilin kecil. Ada angin yang tiada berhenti berhembus meski dilain musim. Ada perubahan meski memang tak segamblang di kota sebelumnya. Angin perubahan selalu berhembus menemani siapa pun yang ingin menjadi lebih baik. Menjadi manusia baik, yang menerima manusia lainnya dalam keadaan apapun. Manusia yang tidak memaksakan keinginan namun manusia yang mengajarkan kehendak untuk membantu manusia lainnya. Manusia yang berada di kota angin yang membawa perubahan disetiap persinggahannya. Kota yang berbeda dengan kota lainnya. Mungkin disinilah jalan yang harus ditempuh meski ada secuil asa untuk mengejar mimpi ke negeri kincir angin, atau negeri yang terkenal akan bunga sakuranya. Ada sejuta harapan untuk berharap ilmu yang didapat ini tidak sia-sia di kota angin ini, kota yang akan membawa angin perubahan. Semoga!


Ketika...

Entah kenapa aku selalu ingin menumpahkan air mataku saat membaca buku yang berjudul KMGP (Ketika Mas Gagah Pergi) ini. Selalu saja berkaca-kaca setelah membacanya. Teringat saat pertama kali membacanya di tahun 2002 silam. Padahal cerita ini dimuat di majalah Annida 1993 yang ketika saat itu masih dalam usia sekolah dasar. Dan Saat KMGP terbit sebagai buku untuk pertama kalinya tahun 1997-pun masih berseragam biru putih. Lama sekali jedanya untuk dapat membaca karya sastra ini. Ketika membacanya pun seakan menemukan oase di padang gersang, yup, menemukan sesosok tokoh panutan yang akan menjadi obsesi seumur hidup. Seorang yang bernama Gagah. Meski hanya seorang tokoh imajiner, namun cara menggambarkan sesosok tokoh ini membuat karismanya seoalah mampu hadir dalam kehidupan sehari-hari yang saat itu sangat sulit mencari seorang pemuda yang islami, idealis, dan cerdas. Dari hari kehari berharap menjadi sebuah kenyataan bila dapat menemui sesosok tersebut. Dan hal itulah mengantarkanku kepada kota pelajar ini, berharap menemukan sesosok tersebut. Memang banyak pemuda yang hampir menyerupai sesosok Mas Gagah dalam artian keislamannya namun masih dirasa ada yang kurang. Entahlah apa itu.
Sudahlah, kita membahas dari segi cerita saja jangan mengusik keimanan yang akan divisualisasikan ini. Cerita yang memang sangat menyentuh perasaan ini. Dalam ceritanya yang sarat dengan pembelajarn untuk pemeluk agama islam. Memang sangat jarang sebuah cerita yang bertahan cukup lama ini  (dari 1993 hingga 2015) yang gaungnya tetap sama sehingga dapat mengispirasi. Tak terasa 23 tahun dari hanya sebuah cerita untuk tugas kuliah menjadikannya sebuah karya luar biasa yang sangat diimpikan dalam bentuk film ini. Ceritanya dapat diklik di sinisastrahelvy Meskipun wacana memfilmkan KMGP sudah dimulai pada tahun 2004. Hmmm... Itu 11 tahun lalu! Namun baru bisa terealisasi 2015 karena susahnya mencari  house production yang memiliki spirit sama dalam mewujudkan KMGP ke layar kaca.kmgp the movie
Akhir kalimat yang tidak ingin aku tulis adalah.... sungguh luar biasa dan sangat istimewa... selalu terharu dengan mata berkaca-kaca bila membaca KMGP ini. Semoga film yang akan datang dapat memenuhi ekpektasi pada sesosok mas gagah yang selalu gagah, wangi dan tampan ini. Cerita bisa dibaca di sini ketika-mas-gagah-pergi

Sabtu, 27 Juni 2015

Patah Semangat

Sebuah cerita dari teman pelatih tentang permasalahan dalam kepelatihan olahraga prestasi ataupun profesional. Permasalah tersebut ialah patah semangat. Patah semangat yaitu padam semangat dalam latih dan melatih diakibatkan karena stress. Pelatih yang mengalami patah semangat biasanya merasa tak berdaya, mudah marah dan kurang kendali atas lingkungannya (menganggap metode latihannya sudah tidak memungkinkan dan diperparah oleh rasa frustasi). Patah semangat paling sering terjadi pada pelatih yang antusias, berdedikasi dan penuh perhatian. Patah semangat ini pun bukanlah suatu fenomena khusus yang dialami oleh pelatih olahraga besar, olahraga apapun dan pada tingkat mana pun dapat menderita gejala ini. Umumnya, pelatih yang mengalami patah semangat tersebut berpikiran tertutup dan jadi tidak luwes. Banyaknya waktu yang dihabiskan dalam tugas kepelatihan mungkin meningkat, namun lebih sedikit yang terseleseikan. Akhirnya terjadilah patah semangat yang menghinggapi pelatih-pelatih tersebut menjadi tidak sehat, terlalu lelah dan merasa tertekan.
   Olahraga prestasi tidak mungkin belajar otodidak, pastinya ada seorang pemandu yang ahli dalam bidang dan cabang yang dipilih. Pemandu pun tak dapat memandu dan melatih bila tidak ada sertifikat yang melegalkan program latihan yang diterapkannya. Hidup sebagai seorang pemandu olahraga prestasi itu sebenarnya sangat menyenangkan meski kadang sangat dipengaruhi kapabilitas anak didik yang dipandunya. 
    Ada sebuah cerita tentang pelatih yang patah semangat. Katakanlah namanya pelatih "X". Pelatih "X" biasanya antusias dan senang memenuhi impian seumur hidupnya untuk melatih. Pada 10 tahun pertama dalam melatih timnya benar-benar kelihatan berhasil. Olahragawan, orang tua dan guru kagum atas kemampuan kepemimpinannya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk berpilir tentang kepelatihan, tentang melatih, mengamati pertandingan, mempelajari film-film pertandingan dan mempersiapkan pertandingan. Pelatih X ini selalu tinggal lama setelah latihan bersama olahragawan. Para orang tua sering menelepon ataupun sms (short message service) untuk menyatakan bahwa dialah yang dibutuhkan oleh anak-anak mereka. Sanjungan dan terima kasih datang tak henti-hentinya. Seiring waktu berjalan, pelatih X akhirnya menyadari bahwa dirinya adalah satu-satinya orang yang benar-benar memperhatikan olahragawan sebagai orang, manusia dewasa dikemudian hari. Orang lain nampaknya memperlakukan kepelatihannya sebagaikerja sambilan. Mereka hanya mempunyai sedikit waktu bagi olahragawannya. Mereka bersembunyi di kantornya dan mengasingkan diri sedapat-dapatnya. Bahkan olahragawan dari pelatih lain minta tolong pada pelatih X ini. Pelatih mereka nampaknya kurang begitu peduli dan perhatian. Akhirnya, pelatih X mulai menyadari bahwa keuangannya tidak mencukupi. Guru dan pelatih lain keadaannya lebih baik. Mereka menambah pendapatannya dengan pekerjaan lain sementara pelatih X mengurusi olahragawannya. Para pengurus tahu apa yang terjadi,tetapi nampaknya mereka tidak peduli. Merekamenyatakan padanya untuk tidak terlalu serius menanggapi pekerjaannya sebagai pelatih. Pelatih X mula-mula memperhatikannya meskipun tidak melakukan tindakan apapun. Ia mulai mempertanyakn nilai-nilainya dan mulai khawatir bahwa ia tidak dapat memenuhi kebutuhan finansial keluarganya. Untuk kali pertama pelatih X mempertanyakan tanggungjawabnya dalam melatih. Tetap melatih dengan bayaran yang kurang cukup untuk kebutuhannya atau berhenti dan melupakan dunia kepelatihan. Bahkan keluarganya sempat membujuk untuk berhenti melatih. Ketika pelatih X pada keputusan berhenti melatih, banyak para orang tua olahragawan tidak memahami. Merekan pikir pelatih X sudah malas dan tidak peduli lagi. 
    Begitulah akhir dari riwayat seorang pelatih. Mereka dituntut mengembangkan suatu tanggungjawab yang kuat atas nilai-nilai tertentu namun tidak didukung dengan finansial yg cukup. Kemantapan dan dedikasi sebagai pelatih sangatlah penting bahkan jauh lebih bernilai daripada kemenangan, tetapi perhatian dan apresiasi kita atas kerja keras pelatih jangan dilupakan. Mereka juga ada keluarga yang harus dicukupi kebutuhan finansialnya. Dengan demikian agar para pelatih tetap bahagia dalam melatih dan tidak ada hutang untuk menghidupi keluarganya.

Bacaan yang dianjurkan
- Dasar-dasar ilmiah kepelatihan (Russell R. Pate)

Selasa, 17 Maret 2015

Tanda Pencapaian Neng Ning Nung Nang

     Neng : sembah raga Jumeneng,menjalankan “syariat”. Namun makna syariat di sini mempunyai dimensi luas. Yakni dimensi “vertikal” individual kepada Tuhan, maupun dimensi sosial “horisontal” kepada sesama makhluk. Neng, pada hakekatnya sebatas melatih dan membiasakan diri melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, dan lebih utama untuk sesama tanpa pilih kasih. Misalnya seseorang melaksanakan sembahyang dan manembah kepada Tuhan dengan cara sebanyak nafasnya, guna membangun sikap eling dan waspadha. Neng adalah tingkat dasar, barulah setara “sembah raga” misalnya menyucikan diri dengan air, mencuci badan dengan cara mandi, wudlu, gosok gigi, upacara jamasan, tradisi siraman dsb. Termasuk mencuci pakaian dan tempat tinggal. Orang dalam tingkat “neng”, menyebut dan “menyaksikan” Tuhan barulah melalui pernyataan dan ucapan mulut saja. Kebaikan masih dalam rangka melatih diri mengendalikan hawa nafsu negatif, dengan bermacam cara misalnya puasa, semadi, bertapa, mengulang-ulang menyebut nama Tuhan dll. Melatih diri mengendalikan hawa nafsu agar bersifat positif dengan cara misalnya sedekah, amal jariah, zakat, gotong royong, peduli kasih, kepedulian sosial dll. Melatih diri untuk menghargai dan mengormati leluhur, dengan cara ziarah kubur, pergi haji, mengunjungi situs-situs sejarah, belajar dan memahami sejarah, dst. Melatih diri menghargai dan menjaga alam semesta sebagai anugrah Tuhan, dengan cara upacara-upacara ritual, ruwatan bumi, larung sesaji, dst. Tahapan ini dilakukan oleh raga kita, namun belum tentu melibatkan HATI dan BATIN kita secara benar dan tepat.Kehidupan sehari-harinya dalam rangka latihan menggapai tataran lebih tinggi, artinya harus berbuat apa saja yg bukan perbuatan melawan rumus Tuhan. Tidak hanya berteori, kata kitab, kata buku, menurut pasal, menurut ayat dst. Namun berusaha dimanifestasikan dalam perilaku dan perbuatan kehidupan sehari-hari. Perbuatannya mencerminkan perilaku sipat zat (makhluk) yang selaras dengan sifat hakekat (Tuhan). Tanda pencapaiannya tampak pada solah. Solah artinya perilaku atau perbuatan jasadiah yang tampak oleh mata misalnya; tidak mencelakai orang lain, perilaku dan tutur kata menentramkan, sopan dan santun, wajah ramah, ngadi busana atau cara berpakaian yang pantas dan luwes menghargai badan. Akan tetapi perilaku tersebut belum tentu dilakukan secara sinkron dengan BAWA-nya. BAWA yakni “perilaku” batiniah yang tidak tampak oleh mata secara visual.Titik Lemah Pada tataran awal ini meskipun seseorang seolah-olah terkesan baik namun belum menjamin pencapaian tataran spiritual yang memadai, dan belum tentu diberkahi Tuhan. Sebab seseorang melakukan kebaikan terkadang masih diselimuti rahsaning karep atau nafsu negatif; rasa ingin diakui, mendapat nama baik atau pujian. Bahkan seseorang melakukan suatu kebaikan agar kepentingan pribadinya dapat terwujud. Maka akibat yang sering timbul biasanya muncul rasa kecewa, tersinggung, marah, bila tidak diakui dan tidak mendapat pujian. Kebaikan seperti ini boleh jadi bermanfaat dan mungkin baik di mata orang lain. Akan tetapi dapat diumpamakan belum mendapat tempat di “hati” Tuhan. Kredit point nya masih nihil. Banyak orang merasa sudah berbuat baik, beramal, sodaqah, suka menolong, membantu sesama, rajin doa, sembahyang. Tetapi sering dirundung kesialan, kesulitan, tertimpa kesedihan, segala urusannya mengalami kebuntuan dan kegagalan. Lantas dengan segera menyimpulkan bahwa musibah atau bencana ini sebagai cobaan (bagi orang-orang beriman).Pada tataran ini, seseorang masih rentan dikuasai nafsu ke-aku-an (api/nar/iblis). Diri sendiri dianggap tahu segala, merasa suci dan harus dihormati. Siapa yang berbeda pendapat dianggap sesat dan kafir. Konsekuensinya; bila memperdebatkan (kulit luarnya) ia menganggap diri paling benar dan suci, lantas muncul sikap golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Ini sebagai ciri seseorang yang belum sampai pada intisari ajaran yang dicarinya. 
     Ning: sembah kalbu Wening atau hening, ibarat mati sajroning urip; kematian di dalam hidup. Tataran ini sepadan dengan tarekat. Menggambarkan keadaan hati yang selalu bersih dan batinnya selalu eling lan waspadha. Eling adalah sadar dan memahami akan sangkan paraning dumadi (asal usul dan tujuan manusia) yang digambarkan sebagai “kakangne mbarep adine wuragil”  Waspadha terhadap apa saja yang dapat menjadi penghalang dalam upaya “menemukan” Tuhan (wushul). Yakni penghalang proses penyelarasan kehidupan sehari-hari (sifat zat) dengan sifat hakekat (Tuhan). Ning dicapai setelah hati dapat dilibatkan dalam menjalankan ibadah tingkat awal atau Neng; yakni hati yang ikhlas dan tulus, hati yang sudah tunduk dan patuh kepada sukma sejati yang suci dari semua nafsu negatif. Hati semacam ini tersambung dengan kesadaran batin maupun akal budi bahwa amal perbuatan bukan semata-mata mengaharap-harap upah (pahala) dan takut ancaman (neraka). Melainkan kesadaran memenuhi kodrat Tuhan, serta menjaga keharmonisan serta sinergi aura magis antara jagad kecil (diri pribadi) dan jagad besar (alam semesta). Tataran ini dicapai melalui empat macam bertapa; tapa ngeli, tapa geniara, tapa banyuara, tapa mendhem atau ngluwat.
  1. Tapa ngeli, harmonisasi vertikal dan horisontal. Yakni berserah diri dan menselaraskan dengan kehendak Tuhan. Lalu mensinergikan jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).
  2. Tapa geniara, tidak terbakar oleh api (nar) atau nafsu negatif yakni ke-aku-an. Karena ke-aku-an itu tidak lain hakekat iblis dalam hati.
  3. Tapa banyuara, mampu menyaring tutur kata orang lain, mampu mendiagnosis suatu masalah, dan tidak mudah terprovokasi orang lain. Tidak bersikap reaksioner (ora kagetan), tidak berwatak mudah terheran-heran (ora gumunan).
  4. Tapa mendhem, tidak membangga-banggakan kebaikan, jasa dan amalnya sendiri. Terhadap sesama selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur. Sadar bahwa manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan tidak tergantung suku, ras, golongan, ajaran, bangsa maupun negaranya. Tapa mendhem juga berarti selalu mengubur semua amal kebaikannya dari ingatannya sendiri.
Dengan demikian seseorang tidak suka membangkit-bangkit jasa baiknya. Kalimat pepatah Jawa sebagai berikut: tulislah kebaikan orang lain kepada Anda di atas batu, dan tulislah kebaikan Anda pada orang lain di atas tanah agar mudah terhapus dari ingatan.Titik Lemah Jangan lekas puas dulu bila merasa sudah sukses menjalankan tataran ini. Sebab pencapaian tataran kedua ini semakin banyak ranjau dan lobang kelemahan yang kapan saja siap memakan korban apabila kita lengah. Penekanan di sini adalah pentingnya sikap eling dan waspadha. Sebab kelemahan manusia adalah lengah, lalai, terlena, terbuai, merasa lekas puas diri. Tataran kedua ini melibatkan hati dalam melaksanakan segala kebaikan dalam perbuatan baik sehari-hari. Yakni hati harus tulus dan ikhlas. Namun, ketulusan dan keikhlasan ini seringkali masih menjadi jargon, karena mudah diucapkan oleh siapapun, sementara pelaksanaannya justru keteteran. Dalam falsafah hidup Kejawen, setiap saat orang harus selalu belajar ikhlas dan tulus setiap saat sepanjang usia. Belajar ketulusan merupakan mata pelajaran yang tak pernah usai sepanjang masa. Karena keberhasilan Anda untuk tulus ikhlas dalam tiap-tiap kasus belum tentu berhasil sama kadarnya. Keikhlasan dipengaruhi oleh pihak yang terlibat, situasi dan kondisi obyektifnya, atau situasi dan kondisi subyek mental kita saat itu.

     Nung: sembah cipta Kesinungan, yakni dipercaya Tuhan untuk mendapatkan anugrah tertentu. Orang yang telah mencapai tataran Kesinungan dialah yang mendapatkan “hadiah”atas amal kebaikan yang ia lakukan. Ini mensyaratkan amal kebaikan yang memenuhi syarat, yakni kekompakan serta sinkronisasi lahir dan batin dalam mewujudkan segala niat baik menjadi tindakan konkrit. Yakni tindakan konkrit dalam segala hal yang baik misalnya membantu & menolong sesama. Syarat utamanya; harus dilakukan terus-menerus hingga menyatu dalam prinsip hidup, dan tanpa terasa lagi menjadi kebiasaan sehari-hari. Pencapaian tataran ini sama halnya laku hakekat. Laku hakekat adalah meliputi keadaan hati dan batin; sabar, tawakal, tulus, ikhlas, pembicaraannya menjadi kesejatian (kebenaran), yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada.Tataran ini ditandai oleh pencapaian kemuliaan yang sejati, seseorang mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan kelak setelah ajal. Pada tahap ini manusia sudah mengenalakan jati dirinya dan mengenal lebih jauh sejatinya Tuhan. Manusia yang telah lebih jauh memahami Tuhan tidak akan berfikir sempit, kerdil, sombong, picik dan fanatik. Tidak munafik dan menyekutukan Tuhan. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat menghormati keyakinan orang lain. Sikap ini tumbuh karena kesadaran spiritual bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersumber pada Yang Maha Tunggal, hakekatnya adalah sama. Cara atau jalan mana yang ditempuh adalah persoalan teknis. Banyaknya jalan atau cara menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan itu Mahaluas tiada batasnya. Ibarat sungai yang ada di dunia ini jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya; ada yang dangkal, ada yang dalam, berkelok, pendek dan singkat, bahkan ada yang lebar dan berputar-putar. Toh semuanya akan bermuara kepada Yang Tunggal yakni “samudra luas”. Nah, orang seperti ini akan “menuai” amal kebaikannya. Berkat rumus Tuhan di mana kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kebaikan yg anda berikan, “buahnya” akan anda terima pula. Namun demikian kebaikan yang anda terima belum tentu datang dari orang yang sama, malah biasanya dari pihak lainnya. Kebaikan yang anda peroleh itu merupakan “buah” dari “pohon kebaikan” yang pernah anda tanam sebelumnya. Selebihnya, kebaikan yang anda lakukan akan menjadi pagar gaib yang selalu menyelimuti diri anda. Singkat kata, pencapaian Nung, ditandai dengan diperolehnya kemudahan dan hikmah yang baik dalam segala urusan. Pagar gaib itu akan membuat kita tidak dapat dicelakai orang lain. Sebaliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Dalam terminologi Jawa inilah yang disebut sebagai “ngelmu beja”.Untuk meraih tataran ini, terlebih dahulu kita harus mengenal jati diri secara benar. Dalam diri manusia setidaknya terdapat 7 lapis bumi yang harus diketahui manusia. Jika tidak diketahui maka menjadi manusia cacad dan akan gagal mencapai tataran ini. Bumi 7 lapis tersebut adalah ; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat. 1.Bumi Retna, jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia. 2.Bumi Kalbu, artinya istana iman sejati. 3.Bumi Jantung, merupakan istana semua ilmu. 4.Bumi budi, artinya istana puji dan zikir. 5.Bumi Jinem, istananya kasih sayang sejati. 6.Bumi suksma, yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan; sukma sejati. 7.Bumi Rahmat, istana rasa mulia, rahsa sejati. Titik Lemah Nung, setara dengan Hakekat, di sini ibarat puncak kemuliaan. Semakin tinggi tataran spiritual, maka sedikit saja godaan sudah dapat menggugurkan pencapaiannya. Maka, semakin tinggi puncak dan kemuliaan seseorang ; maka semakin besar resiko tertiup angin dan jatuh. Seseorang yang merasa sudah PUAS dan BANGGA dengan pencapaian hakekat ini bersiko terlena. Lantas menganggap orang lain remeh dan rendah. Yang paling berbahaya adalah menganggap tataran ini merupakan tataran tertinggi sehingga orang tidak perlu lagi berusaha menggapai tataran yang lebih tinggi. 
     Nang: sembah rahsa, Nang, merupakan kemenangan. Kemenangan adalah anugrah yang anda terima. Yakni kemenangan anda dari medan perang. Perang antara nafsu negatif dengan positif. Kemenangan NUR (cahya sejati nan suci) mengalahkan NAR (api, ke-aku-an/”iblis”). Manusia NAR adalah seteru Tuhan (iblis laknat). Sebaliknya, manusia NUR adalah memenuhi janji atas kesaksian yang pernah ia ucapkan dimulut dan hati. Manusia NUR memenuhi kodratnya ke dalam kodrat Ilahi, sipat zat yg mengikuti sifat hakekat, menselaraskan gelombang batin manusia dengan gelombang energi Tuhan. Sifat zat (manusia) menyatu dengan sifat hakekat (Tuhan) menjadi “loroning atunggil“. Yang menjadi jumbuh (campur tak bisa dipilah) antara kawula dengan Gusti. Inilah pertanda akan kemenangan manusia dalam “berjihad” yang sesungguhnya. Yakni kemenangan terindah dalam kemanunggalan; “manunggaling kawula-Gusti“. Bila Anda muslim, di situlah tatar makrifat dapat ditemukan.
http://mustikakembar.blogspot.in/Tanda Pencapaian Neng, Ning, Nung, Nang

Senin, 09 Maret 2015

Notes kecil untuk dibaca ulang Jilid 2

Seperti biasa notes ini berisikan sebuah cerita sebagai perenungan kita akan kehidupan. Cerita ini merupakan tinjauan ulang artikel yang dipostkan sebelumnya, bila mencari nafkah didasari niat yang benar. Sungguh sulit untuk mendapatkan seorang perempuan yang qanaah dan ikhlas.  Sebuah cerita yang saya ambil dari http://www.smstauhiid.com/pengaruh-tabiat-istri-terhadap-cara-suami-mencari-nafkah/  ini akan menghantarkan kita akan kisah seorang pedagang kain yang dikunjungi oleh ulama pada jaman itu. Ceritanya baca sendiri saja ya! Hmmm... artikel ini akan membuat kita berpikir ulang dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kita. Akan tetapi masih relevankah pada masa kni? Meski tidak banyak pasti ada yang menerapakan cara mencari nafkah seperti ini. Semoga bermanfaat bagi kita.

Pengaruh Tabiat Istri Terhadap Cara Suami Mencari Nafkah
Hasan al-Bashri berkata:
“Aku datang kepada seorang pedagang kain di Mekkah untuk membeli baju, lalu si pedagang mulai memuji-muji dagangannya dan bersumpah, lalu akupun meninggalkannya dan aku katakan tidaklah layak beli dari orang semacam itu, lalu akupun beli dari pedagang lain."

2 tahun setelah itu aku berhaji dan aku bertemu lagi dengan orang itu, tapi aku tidak lagi mendengarnya memuji- muji dagangannya dan bersumpah, Lalu aku tanya kepadanya:”Bukankah engkau orang yang dulu pernah berjumpa denganku beberapa tahun lalu?” Ia menjawab : “Iya benar.” Aku bertanya lagi:”Apa yang membuatmu berubah seperti sekarang? Aku tidak lagi melihatmu memuji-muji dagangan dan bersumpah!” 
Ia pun bercerita:”Dulu aku punya istri yang jika aku datang kepadanya dengan sedikit rizki, ia meremehkannya dan jika aku datang dengan rizki yang banyak ia menganggapnya sedikit. Lalu Allah mewafatkan istriku tersebut, dan akupun menikah lagi dengan seorang wanita. Jika aku hendak pergi ke pasar, ia memegang bajuku lalu berkata:’Wahai suamiku, bertaqwalah kepada Allah, jangan engkau beri makan aku kecuali dengan yang thayyib (halal). Jika engkau datang dengan sedikit rezeki, aku akan menganggapnya banyak, dan jika kau tidak dapat apa-apa aku akan membantumu memintal (kain)’.
”Masya Allah…Milikilah sifat Qana’ah -suka menerima- / jiwa selalu merasa cukup. Biasanya Wanita (Istri) sering TERJEBAK pada KEINGINANnya tuk terlihat Cantik dgn Pakaian yg Serba Mahal. Janganlah menjadi jurang dosa bagi Suamimu. Wanita shalihah akan mendorong Suaminya kepada kebaikan, keta’atan sedangkan wanita kufur akan menjadi pendorong bagi suaminya untuk berbuat dosa, kemakshiatan.CUKUPKAN DIRI DGN YG HALAL & BAIK. Ukuran Rizki itu terletak pada keberkahannya, bukan pada jumlahnya.

[Kitab al-Mujaalasah wa Jawaahirul ‘Ilm (5/252) karya Abu Bakr Ahmad bin Marwan ].

Selasa, 16 Desember 2014

Kenapa Tahan

Suatu ketika saat aku termenung melihat kebelakang tentang kehidupanku, aku teringat peristiwa saat kenal dan dekat dengan seorang perempuan. Singkat cerita aku mengingat sebuah kejadian ketika dia menanyakan perihal kehidupan yang aku jalani. Aku pun bercerita tentang diriku apa adanya. Dia mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian. Aku menjelaskan tentang segalanya, hobiku sebagai pemandu olahraga, pekerjaan sebagai guru sebuah madrasah (yang pada kesimpulan akhirnya dia menganggap bukan sebuah pekerjaan), dan beberapa permasalahan yang sedang aku hadapi. Awalnya dia antusias dan memberi semangat selalu kepadaku. Pada akhirnya responnya tak seperti apa yang aku imajikan. Namun dia hanya tersenyum. Entah setuju entah tidak. Aku tak yakin apa arti senyumnya itu. Dan akhirnya senyum itu ternyata senyum kecewa, tidak seperti yang selalu aku lihat saat-saat bertemu. Memang manusia selalu mampu berubah, rasa pun mengikuti alur naluri untuk menuntut hidup yang layak bukan hidup yang wajar dan sederhana. Aku menyadari bahwa sekolah swasta tidak menjanjikan kelayakan hidup, namun mendidik dan mengajari, ada nikmat tersendiri. Tapi tetap saja dia menyerahkan semua kepadaku. Ya tentu saja aku membutuhkan dia meski dia tidak membutuhkan aku dan dia lebih membutuhkan restu bapak dan ibunya. Apa hal ini peribahasa bahwa dia ingin mengakhiri jalinan teman dekat ini. Adakah yang salah saat menjadi pemandu olahraga agar anak didiknya meraih prestasi? Apakah memang tidak ada orang yang menghargai sedikitpun jerih payah seorang tenaga mengajar kesana kemari? Memang penghasilan yang tidak seberapa bahkan tidak bisa menutupi untuk hidup keseharian. Tapi menghargai dan menghormati profesi yang sedang diemban tidaklah memerlukan uang. Memang jalan hidup setiap orang berbeda. Tapi bila memang dia mengharap kebaikan dariku dan ingin aku berubah lebih baik, haruskah dia mendukung? Ya bila saling mendukung apa selalu harus ada hasilnya? Bagaimana prosesnya? Tidakkah dia ingin tahu atau memang tidak peduli? Apa yg penting? Jika aku gagal dalam penghasilan untuk hidup yang layak namun aku mampu membantu orang lain mendapat prestasi dalam pelajaran favoritku dan lulus di kehidupan di masa depanya atau hal lainnya, layakkah aku disebut gagal?
Memang aku membutuhkan rasa  cinta dan sayang darimu tapi aku lebih membutuhkan sedikit rasa hormat terhadap pekerjaan yang aku kerjakan.
Petikan dari sebuah film Bollywood :Ketika kau tidak menyukai dirimu sendiri kau cenderung tidak menyukai segala hal yg berhubungan denganmu. Hal-hal baru terlihat lebih menarik. Ketika kau belajar untuk mencintai diri sendiri maka kehidupan lama mulai terlihat baru, mulai terlihat menyenangkan.